
Cukup lama mereka berbincang-bincang, tiba-tiba pangeran Zang Handrong, dan pangeran Nan Cheng menghampiri mereka.
“Hayo… kalian sedang apa?” tiba-tiba pangeran Nan Cheng mengejutkan Gu Ana dan pangeran Zang Limo, sembari duduk di samping pangeran Zang Limo.
“Kami sedang mengatur lomba balap karung, dan makan kerupuk untuk mu.” Kata Gu Ana ketus kepada pangeran Nan Cheng.
“Aiss… apa sebegitu tidak ingin di ganggunyakah kalian berdua?” Goda pangeran Zang Handrong.
“Gege, bukan begitu, hanya saja An’er sedikit kesal dengan mulut ember ini.” Kata Gu Ana, sambil menunjuk pangeran Nan Cheng.
Sedangkan yang di tunjuk hanya cengengesan tak karuan melihat kekesalan Gu Ana.
“Kau tertinggal sesuatu yang menarik tadi pagi Handrong.” kata pangeran Nan Cheng sambil tersenyum jahil kepada Gu Ana.
Melihat hal tersebut Gu Ana langsung saja menutup mulut pangeran Nan Cheng.
“Ah… diam.” sentak Gu Ana kepada pangeran Nan Cheng.
“Baiklah aku diam dan tak mengatakan bahwa tadi pagi Limo memelukmu saat kita hendak mengunjungimu.” Kata pangeran Nan Cheng dengan wajah polosnya.
“Ya ampun pangeran Nan Cheng, sebegitu menariknya kah kisah kami? Atau pangeran hanya iri karna selama ini belum pernah di peluk wanita? Sebegitu kesepiannya kah pangeran Nan Cheng?” tanya Gu Ana tersenyum manis kepada pangeran Nan Cheng, sambil menaik turunkan alisnya.
“Ah… tidak juga.” Bantah pangeran Nan Cheng.
“Ah… betulkah? Lalu dengan siapa? Dengan kekasihmu? Ah… aku baru ingat bahwa kau tak ada kekasih, kenapa apa karna kau terlalu buruk rupa? Aku rasa sebaiknya kau menunggu Belle mu untuk menjemput pangeran buruk rupa sepertimu.” Kata Gu Ana tersenyum puas kearah pangeran Nan Cheng.
Setelah perdebatan cukup lama yang berakhir dengan perkelahian antara Gu Ana dan pangeran Nan Cheng, karna di antara mereka tidak ada yang mau mengalah maka mereka memutuskan untuk memisahkan mereka berdua. Pangeran Zang Handrong membawa pangeran Nan Cheng ke mensionnya, sementara pangeran Zang Limo membawa Gu Ana menuju belakang taman Istana yang dipenuhi hamparan bung.
Namun sebelum mereka sampai ke tujuan yang mereka maksud, Gu Ana tanpa sengaja melihat Xu Jiang dan jendral Li Zong tangah bergandengan tangan, sesekali jendral Li Zong mencium tangan Xu Jiang, hingga gadis tersebut tersipu malu di gazebo yang mengarah ke taman bunga.
“Hust…” kata Gu Ana menghentikan langkah pangeran Zang Limo.
“Ada apa?” tanya pangeran Zang Limo keheranan.
“Lihat itu.” Kata Gu Ana menunjuk ke arah Xu Jiang, dan jendral Li Zong sambil tertawa kecil, sedangkan pangeran Zang Limo menoleh kearah yang ditunjuk Gu Ana.
“Aiss… mereka itu sedang berpacaran pangeran.” Kata Gu Ana mencoba menjelaskan kepada pangeran Zang Limo.
“Pacaran? Apa itu? Aku baru mendengarnya.” Tanya pangeran Zang Limo bingung dengan kata-kata Gu Ana yang terdengar asing di telinganya.
“Aduh… itu loh semacam dua orang yang memadu kasih.” Kata Gu Ana sedikit kebingungan menjelaskannya. “Pokoknya begitu lah.” Sambung Gu Ana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sementara pangeran Zang Limo hanya mengangguk paham.
Saat mereka tengah asyik mengitip mereka, jendral Li Zong tiba-tiba mengangkat dagu Xu Jiang. Dari yang terlihat oleh pangeran Zang Limo dan Gu Ana mereka sedang berancang-ancang untuk berciuman. Namun apalah daya ekspektasi tidak sesuai dengan harapan, ternyata jendral Li Zong hanya mencium kening Xu Jiang.
“Aiss… kenapa? Kenapa? Padahal hampir saja aku melihat pertunjukkan langsung.” Ucap Gu Ana frustasi.
Melihat hal tersebut pangeran Zang Limo lanya melongo, tak tahu harus berkata apa. Saat mereka sedang grasak grusuk Xu Jiang menoleh ke arah mereka.
“Pangeran hadap belakang sekarang.” Titah Gu Ana sambil menghadap ke arah yang dimaksudkan Gu Ana. Lalu melangkah dengan sedikit gugup karna ketahuan mengintip orang yang sedang berpacaran.
“Pangeran, An’er, kenapa disini?” tanya jendral Li Zong dengan muka yang sudah memerah karna malu.
Sedangkan yang di tegut terkejut setengah mati karna malu ketahuan sedang mengintip, namun bukan Gu Ana (alias Ariana) namanya kalau tak mampu berekting dan berpura-pura bingung bin polos.
“Ah Gege Zong dan Jiang? Kalian disini juga?” tanya Gu Ana berpura-pura terkejut dan bingung, sementara pangeran Zang Limo wajahnya dibut seolah datar menutupi kegugupannya.
“Iya, kami sedang berjalan-jalan, baru saja akan kembali. Lalu kalian sedang apa disini?” tanya Xu Jiang curiga kepada Gu Ana dan pangeran Zang Limo.
“Ah… iya, itu pangeran mengajakku melihat matahari tenggelam.” jawab Gu Ana sedikit gugup.
“Oh... ya sudah kami akan kembali sekarang.” Kata jendral Li Zong, sambil berlalu pergi.
Setelah kepergian Xu Jiang dan jendral Li Zong, Gu Ana dan pangeran Zang Limo bernafas lega, akhirnya mereka tidak ketahuan mengintip mereka.
“Ayo…” kata pangeran menarik tangan Gu Ana kearah Gazebo yang tempati Xu Jiang dan jendral Li Zong. Sedangkan Gu Ana yang ditarik tangannya hanya menurut saja.
Sesampainya mereka di gazebo tersebut, pangeran Zang Limo dan Gu Ana tertawa geli membayangkan wajah mereka masing-masing saat hampir ketahuan oleh Xu Jiang dan jendral Lizong.