
"Tidak ada tapi tapian, bereskan barang kamu, kita akan pulang." perintah Arkan kepada Ariana, yang seakan tak ingin di bantah.
Arkan dan Ariana saat ini tengah berada di lift, tidak ada pembicaraan yang terjadi di antara mereka.
"Minggu depan kita akan ke Bali." kata Arkan sambil meninggalkan Ariana di dalam lift.
...
"Tapi Om... besok kan Ana hari pertama ngampus, masa baru seminggu ngampus langsung pergi lagi." protes Ariana sambil mengikuti langkah Arkan yang lebar.
"Ana saya tidak menerima bantahan Ana." kata Arkan memperpendek langkah kakinya, agar bisa di susul Ariana.
Dengan segera mereka masuk ke dalam mobil Arkan, dan segera melaju ke kediaman Hanvei.
Kring.
Kring.
Kring.
Arkan segera mengangkat telfonnya yang berbunyi.
"Halo Om, Assalamualaikum." Sapa Arkan kepada laki laki di ujung telfon sana. "Iya Om, nanti saya sampaikan." kata Arkan kembali. "Iya Om pasti, walaikum salam." kata Arkan sembari mematikan ponselnya.
"Ana Daddy kamu keluar negri dengan Rayen, jadi kamu di titipkan dengan saya." kata Arkan santai.
"Emang Ana barang apa pakai di titip titip segala." protes Ariana.
"Wajar, kamu itu calon istri Saya, jadi di titip dengan saya." jelas Arkan sambil fokus mengemudi.
"Widih, ngebet kawin Om." ledek Ariana, sambil memandang Arkan.
"Kalau sudah ada kenapa tidak." jawab Arkan santai.
"Wah... memang siapa yang mau jadi istri Om Arkan?" kesal Ariana memandang wajah Arkan.
"Buktinya kamu tadi tidak menolak." kata Arkan, sambil menyunggingkan senyum di wajahnya.
"Dasar tukang sosor." kasal Ariana.
"Cuma kamu yang saya sosor, lagian kan ga ada ruginya." kata Arkan dengan santainya.
"Haiss... awas ya Om, ntar Ana balas." Ancam Ariana dengan kesal.
"Balas? balas nanti saja kalau sudah sampai di rumah saya." kata Arkan santai sambil tertawa.
Ariana hanya menganga merutuki kebodohannya mengatakan hal tersebut. Ariana lupa saat ini berhadapan dengan Ling Ling versi iblisnya. Membuat Ariana hanya mampu bernafas pasrah.
"Emang Daddy nyuruh jagain gimana?" tanya Ariana bingung.
"Kamu tidur di rumah saya." jawab Arkan santai.
"What..." kesal Ariana, tampa sengaja berteriak.
Denga segera Arkan menghentikan mobilnya, kemudian membunyikan klaksound mobilnya, dan memasuki pekarangan rumah Hanvei.
Ariana melangkah kan kakinya menuju kamarnay, sedangkan Arkan menunggu Ariana di ruang tamu.
"Halo..." tiba tiba suara muncul di balik pintu, tampaklah tiga orang laki laki yang masuk ke rumah Hanvei dengan santai, seolah sudah sering mengunjungi tempat tersebut.
"Ana..." teriak Maxim sembari mengambil konsol game Ariana.
"Kalian siapa?" suara dari Arkan mengejutkan mereka bertiga, karna tak menyadari adanya Arkan.
"Hah tuan Arkan senang bertemu dengan anda." sapa Armin sembari mengulurkan tangannya, Arkan hanya menerima uluran tangan Armin sambil tersenyum tipis. "Apa yang anda lakukan di sini." tanya Armin sambil tersenyum ke arah Arkan.
"Saya hanya ingin menjemput calon istri saya. Daddy sedang berada di luar negri jadi saya di minta untuk menjaganya." kata Arkan sengaja menyebut calon istri dan Daddy, bermaksud agar salah satu di antara mereka tak ada yang mengganggu Ariana.
"Ha... Calon istri? kurang ajar so kripik melempem, berani sekali dia tidak cerita." kesal Maxim.
Sungguh ekspresi di luar dugaan, bukan wajah cemburu yang Arkan lihat, melainkan wajah bahagia dari Admin, wajah penuh maklum dari Jasson William, dan wajah kesal dari Maxim.
Di saat yang bersamaan Ariana turun dari tangga, dan melihat kegaduhan dari teman temannya.
"Kalian ngapain di sini." tanya Ariana sambil menyeret kopernya.
"Hah... kau sudah bertunangan tidak bilang bilang ya." protes Maxim, membuat mata Ariana melototi Arkan dengan tatapan kesal.
"Ha, gue di jodohin dengan ini." Kata Ariana menunjuk wajah Arkan, dengan kesal.
"Bagus dong, kami setuju." Armin tersenyum melihat Arkan, yang sungguh benar yang di katakan Ariana sangat mirip dengan wajah pangeran Bao Ling.
"Hah... jangan berdasarkan satu itu kalian setuju." kesal Ariana.
"Dasar teman ngeselin, katanya aja seperti keluarga, tapi ga bilang bilang." protes Maxim.
"Aduh bukan maksud apa apa ya... susah Max, aku cuman ngehargain perasaan kamu loh, biar ga kecewa karna kami cuman yang ga laku laku." ejek Ariana, membuat yang lain tertawa.
"Enak aja bukannya ga laku, karna emang lagi malas aja, cewek itu banyak ngantri ya." kata Maxim sombong.
"Ngantri sembako chin..." kata Ariana tertawa melihat kesombongan Maxim.
"Lagian ni ya, kalau omongan doang datuk maringgi pun bisa." timpal Jasson William, ikut mengejek Maxim.
"Omong kososng kau ferguso." ejek Ariana, membuat Maxim semakin kesal.
Sementara Armin memilih duduk di samping Arkan, dan menonton pertunjukan yang akan panjang.
"Di biasakan ya, soalnya mereka memang suka bertengkar kalau ketemu." kata Armin. "Ini belum seberapa." kembali Armin melanjutkannya, membuat Arkan tertawa mendengarkan kata kata Armin.
...
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanyak banyaknya telah mendukung, meramaikan, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.
Maaf teman teman jaringanku error ini aku harus bersabar, dan bersabar bisa upload.