It'S Me

It'S Me
Terungkap



"Pa! Ini semua kecelakaan. Dan ucapanku itu adalah khilaf ... maafkan aku, Papa ... maafkan aku, Pa. Aku menyesal, Papa." Yan Chen masih saja duduk bersimpuh di hadapan sang papa dan memeluk kaki sang papa.


"Tidak bisa! Perbuatanmu ini sudah sangat keterlaluan, Yan Chen! Kamu berniat untuk mencelakai Yan Yuru. Bahkan kamu berniat untuk melenyapkannya! Bahkan ... dua tahun ini dia sudah berjuang seorang diri tanpa aku mengetahuinya! Kamu harus dihukum, Yan Chen!" tandas sang papa lagi.


"Suamiku, tolong jangan lakukan ini, Suamiku. Maafkalah Yan Chen! Dia masih cukup muda dan tentunya masih labil. Bukankah setiap manusia pasti pernah membuat sebuah kesalahan? Apa salahnya jika memaafkannya dan memberikan kesempatan lagi untuk Yan Chen, Suamiku? Biar bagaimanapun Yan Chen adalah juga putramu, Suamiku."


Ucap sang mama berharap suaminya akan memaafkan Yan Chen.


"Tidak bisa!! Yan Chen harus dihukum!! Dia harus merasakan balasan yang setimpal atas apa yang telah diperbuat olehnya!!" tandas pria paruh baya itu dengan sangat tegas dan dada yang naik turun saking amarahnya yang sudah semakin menggunung.


Sementara di atas panggung, Xu Kai masih merasa cukup syok dengan semua kejutan yang baru saja diberikan oleh sahabatnya malam ini. Xu Kai sungguh tak menyangka jika Xie Jun Ze memiliki kenangan yang cukup buruk, dan mungkin karena hal itulah Xie Jun Ze merasa enggan untuk mengingat masa lalunya kembali.


Sangat berbeda dengan Xie Jun Ze yang kini terlihat sedang menikmati tontonan malam ini. Dan setelah beberapa saat, dia mulai memberikan instruksinya melalui barasa mata dan tangannya untuk seorang petugas musik dari yang berada di sisi samping panggung.


Hingga akhirnya petugas musik itu mengangguk paham dan mulai melakukan perintah dari Xie Jun Ze. Dia mulai memasukkan membuka salah satu file lagi, dan beberapa saat kemudian sebuah rekaman CCTV yang juga sudah sedikit rusak mulai tayang di layar berukuran raksasa itu.


"Kini semua aset dan kekayaan keluarga besar Yan akan sepenuhnya menjadi milikku!! Cecunguk itu kini sudah mampus dan menjadi santapan para harimau yang sedang kelaparan itu!!"


Terlihat Yan Chen tersenyum penuh kemenangan atas keberhasilannya dalam menyingkirkan sang adik tiri yang selama ini selalu menjadi putra kebanggaan dari sang papa.


"Kau sungguh sangat cerdas, Putraku Yan Chen! Kamu melakukan semua ini dengan sangat baik! Mama bangga padamu!" ucap sang mama menyeringai penuh kemenangan.


Rekaman itu kembali dihentikan oleh pria penjaga musik itu. Semua orang yang berada di venue megah nan spektakuler ini kini semakin ricuh setelah menyaksikan semua itu.


Tuan besar Yan semakin dipenuhi oleh amarah tingkat tinggi hingga membuat wajahnya memerah padam.


"Su-suamiku! Ini tidak seperti yang kamu lihat! Aku bisa menjelaskan semuanya! Aku akan menjelaskannya, Suamiku. Tolong jangan mempercayai semua itu, Suamiku. Ini semua pasti hanya akal-akalan dan rekayasa saja. Itu semua tidak benar! Tolong percayalah padaku, Suamiku ..." sang mama mulai terlihat semakin cemas dan panik meraih lengan suaminya.


Tuan besar Yan memejamkan sepasang matanya dengan rahang yang sudah mengeras dan wajah yang memerah padam. Dia terlihat begitu syok dan frustasi melihat kejutan malam ini, melihat bagaimana watak asli dari istri dan putra tirinya yang sungguh begitu jahat.


Setelah beberapa saat pria paruh baya itu kembali membuka sepasang matanya dan dia terlihat mengatur nafasnya.


"Suamiku ... aku mohon percayalah padaku. Aku mohon ..." rengek sang mama kembali.


"Semuanya sudah sangat jelas!! Kamu dan Yan Chen harus mendapatkan hukuman yang setimpal!! Dan mulai sekarang aku menceraikanmu!! Surat cerai akan segera aku urus dan aku pastikan kalian tidak akan mendapatkan sepeserpun dari hartaku!!" tandas tuan besar Yan menegaskan.


"Su-suamiku ... aku mohon jangan lakukan itu ..." pinta sang mama lagi


"Papa, maafkan kami ... kami menyesal dan kami minta maaf, Pa ..." kali ini Yan Chen semakin memeluk kaki papanya, berharap sang papa akan memaafkannya dan memberinya kesempatan.


"Pengawal, bawa mereka ke kantor polisi!!" titah tuan besar Yan tak menggubris penyesalan dan permintaan maaf dari mereka.


Bukannya tidak mau memaafkan, namun mereka berdua sudah sangat keterlaluan dan perbuatannya sangatlah jahat. Masih beruntung Xie Jun Ze masih hidup dan terselamatkan saat itu karena bertemu dengan seorang nenek.


Mungkin jika tak ada yang menemukannya saat itu, Xie Jun Ze tak akan lagi bisa diselamatkannya.


"Baik, Tuan besar Yan!" sahut beberapa pengawal patuh dan mulai mengawal istri serta putra tirinya untuk dibawa ke kantor kepolisian. Meskipun sebenarnya mereka berdua masih berontak dan berteriak untuk dimaafkan, namun tak sedikitpun merubah keputusan dari tuan Yan.


Live concert hari ini terpaksa harus dihentikan dan dan ditunda kembali karena sebuah masalah ini. Konser akan kembali digelar kembali lusa di jam yang sama.


Di dalam sebuah ruangan ganti, Xu Kai dan Xi Jun Ze terlihat duduk bersama di sofa panjang. Mereka saling terdiam cukup lama, memikirkan apa yang sedang mengganjal di dalam pikiran masing-masing.


"Yuru ... jadi itu adalah namamu yang sebenarnya?" tanya Xu Kai membuka pembicaraan setelah sekian lama saling terdiam.


"Hhm. Itu benar, Xu Kai. Maafkan aku jika selama ini aku belum mengatakannya dengan jujur kepadamu." jawab Xie Jun Ze atau Yan Yuru menapa sahabatnya penuh rasa sesal.


"Itu tidak masalah untukku. Xie Jun Ze atau Yan Yuru, bagiku kamu adalah sama saja. Kamu tetaplah sahabatku, dan aku tidak peduli siapapun kamu ..." sahut Xu Kai dengan jujur.


"Terima kasih, Xu Kai! Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki!" balas Yuru tersenyum haru.


"Tidak perluberterima kasih. Karena aku memang menyukaimu, dan aku senang bisa mengenal dan berteman denganmu." jawab Xu Kai dengan jujur. "Lalu ... apakah itu artinya kamu akan kembali kepada papamu dan tinggal di Osaka?"


Yuru menghembuskan nafas kasarnya ke udara, karena dia masih belum tau harus bagaimana kedepannya.


"Aku tidak tau ... aku rasa papa masih marah kepadaku. Ditambah lagi setelah kejadian ini. Papa sama sekali tidak pernah memberikan ijin untukku untuk menjadi seorang penyanyi sejak dulu. Papa sangat menentang hobiku. Dan kini aku malah menjadi seorang penyanyi begitu saja tanpa seijin papa. Aku tidak tau ... apakah papa akan memaafkanku dan menerimaku kembali ..."


Yuru terlihat bingung dan merasa bersalah. Dia menunduk dan mengusap kasar rambutnya ke belakang.