
“Ah… kalian duduk lah, aku tahu ada gossip terbaru, cepat ceritakan padaku.” Kata Gu Ana segera duduk di meja sambil menepuk nepuk tempat duduk.
Melihat Gu Ana menepuk nepuk tempat duduk mereka segera duduk di samping Gu Ana, dengan aura pergibahan yang cukup kental. Mereka memang terlihat sebagai squart gossip dengan pormasi yang lengkap.
…
“Jadi ada gossip terbaru apa ini?” tanya Gu Ana penasaran.
Mendengar kata kata Gu Ana membuat pangeran Zang Handrong bersemangat buakam main.
“Jadi kemarin saat aku dan para Gegeku akan mengunjungi seseorang, ternyara aku dikejutkan oleh sesuatu…” kata pangeran Zang Handrong menggantungkan kata katanya sambil melirik Gu Ana yang berada di sebrang mejanya sambil tersenyum senyum.
“Diam.” Kata Gu Ana berusaha menutup mulut pangeran Zang Handrong agar berhenti membicarakan tentang dirinya.
Sedankan pangeran Nan Cheng melihat gelagat Gu Ana, langsung saja menangkap pinggang Gu Ana agar tak mampu menggapai pangeran Zang Handrng.
“Lanjutkan, aku rasa gossip yang kau bawa kali ini sungguh bagus untuk kita dengar bersama.” Kata pangeran Nan Cheng.
Mendengar dukungan dari pangeran Nan Cheng membuat pangeran Zang Handrong kini bertambah semangat.
“Jadi aku melihat Limo bermanja di perut An’er, sangat manja hingga membuatku iri dibuatnya, dan kalian tau setelah bermanja Limo mencubit pipi An’er, dan ini yang paling seru…” kata pangeran Zang Handrong tergantung sambil menaik turunkankan alisnya.
Melihat semangat pangeran Zang Handrong yang bergebu gebu membuat pangeran Nan Cheng dan Gu Jun semakin bersemangat.
“Lanjutkan, lanjutkan.” Kata Gu Jun tak sabar mendengar kelanjutannya.
“Limo mencium bibir An’er, dan kalian tahu apa? Wajah An’er seperti kepiting rebus karna menahan malu, lalu kalian tahu bukan cuman aku dan para Gege yang menyaksikan namun juga ada ayahanda dan ibunda yang melihatnya secara langsung.” Kata pangeran Zang Handrong sambil tertawa keras.
Sementara pangeran Nan Cheng dan Gu Jun menganga tak percaya, Gu Ana segera melepaskan diri dari pangeran Nan Cheng menutup wajahnya yang sudah memerah. Setelah mengendalikan keterkejutannya pangeran Nan Cheng dan Gu Jun tertawa keras, sambil melihat Gu Ana yang kini wajahnya semerah kepiting rebus.
“Jiejie lihatlah ke cermin wajahmu sudah seperti kepiting rebus yang siap untuk disajikan.” Kata Gu Jun sambil tertawa lepas.
Mendengar ejekan dari teman teman satu squart gibahnya membuat Gu Ana memutar otak untuk mengembalikan keadaan. Gu Ana kini sungguh kesal dengan pangeran Zang Handrong.
“Ah… tapi kami sudah bertunangan, aku tahu saat melihat adeganku secara langsung, kau Gege Handrong pasti tak pernah mersakannya.” Kata Gu Ana tersenyum mengejek.
Mendengar Gu Ana mengatakan hal tersebut, pangeran Zang Handrong terdiam, karna memang pangeran Zang Handrong belum pernah malakukannya.
“Kau belum pernah?” tanya pangeran Nan Cheng tak percaya kepada pangeran Zang Handrong.
Mendengar pertanyaan pangeran Nan Cheng, pangeran Zang Handrong hanya tertunduk pasrah di buatnya.
“Sudahlah jangan membicarakan hal itu lagi disini ada anak kecil.” Kata pangeran Zang Handrong menghindari pertanyaan pangeran Nan Cheng.
“Ah… kenapa aku harus di ikut ikutkan sih? Tinggal jawab saja pertanyaan Gege Cheng.” Kata Gu Jun mengebalikan fokus pertnyaan.
Gu Ana tersenyum puas ketika melihat pangeran Zang Handrong mencoba menghindari pertanyaan pangerna Nan Cheng.
“Bagaiman Gege Handrong bisa merasakannya, soalnya bagaimana mau melakukannya Gege Handrong saja tidak berani mendekati wanita.” Kata Gu Ana mengejek pangeran Zang Handrong. “Bagaimana apakah semalam jadi dengan adik mu Cheng?” tanya Gu Ana penasaran.
Mendengar pertanyaan Gu Ana kini giliran pangeran Nan Cheng yang bersemangat.
“Jadi kemarin itu aku berlari mengatakan kepada Ling’er, kau kalian tahu Handrong mencoba menghentikanku.” Kata pangeran Nan Cheng.
Sementara ditempat lain pangeran Zang Limo tengah berkutat dengan dapur, tempat yang baru pertama kalinya pangeran Zang Limo datangi di bagian Istana. Kini keadaan dapur benar benar berantakan oleh pangeran Zang Limo, tak ada yang berani mengahalangi pangeran Zang Limo karna takut di hukum. Setelah cukup lama akhirnya makanan buatan pangeran Zang Limo telah jadi dengan keadaan yang cukup memprihatinkan.
Kemudian pangeran Zang Limo meninggalkan tempat itu dan segera pergi ke kamar Gu Ana untuk menepati janjinya. Saat pangeran telah sampai di depan pintu kamar tersebut, terdengar suara tawa beberapa lelaki yang cukup keras membuat pangeran Zang Limo penasaran, tanpa aba aba pangeran Zang Limo segera menerobos masuk ke dalam untuk melihat dengan siapa Gu Ana di dalam.
Mendengar pintu yang tiba tiba terbuka pandangan pangeran Nan Cheng, pangeran Zang Handrong, Gu Ana dan Gu Jun mengarah kearah pintu. Ketika melihat pangeran Zang Limo, Gu Ana tersenyum.
“Ah… akhirnya makananku telah datang.” Kata Gu Ana sambil menghampiri pangera Zang Limo.
Melihat pangeran Zang Limo membawakan makanan untuk Gu Ana pangeran Zang handrong mengerutkan keningnya tak percaya, bagaimana mungkin hanya untuk seorang Gu Ana, pangeran Zang Limo bahkan rela membawakan makanan untuk seorang gadis dengan tangannya sendiri.
“Ini buatan mu?” tanya Gu Ana mengerutkan keningnya, bagaima mungkin baunya saja dapat Gu Ana tebak, bahwa makanan tersebut gosong, dan aneh. Ditambah warna nya yang lebih mirip seperti arang membuat Gu Ana semakin bingung, apakah ini sebuah makanan atau benda lainnya.
“Iya… aku membuatnya hingga susah payah.” Kata pangeran Zang Limo menunjukkan keseriusannya.
Pangeran Zang Handrong, pangeran Nan Cheng da Gu Jun yang mendengarkan hal tersebut menganga dibuatnya.
“Aku akan mencicipinya.” Kata Gu Ana menelan ludahnya dengan kasar karna yakin dengan masakan dari pangeran Zang Limo pasti akan sangat tidak enak.
Sambil berjalan Gu Ana terus menatap makanan tersebut sendu, lalu meletakkan di hadapan pangeran Zang Handrong, pangeran Nan Cheng, dan Gu Jun di ikuti oleh pangeran Zang Limo.
Saat melihat makanan yang di bawa Gu Ana mereka yakin itu adalah makanan terburuk yang pernah mereka lihat. Dengan berat hari Gu Ana mengambil sumpit lalu menyuapkan nya kemulutnya sendiri. Sementara yang lain hanya melihat Gu Ana tak percaya dengan apa yang mereka saksikan.
“Bagaimana rasanya?” tanya pangeran Zang Limo ketika melihat Gu Ana menyuapkan makanan tersebut kedalam mulutnya.
Sementara Gu Ana memperlihatkan wajah tak percaya saat mulai memakannya. Setelah menelan makanan tersebut Gu Ana segera mengambil air putih dan segera meminumnya.
“Bagaiman rasanya?” tanya pangeran Nan Cheng penasaran sambil menahan tawa karna ekspresi dari Gu Ana.
“Rasanya seperti kita akan menjadi Ironmen, waw… nano nano hancur, ini kalau di Masterchaf sudah di maki maki dengan chef Arnold dan chaf Juna.” Kata Gu Ana mengeluarkan semua uneg unegnya.
Sementara pangeran Nan Cheng dan Gu Jun sontak tertawa mendengarkan kata kata Gu Ana. Mereka bisa membayangkan sehancur apa masakannya.