
“Kembali ke rumah sekarang juga!” Papa Crist berteriak sembari membentak El Barack di seberang sana, bahkan bukti dari Jessica saja telah ia pegang. Tanpa mendengar jawaban anaknya papa Crist segera mematikan sambungan telfonnya dan duduk di samping istrinya.
El Barack mendengar teriakan papa Crist menjadi khawatir sendiri, ia tak pernah mendengar papanya berteriak seperti tadi semarah apapun papanya. Namun tampaknya kali ini papanya benar benar dalam keadaan emosi yang sangat amat mengerikan. Entah apa salahnya kali ini ia bingung sendiri.
Perlukah othor yang mengingatkan? Atau harus ku kirim pentungan segede monas agar engkau sadar?
El Barack segera mengemudikan mobilnya menuju rumah besarnya, ia tak ingin menambah kemarahan papa Crist yang pasti akan membuat dirinya dalam masalah besar. Memang ia merupakan anak kebanggan papa Crist namun ketika dirinya melakukan kesalahan papa Crist pasti tak akan segan segan memberinya sebuah hukuman yang cukup berat.
Tin tin...
Pintu gerbang besar tersebut segera di buka oleh satpan, laki laki paruh baya itu tampak membungkuk, setelah kepergian nona mudanya tadi, kini tiba tiba tuan mudanya kembali di jam yang tak seperti biasanya, ini sedikit membingungkan. Namun apalah daya ia hanya pekerja di rumah tersebut yang di bayar hanya untuk membuka dan menutup gerbang saja, karena jika untuk penjagaan sendiri di sepanjang rumah tersebut telah terdapat pengawal ketat yang mungkin saja jika semut berbahaya yang datang, mereka akan siap siaga untuk mencegahnya.
El Barack masuk dengan sedikit terburu buru, ia menemui maid yang tampak tengah membersihkan rumah tersebut, meski terkadang ia bingung untuk apa beberapa maid dengan rutin membersihkan teras yang bahkan terlihat begitu rapi dan bersih setiap saat, karena rumah sendiri jauh dari gerbang utama, sehingga debu pun minim yang masuk.
“Mama sama papa di mana?” El Barack mencoba mengatur wajahnya agar terlihat santai, meski sebenarnya hatinya di landa rasa khawatir terhadap kemarahan papanya.
Sementara maid yang telah mengetahui permasalahan antara menantu dan anak majikannya sedikit menelan ludah kasar. “Mampus den,” kata itu hanya mampu di ucapkan di dalam hati saja. “Di ruang keluarga den.”
Mendengar penuturan sang maid El Barack segera berjalan dengan tegap ke arah ruang keluarga, di sana telah tampak, papa, mama dan....
El Barack bingung tak melihat istrinya di sana, El Barack sedikit menghela nafasnya. Mungkin saja istrinya saat ini masih berada di kamarnya, atau tengah pergi berolah raga. Pasalnya akhir akhir ini istrinya merubah hampir seluruh jadwalnya, sehingga El Barack tak lagi menghapal jadwal istrinya terlebih ia disibukkan dengan selingkuhannya.
“Mah pah ada apa?” El Barack tampak bingung, dan segera bertanya kala ia berada di ambang ruang keluarga.
“Duduk,” ucapan tersebut terdengar lirih keluar dari bibir mama Emy membuat hati El Barack terenyuh mendengarnya, mamanya tak pernah sesedih ini setelah mereka kehilangan anak kedua keluarga tersebut. Bahkan El Barack dapat melihat sisah sisah air mata mamanya, El Barack sungguh tak tega melihat hal tersebut.
“Mah...” El Barack berucap lirih sembari duduk di hadapan kedua orang tuanya.
Brak...
Mata El Barack membesar ketika melihat foto foto dirinya dan Yanti berserakan di atas meja yang ayahnya lempar. Ini memang bukan tamparan yang menyakitkan namun entah kenapa ia merasa lebih baik ia di tampar dan di pukuli oleh ayahnya.
“Jelaskan?”
Nafas El Barack tercekal mendengar ucapan papa Crist yang terdengar tenang, ia memandangi papa Crist, mama Emy dan kini ia teringat istrinya, apa karena ini istrinya tak ada di tempat ini? Jantung El Barack seolah ingin lepas dari tempatnya.
Suara papa Crist semakin meninggi, ia geram melihat anak laki laki nya terdiam ketika melihat semua bukti yang ia lemparkan ini.
“Maaf pa, a...aku khilaf,” ujar El Barack menunduk. Ia tak berani melihat wajah kedua orang tuanya.
“Khilaf? Perselingkuhan itu bukan khilaf,” ujar mama Emy dengan suara bergetar.
“Aku benar benar khilaf ma,” El Barack berusaha membela dirinya.
“Khilaf tapi berudaha meluangkan waktu, mencuri cara dan memikirkan segala hal agar tidak di ketahui? Itu yang di sebut khilaf,” papa Crist terkekeh mendengar jawaban anaknya.
El Barack semakin menunduk mendengar penuturan papa Crist, itu semua benar adanya. Sungguh tidak masuk logika jika ia mengatakan khilaf selama tiga bulan.
“El akan mengakhirinya,” ujar El Barack memandang ke arah kedua orang tuanya. “Tapi El mohon jangan beritahu Jessica.”
El Barack takut kebenaran ini akan membuat istrinya membencinya, terlebih ia sangat mengetahui masalalu istrinya itu. Penyebab ia tak mendapatkan kasih sayang seorang ayah yaitu perselingkuhan, dan perselingkuhan pula yang membuat kedua orang tuanya bercerai. Jika istrinya tahu maka ia sama saja mengulang masalalu kelam istrinya, ia akan sangat menyesal akan hal itu.
“Hahaha...” papa Crist justru tertawa mendengar penuturan El barack, anaknya. “Kau tahu, dia yang memberitahukan semua ini dan memberi kami semua bukti ini. Dia membuktikan bahwa anak kami ini ternyata seorang b@jing@n, bren9sek.”
Duar...
Jantung El Barack hampir berhenti mendengarkan penuturan papa Crist, kakinya seakan lemas di buatnya ia kembali teringat ucapan istrinya sebelum mereka menikah.
“Kedua orang tuaku berpisah karena perselingkuhan, karena itu aku membenci ibu tiriku, dan tidak pernah dekat dengan ayah ku. Berjanjilah kepadaku agar tidak pernah mencoba menghadirkan orang ketiga di dalam rumah tangga kita, karena aku sangat membenci hal tersebut.”
Ucapan tersebut terngiang di kepala El Barack, laki laki itu segera berlari ke arah kamarnya yang berada di lantai dua, tanpa menghiraukan kedua orang tuanya yang tampak sangat amat kecewa kepadanya. Ia membuka kamar itu secara buru buru, menghidupkan lampu kamarnya yang tampak sangat gelap. El barack menghela nafasnya ketika melihat semua tertata rapi, ia segera berjalan pelan ke arah ruang ganti, dan kakinya melemas ketika melihat koper dan pakaian istrinya telah lenyap, hanya beberapa yang tertinggal.
Laki laki yang terkenal angkuh itu menjatuhkan badannya, kakinya tak mampu menopang tubuhnya. Tubuhnya luluh menyentuh lantai nan licin tersebut. Ia menyadari satu hal, istrinya telah pergi meninggalkannya. Laki laki itu terisak menangis dan berteriak di dalam ruang gantinya.
El Barack memasuki kamarnya kembali pandangannya tertuju ke arah tempat tidur, ia menyusuri setiap sudut tempat tidur tersebut, kepingan ingatan kebersamaan bersama istri kini kembali terbentuk.
Matanya tanpa sengaja menangkap sebuat cincin pernikahan merek ada juga kalung hadiah pernikahan mereka yang telah menginjak lima tahun, El Barack mendekat ke arah kedua benda yang begitu sangat berarti untuknya saat ini. Ia sangat takut istrinya akan benar benar membencinya bahkan meninggalkannya.
penasaran baca selanjutnya? yuk segera baca di novel terbaru othor I'm not crazy (please love me) ini versi di perbarui loh.