It'S Me

It'S Me
Episode 35



“Who are you?” tiba-tiba pangeran Nan Cheng bertanya, sontak membuat mereka yakin bahwa pangeran Nan Cheng sama seperti mereka.


“Abad 21?” tanya Gu Min kembali.


“Hm… Jhason William, disini pangeran Nan Cheng.” katanya pangeran Nan Cheng.


“Armin Leihard dan ini Maxim Harron, sedangkan yang didalam Ariana.” kata Gu Min memperkenalkan identitas mereka yang sebenarnya.


“Ariana Hanvei?” tanya pangeran Nan Cheng.


“Bagaimana kau tahu?” selidik Gu Jun.


“Aku sahabatnya bagaiman mungkin aku tak tahu, bahkan saat dia melihat tua Bangka itu, ia masih bergetar hingga sekarag.” kata Nan Cheng menggeram.


“Siapa si tua Bangka?” tanya Gu Min penasaran.


“Raja Bei Qing.” kata pangeran Nan Cheng.


“Apa?” pekik Gu Min dan Gu Jun bersamaan.


“Ia dulu saat umurnya 5 tahun Ia pernah di culik dengan orang yang mirip Raja Bei Qing itu.” jelas pangeran Nan Cheng menahan amarah.


“Kau tahu? Bahkan dikehidupan ini Gu Ana hampir di nodai oleh mereka.” kata Gu Jun dengan emosi yang meluap-luap.


“Apa?” kini giliran pangeran Nan Cheng yang berteriak.


“Tolong… Tolong… Tolong aku.” suara itu kini muncul lagi dari mulut Gu Ana yang sudah sejak tadi mengigau, meski sudah ditenangkan oleh tuan Gu.


“Ayah bagaimana keadaan An’er?” tanya Gu Min tiba-tiba masuk di antara mereka, Gu Min terkejut melihat keadaan Gu Ana yang semakin parah, demamnya semakin tinggi.


“Tabib bagaimana dengan An’er?” tanya Tuan Gu kepada tabib menghiraukan pertanyaan Gu Min.


“Saya sudah memberi obat penenang kepada nona Gu, seharusnya dia sudah tenang sekarang.” Kata tabib menjelaskan.


“Sebaiknya dia istirahat, dan sebaiknya kita jangan membahas tentang hari ini.” Kata pangeran Nan Cheng kepada sembari memandang Gu Ana.


“Baiklah aku dan Ratu akan kembali kekediaman.” kata Raja Zang Zuan.


“Ah… iya kami juga akan kembali.” kata yang lain.


“Terimakasih atas perhatiannya yang mulia.” kata tuan Gu.


“Pangeran Limo aku kira kau akan ikut mereka?” goda pangeran Nan Cheng.


“Aku ing…” ucapan pangeran Zang Limo terpotong oleh kedatangan seseorang.


“Ehem…” tiba-tiba pangeran Zang Jade muncul di antara mereka.


“Ah… Gege Jade, ada apa?” tanya pangeran Nan Cheng dengan santai, sambil mengangkat alis sebelah kirinya.


“Aku tertinggal sesuatu.” kata pangeran Zang Jade sambil menarik tangan pangeran Zang Jade dan pangeran Nan Cheng.


“Gege bisa kah aku tinggal lebih lama sedikit? Aku sangat mencemaskan An’er.” pinta pangeran Zang Limo seperti anak kecil.


“Ya, bisakah aku tinggal lebih lama?” tanya pangeran Nan Cheng.


Mendengar pertanyaan dari pangeran Zang Limo dan pangeran Nan Cheng membuat pangeran Zang Jade memandang mereka dengan pandangan horror.


Melihat pandangan pangeran Zang Jade, pangeran Nan Cheng tersenyum.


“Ah tapi sepertinya aku sangat lelah hari ini, jadi aku memutuskan untuk kembali ke kediamanku.” katanya sambil meguap, dan berlalu meninggalkan mereka.


“Bagaimana dengan mu?” tanya pangeran Zang Jade menatap tajam pangeran Zang Limo.


“Aku tetap di sini.” ucap pengeran Zang Limo mantap.


“Huh… sudah lah, asalkan kau jangan macam macam.” ucap pangeran Zang Jade tersenyum, sambil meninggalkan pangeran Zang Limo.


Sungguh, pangeran Zang Limo kira kan sangat sulit mendapatkan izin dari Gegenya satu itu, namun tidak seperti yang di bayangannya. Pangeran Zang Limo melangkah kembali malangkah masuk kedalam ruangan Gu Ana.


“Kalian beristirahatlah, biar aku yang menjaga An’er.” perintah pangeran Zang Limo.


“Tapi pangeran…” Tuan Gu ingin membantah namun dihentikan oleh Gu Jun dengan Gelengan.


“Ini perintah.” Kata pengeran Zang Limo.


Setelah mereka semua keluar, kini tinggalah pangeran Zang Limo dan Gu Ana di dalam ruangan tersebut. Pangeran Zang Limo tersenyum melihat Gu Ana yang sedang tertidur pulas, kemudian merebahka badannya disamping Gu Ana, memandang wajah gadis tersebut.


Menurutnya pemandang wajah gadis tersebut merupakan hal yang mengasyikkan, banyak ekspresi dan emosi yang ditampilkan gadis itu membuatnya selalu tertarik melihat gadis itu. Entah kapan itu dimulai, namun gadis tersebut selalu membuatnya merasa takut kehilangan.


“Jangan menangis lagi, aku tak suka melihatmu manangis, kau mengerti? Tidurlah dengan nyeyak, aku aka nada di sampingmu menjagamu.” kata pangeran Zang Limo, sambil membelai wajah Gu Ana, lalu mengecup kening Gu Ana.