
Dengan segala cara bujukan akhirnya Arian, bangun dan segera menuju kamar mandi. Arkan segera berdiri, dan membuka beberapa gorden yang menghalau cahaya masuk, di kamar Ariana.
"Sayang mas tunggu di balkon." kata Arkan kepada Arian yang saat ini berada di Kamar Mandi.
"Iya Mas." teriak Ariana sembari mencuci wajahnya.
Arkan memandang pemandangan, yang tersaji di balkon Kamar Ariana. Perumahan yang benar benar elit, bahkan setiap rumah di lengkapi dengan taman yang cukup besar, serta tembok yang menjulang tinggi.
...
Arkan tengah asyik memandangi taman, tidak merasakan kehadiran Ariana yang sejak tadi, berdiri di sampingnya.
"Mas lagi liat apa?" tanya Ariana mengagetkan Arkan.
Arkan hanya tersenyum, melihat Ariana yang tampak sedang memasang senyum ke arahnya, meski sisa sisa lelahnya masih terlihat, di wajah imutnya.
Arkan menarik tangan Ariana untuk duduk di pangkuannya, kemudian mencium pipi Arian sekilas.
"Sarapan dulu sayang, biar mas yang suapin." kata Arkan, dengan tangan Kiri masih memeluk, pinggang Ariana.
"Iya tapi Ana duduk dulu." kata Ariana mencoba untuk bangkit.
"Tidak sayang, biar mas peluk aja ya." kata Arkan sambil memeluk erat pinggang Ariana.
Arkan pun mulai menyuapai Ariana, sedangkan Ariana hanya tersenyum menerima perlakuan, manis tersebut. Ariana mengalihkan tangannya di leher Arkan, agar tidak jatuh, sehingga membuat Arkan semakin mempererat pelukannya.
Setalah sarapa Ariana habis, Arkan segera mengambilkan minum Ariana, kemudian memberikan kepada Ariana.
"Sayang Mas mau menjelaskan yang kemarin, kemarin mas ga sengaja, itu cuman salah faham." kata Arkan mencoba menjelaskan, membuat Ariana mengerutkan keningnya.
Ariana yang tahu kejadian yang sebenarnya, sungguh tidak ada niatan untuk marah, Ariana hanya pergi terburu buru, karena ada tugas yang memang harus di lakukan.
"Yang mana Mas?" tanya Ariana pura pura polos, bermaksud menggoda Arkan.
Arkan yang tau dirinya di goda segera memeluk Arian dengan erat, dan mencium pipi Ariana dengan gemas.
"Sayang mas serius." keluh Arkan, sambil menenggelamkan kepalanya di leher Ariana.
"Iya masalah kesalah fahaman kemarin." kata Arkan akhirnya. "Mas habis ngajar, sekali tiba tiba dia masuk ke ruangan mas, dan bergelayut di tangan mas, sumpah mas ga suka, mas cuman suka nya sama kamu." jelas Arkan, sambil kembali menenggelamkan kepalanya.
Ariana tampak sedikit berfikir, membuat Arkan sedikit gemas melihatnya, kemudian mengeratkan pelukannya.
"Sayang percaya sama Mas ya, Mas cintanya sama kamu." kata Arkan kembali menenggelamkan kepalanya, lebih dalam di leher Ariana. Ariana merasakan kepala Arkan menekan lebih dalam, menjadi sedikit merasa geli.
"Cara apa yang bisa mas buktikan, Ana sih mau bukti bukan omong doang, kalau kata teman teman Ana Omdo." kata Ariana sedikit menjauhkan kepalanya karna merasa geli.
Arkan yang merasa kepala Ariana menjauh, sedikit kesal. Arkan merasa Ariana benar benar cemburu, ada rasa bangga dan bahagia ketika mengetahui gadis nya cemburu, namun ada juga rasa sedih, karna merasa gadis itu menjauhinya.
"Sayang maaf sayang, Mas janji kalau dia ada Mas bakal langsung usir, maaf banget ya sayang." kata Arkan dengan nada sendu. Ada rasa tidak tega, dengan mengerjai kekasihnya ini. Namun Ariana sedikit menikmati wajah memelas Arkan. "Sayang..." kata Arkan menarik Ariana ke dalam pelukannya, sambil menyandarkan kepala Ariana di dalam dada bidangnya. "Sayang maaf." kata Arkan sekali lagi, yang benar benar membuat Ariana tak dapat menahan tawanya.
"Aduh Mas ku ini gemoy sekali." kata Ariana dengan tawanya yang memecah. Mendengar tawa Ariana, membuat Arkan memandang Ariana dengan bingung.
"Sayang kenapa ketawa." kata Arkan, sambil terus memandang Ariana. "Sayang aku nanya loh, jangan ketawa aja." kata Arkan gemas dengan Ariana, yang terus saja menertawakannya.
"Sayang kamu itu loh, lucu." kata Ariana mulai menghentikan tawanya. "Aku Kan ga marah sama kamu." kata Ariana sambil menstabilkan nafasnya.
"Jadi kemarin kenapa kamu langsung pergi kemarin?" tanya Arkan, melonggarkan pelukannya.
"Kemarin malas aja liat dosen kecentilan itu." kata Ariana dengan nada sedikit kesal, jika mengingat cara pandang Dewi, saat memandanginya. "Terus pas keluar dari ruangan Mas, Letkol nelfon, dia bilang ada yang mendesak, dan Ana harus ikut, jadi Ana ga sempat ngomong sama mas, karna bisa menunda nunda waktu. Apa lagi ini menyangkut banyak nyawa orang." jelas Ariana memandang wajah Arkan, yang hingga saat ini masih memangkunya.
"Mas Ana minta maaf ya, ga ngasih tau kamu, Ana juga minta maaf udah bikin kamu khawatir, sampai sampai tidur di ruang tamu, buat nungguin Ana." kata Ariana memandangi wajah tampan Arkan, yang saat ini tersenyum menawan, saat mendengarkan penuturan Ariana.
Arkan membelai wajah Ariana dengan sangat lembut, penuh kasih sayang. Kemudian mengecup kepala Ariana.
"Ana percaya kok sama mas, jadi mas jangan macam macam ya." kata Ariana tersenyum ke arah Arkan.
...
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanya banyaknya telah mendukung, e, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.
Maaf teman teman jaringanku error ini aku harus bersabar, dan bersabar bisa upload