
“Aaa… buak mulutmu.” Kata pangeran Zang Limo.
Mendengar hal tersebut Gu Ana segera membuka mulutnya untuk segera mengisi perutnya yang sudah berdemo sejak tadi.
“Sudah, aku sudah kenyang.” Kata Gu Ana setelah beberapa suap masuk ke mulutnya.
“An’er kau baru makan beberapa suap saja, jangan begitu kau belum makan apa apa selama beberapa hari ini, ayo makan beberapa suap lagi.” Bujuk pangeran Zang Limo.
“Limo aku sudah kenyang, aku tak mau lagi.” Kata Gu Ana dengan nada manja.
Mendengar hal tersebut sontak membuat pangeran kembali menyuapkan bubur kemulut Gu Ana.
“Ayo dua suap saja, setelah itu aku tak akan memaksakan mu lagi.” Kata pangeran Zang Limo kepada Gu Ana.
Mendengar bujukan tersebut, Gu Ana segeran membuka mulutnya untuk kembali memakan bubur tersebut, hingga suapan kedua. Pangeran Zang Limo kemudian memberikan air minum kepada Gu Ana.
Setelah memakan makanannya kini pangeran Zang Limo merebahka badannya di samping Gu Ana yang masih terduduk di atas tempat tidurnya.
“Berjanjilah ini untuk terakhir kalinya.” Kata pangeran Zang Limo tiba tiba.
“Hm…” kata Gu Ana menjawab pertanyaan pangeran Zang Limo.
Mendengar jawaban Gu Ana, pangeran Zang Limo mengangkat wajahnya memandang Gu Ana.
“Apa kau tak menyukai keberadaanku disini?” tanya pangeran Zang Limo memeluk perut Gu Ana.
“Tidak, aku hanya sedikit bingung saja dengan keadaan saat ini.” Kata Gu Ana dengan wajah datar.
Mendengar kata kata Gu Ana pangeran Zang Limo mempererat pelukannya, sehingga kini wajah pangeran Zang Limo berada di atas perut Gu Ana.
“Emh… pangeran geli.” Kata Gu Ana berusaha melepaskan pelukan pangeran Zang Limo dari perutnya.
“Aku merindukanmu.” Kata pangeran Zang Limo.
Mendengar kata kata pengeran Zang Limo Gu Ana mengerutkan dahinya.
“Apa? Memangnya dimana aku selama ini dirawat?” tanya Gu Ana bingung.
“Tentu saja di sini, setiap malam aku menjagamu berharap kau akan bangun.” Kata pangeran Zang Limo dengan sendu.
“Terimakasih telah menjagaku, maaf membuatmu khawatir lagi, selama ini pasti kau sangat lelah menjagaku.” Kata Gu Ana dengan nada sendu.
“Apa kau merasa bersalah padaku?” tanya pangeran Zang Limo kepada Gu Ana.
“Iya.” Kata Gu Ana jujur.
“Kalau begitu cium aku.” Kata pangeran Zang Limo tersenyum jahil.
Melihat pangeran Zang Limo tersenyum jahil kepadanya membuat Gu Ana tersenyum Ia sangat merindukan pria ini.
Cup.
Gu Ana mendaratkan kecupan singkat di bibir pangeran Zang Limo. Sedangkan pangeran Zang Limo yang mendapatkan kecupan di bibir menjadi salah tingkah, karna awalnya Ia mengira Gu Ana akan menciumnya di bagian pipi atau yang lainnya.
“Kenapa ekspresimu begitu? Apa kau tak menyukainya?” goda Gu Ana kepada pangeran Zang Limo.
“Ti… tidak.” Kata pangeran Zang Limo masih dalam mode salah tingkah.
“Tidak apa?” Goda Gu Ana kembali.
“Tidak… a… aku menyukainya.” Jawab pangeran Zang Limo terbata bata, karna gugup terus digoda oleh Gu Ana.
Melihat tingkah pangeran Zang Limo membuat Gu Ana merasa bahwa pangeran Zang Limo seperti seorang gadis muda yang digoda oleh pangeran tampan.
Mendengar hal itu membuat pangeran Zang Limo sadar akan posisinya saat ini, sungguh pangeran Zang Limo menjadi tambah malu dibuatnya, bahkan bukanhanya wajahnya yang semerah tomat namun kini Gu Ana dapat melihat dengan jelas bahwa telinga Pangeran Zang Limo kini memerah.
Melihat salah tingkah pangeran membuat Gu Ana semakin gemas di buatnya, sedangkan pangeran Zang Limo kini semakin menenggelamkan wjahnya di perut Gu Ana.
“Kau tahu kini kau seperti seorang Gadis yang salah tingkah saat digoda oleh pangeran tampan.” Kata Gu Ana sambil mengusap kepala pangeran Zang Limo.
Tampa aba aba raja Zang Zuan dan ratu Xu Yian menjenguk Gu Ana, namun mereka terkejut dengan pemandangan pangeran Zang Limo sedang bermanja diperut Gu Ana.
Melihat kedatangan raja Zang Zuan dan ratu Xu Yian membuat Gu Ana terkejut, saat Gu Ana ingin membangunkan pangeran Zang Limo, ratu Xu Yian menghentikannya dengan isyarat menggeleng gelengkan kepalanya.
Raja Zang Zuan dan ratu Xu Yian mendekati Gu Ana dan membisikkan sesuatu. Setelah membisikkannya kemudian Gu Ana buka suara.
“Pangeran bagaiman jika ada yang melihatmu begini?” tanya Gu Ana.
“Tentu akan sangat memalukan, tapi kan hanya ada kita di sini.” Kata pangeran Zang Limo.
“Bagaimana jika ada yang melihat?” tanya Gu Ana lagi.
“Ayolah aku ini tunangan mu, tunangan pangeran Zang Limo, jangan cemas.” Kata pangeran Zang Limo.
Sedangkan raja Zang Zuan dan ratu Xu Yian menahan tawa saat mendengar pernyataan dari pangeran Zang Limo. Kemudian kembali membisikkan sesuatu di telinga Gu Ana.
“Apa begitu nyaman kau di sana?” tanya Gu Ana kembali sambil menahan tawa.
“Em… sangat nyaman.” Jujur pangeran Zang Limo.
Saat yang bersamaan putra mahkota Zang Liue, pangeran Zang Jade dan pangeran Zang Handrong masuk. Betapa terkejunya mereka melihat posisi pangeran Zang Limo saat ini yang sedang bermanja di atas perut Gu Ana sambil menenggelamkan wajahnya. Belum selesai keterkejutan mereka, mereka melihat raja Zang Zuan dan ratu Xu Yian menggeleng ke arah mereka agar tetap diam.
Ratu Xu Yian kembali membisikkan sesuatu di telinga Gu Ana.
“Misalnya ni, bagaimana kalau Raja, Ratu, dan para Pangeran melihatmu dengan posisi ini?” tanya Gu Ana.
“Mereka pasti akan mengolok olokku, kau tahu saat Ayahanda mengetahui kejadian saat di pafiliumku aku menciummu saat berada dalam pangkuanku, dan Ayah menceritakannya mereka semua mengejekku, aku sangat malu saat itu.” Kata pangeran Zang Limo mempererat pelukannya, dan mencari kenyamanan.
Pangeran Zang Handrong mendekati Gu Ana lalu ikut memberikan bisikan juga.
“Salam Yang Mulia…” kata Gu Ana tiba tiba.
Mendengar salam Gu Ana membuat pangeran Zang Limo sontak menghadap ke arah pintu masuk, namun yang di dapatkan hanyalah ruang kosong. Semua yang ada menahan tawa terkecuali Gu Ana yang sudah tak tahan lagi menahan tawa.
“Kau berbohong padaku.” Kata pangeran Zang Limo kembali menenggelamkan wajahnya di perut Gu Ana.
“Tidak…” kata Gu Ana lagi.
Mendengar kata kata Gu Ana sontak membuat pangeran mendongakkan wajahnya kearah Gu Ana. Kemudian bangkit dan mencubit Gu Ana dengan Gemas, namun tidak melihat adanya keberadaan orang lain karan saat ini mereka berada di belakang pangeran Zang Limo.
Sedangkan Gu Ana saat ini masih tidak dapat menahan tawany, Ia terus tertawa hingga membuatnya mengeluarkan air mata, buakan pangeran yang Ia tertawakan, namun sekelompok orang yang berada di belakang pangeran Zang Limo yang Ia tertawaka, wajah mereka yang menahan tawa hingga memerah membuat Gu Ana tak dapat menahan tawanya.
Melihat Gu Ana masih tertawa membuatnya sedikit geram, hingga memikirkan cara untuk menghentikan tawa Gu Ana.
Cup.
Pangeran Zang Limo mendaratkan bibirnya ke bibir Gu Ana, sehingga membuat Gu Ana terkejut, kini wajahnya memerah karna ciuman kali ini disaksikan langsung oleh keluarga kerajaan. Gu Ana mencoba melepaskan ******* pangern Zang Limo yang saat ini masih menikmati permainannya sendiri.
Pangeran Zang Limo semakin memperdalam lumatannya, meskipun merasa adanya penolakan Gu Ana, namun pangeran Zang Limo tetap memperdalam lumatannya, ditambah rasa rindunya terhadap gadis ini.
“Ehem…” kata raja Zang Zuan menyadarkan pangeran Zang Limo kehadirannya.
Mendengar deheman raja Zang Zuan membuat pangeran Zang Limo menghentikan aktifitasnya. Sementara wajah Gu Ana sudah semerah tomat menahan malu. Pangeran Zang Limo memutar badannya kea rah belakang dan mendapati dirinya menjadi tontonan kedua orangtuanya dan para saudaranya.