
Anak panah terus menghujani mereka hingga, salah satu lengan Gu Ana terkena panah mereka. Langkah Gu Ana dan raja Bao Ling terhenti, ketika melihat jurang di hadapan mereka. Kini Gu Ana langsung saja teringat film Dono, Kasino dan Indro dengan judul maju kena mundur kena.
"Aduh ini mah maju kena mundur kena." guman Gu Ana, meratapi nasibnya, dan mengingat Dono, Kasino, dan Indro.
"Mau kemana kalian? Lebih baik menyerah." kata salah satu, anggota kelompok tersebut, yang mungkin saja sebagai ketuanya.
...
Raja Bao Ling, tampak berfikir, Ia hanya memiliki sabuah pedang, dan kalah jumlah dengan mereka. Raja Bao Ling kemudian menyarungkan kembali pedangnya, dan pelan pelan menarik Gu Ana ke ujung jurang.
Saat melihat ancang ancang dari anggota kelompok pembunuh, Raja Bao Ling, menarik Gu Ana kedalam pelukannya, dan segera melompat ke dalam jurang.
Gu Ana memejamkan matanya, saat raja Bao Ling menerjunkan mereka, Gu Ana tahu, ini adalah pilihan terbaik. Jika tidak maka seratus persen merek akan mati di tangan para pembunuh.
Buk.
Badan Gu Ana dan raja Bao Ling terhempas ke tanah, namun Gu Ana hanya merasakan sedikit sakit, karna ternyata raja Bao Ling menggunakan tubuhnya untuk melindungi Gu Ana dari benturan.
Gu Ana mengalihkan pandangannya ke samping, dan melihat raja Bao Ling yang tidak sadarkan diri, dengan beberapa luka di tubuhnya, akibat terjatuh dari atas tebing.
"Wah, apa dia pikir dia Ironman? haduh mana gelap lagi, kalau ada senter mah enak, aku ga bawa korek api lagi." guman Gu Ana, sambil melihat kesana kemari, mencari solusi. Dengan sekuat tenaga Gu Ana memapah raja Bao Ling, yang tidak sadarkan diri tampa tahu arah.
"Kan nyesel ngasih makan banyak banyak ni orang tadi siang, tau taunya malamnya gini. keluh Gu Ana. "Aduh kemana nih? Mana gelap, ni giman dong." kata Gu Ana sambil terus berjalan, tampa arah.
Sayup sayup terdengar suara gemercik air, di tengah kegelapan malam. Gu Ana segera mengarah kepada suara gemercik air tersebut, dengan panduan dari seuara gemercik air tersebut. Ternyata benar, tak jauh dari tempat Gu Ana mendengar gemercik air tersebut, ternyata terdapat sebuah air terjun, namun sedikitnya sinar rembulan yang masuk, tempat itu masih sangat sulit unuk di temukan.
Gu Ana sampai di samping air terjun tersebut, terasa hawa yang lebih dingin merasuki tubuh Gu Ana. Gu Ana segera mencari tempat berteduh untuk mereka, sekaligus sebagai tempat bersembunyi untuk sementara, karna Gu Ana yakin mereka masih mengejar hingga sekarang.
"Hadeh nyusahin aja ni orang, enak aja tidur tiduran, emang di pikir badannya tidak berat apa." guman Gu Ana sambil memapah tubuh Raja Bao Ling, yang sudah tak sadarkan diri.
Gu Ana segera memasuki Gua tersebut, dengan melewati air terjun. Gua itu sangat tersembunyi, untung saja Gu Ana dapat menemukannya. Gu Ana meletakkan raja Bao Ling, di bebatuan yang datar.
"Aduh api unggun, ga ada korek api lagi. Kalau di pelajaran sejarah mah, mereka nge gesek batu kan?" Guman Gu Ana sambil mencari batu bati dari Gua terbut. "Ais... kayu bakar." kata Gu Ana sambil keluar mencari kayu bakar, untuk di jadikan api unggun. Gu Ana segera mengambil pedang yang bertengger di pinggang raja Bao Ling, dan keluar dari tempat tersebut.
Tiga puluh menit kemudian, Gu Ana kembali dengan beberapa kayu dan ranting kayu, yang sedikit basah, karna terkena air, saat memasuki Gua. Gu Ana kemudian menyusun kayu yang tidak terkena percikan air dengan membentuk kertcut, dan meletakkan kayu kayu yang sedikit basah di dinding Goa. Dengan penuh kesabaran, Gu Ana menggesek dua buah batu, guna mendapatkan percika api.
"Aih... enak menggesek api pergibahan di banding api beneran." Guman Gu Ana sambil terus menggesek. setelah sekian lama akhirnya percikan api keluar juga, namun percikan tersebut harus berkali kali di lakukan, agar dapat membakar kayu tersebut. "Inilah kalau bukan anak perkemahan, aku sih Home schooling, jadi cupu begini. Kalau tugas Kan minimal bawa korek api gas, atau kayu, tak pernah bertemu yang beginian." Keluh Gu Ana untuk yang kesekian kalinya, sambil terus menggesek batu tersebut.
Setelah sekian lama akhirnya api unggun yang Gu Ana buat jadi, dan kini ruangan tersebut menjadi lebih hangat. Kini perhatian Gu Ana beralih kepada raja Bao Ling, yang terluka parah, karna melindungi Gu Ana dari benturan. Gu Ana segera melepas hanfu raja Bao Ling, dan menyisahkan celana panjang, Gu ana melihat luka raja Bao Ling, yang terlihat cukup parah. Gu Ana kemudian mencuci hanfu raja Bao Ling. Gu Ana mengusap Luka raja Bao Ling, dengan hanfu yang sudah bersih, tak lupa menyingkap celan panjang, dan besar raja Bao Ling, hingga sebatas paha.
Gu Ana segera merobek hanfu dalam raja Bao Ling, dibagian bawah, dan menjadikanya sebagai perban luka raja Bao Ling. sedangkan hanfu luar raja Bao Ling, kini tengah menggantung di samping api unggun untuk di keringkan, begitu pun hanfu luar Gu Ana. kemudian Gu Ana, membersihkan diri di air terjun dengan melepas seluruh pakaiannya. kemudian mengenakan kembali hanfu dalam, dan tipis. Untung saja ruangan tersebut dapat memantulkan hawa panas yang baik, sehingga Gu Ana tak merasa kedinginan.
...
Alhamdulillah sekarang laptop aku sudah baikan, berkat doa dari teman teman, terimakasih dukungannya.
Tapi maaf aga susah up nya karna sinyal yang kadang mengesalkan teman teman, mohon maaf, dan mohon pengertiannya
Hi teman teman mampir ke novel baru ku dong Can U Make Me falling love again?