
Sepanjang perjalanan pulang, Darren menyetir dengan santai dan tak lupa menikmati
alunan melodi dari Claude Debussy. Saat memasuki mansion, Darren sudah melihat Zisu
yang berjalan mondar-mandir menunggu. Saat menyadari kedatangan mobil Darren, Zisu
berhenti dan bersiap menyambut tuannya.
Saat Darren keluar dari mobil dan baru menaiki dua anak tangga menuju pintu utama
mansion, Zisu sudah tidak bisa menahan pertanyaannya.
“Tuan, Anda dari mana saja? Apa Anda baik-baik saja?” tanya Zisu. Ia sangat khawatir,
karena Ia tidak pernah terpisah dengan Darren selama ini.
Darren tidak menjawab dan terus melangkah, saat melewati pintu utama. Darren berbalik
dan menatap Zisu.
“Ya Tuan?” ucap Zisu.
“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja”, ucap Darren sembari tersenyum dan kembali
berjalan sambil mengusap kepalanya.
‘Apa yang terjadi dengan Tuan? Kenapa gerak-geriknya aneh sekali. Seperti orang yang jatuh cinta dan bertemu sang kekasih.’ Pikir Zisu.
Menyadari apa yang mulai terjadi, Zisu menepukkan kedua telapak tangannya.
‘Aha, akhirnya Tuan bisa jatuh cinta’, pikir Zisu sambil tersenyum.
Akhir pekan, seperti biasa Darren memilih di rumah saja dan melakukan sejumlah olahraga
ringan untuk menjaga tubuh dan staminanya. Seusai berolahraga, Darren memilih duduk di
pinggir kolam renang, sambil menikmati potongan buah segar.
“Tuan, berkas-berkas Tuan sudah saya siapkan di ruang kerja”, ucap Zisu.
Darren tidak menyahut, Ia langsung bangkit berdiri sambil membawa semangkok potongan
buah segar ke ruang kerjanya. Zisu hanya mengikuti dari belakang.
Tak butuh waktu lama bagi Darren, menyelesaikan semua pekerjaannya di perusahaan yang telah Ia rintis sendiri dari awal. Setelah selesai, Darren kembali merapikan berkas-berkas itu.
“Tuan, Tuan besar tadi menelepon. Kapan Tuan akan ke Beijing?” Tanya Zisu hati-hati.
Mendengar kata Tuan besar, Darren langsung mentap Zisu dengan tatapan kurang suka.
“Ada apa?” tanya Darren.
“Tidak ada apa-apa Tuan, Tuan besar hanya menanyakan kapan Anda akan mengunjungi
kedua orang tua Anda. Selain itu, Tuan besar juga memuji kinerja Anda dalam mendirikan
perusahaan anda sendiri”, ucap Zisu.
Darren hanya tersenyum, Ia merasa puas dapat berdiri sendiri dan mengumpulkan pundi-
pundi kekayaannya tanpa harus terus bergantung pada kekayaan keluarganya.
“Tuan, boleh saya bertanya lagi?” tanya Zisu dengan nada pelan dan sedikit takut.
Darren tidak menjawab, dan hanya menaikan satu alisnya. Ia lalu mendesah dan berkata.
“Hanya satu pertanyaan”, ucapnya lagi acuh sambil membaca sejumlah judul artikel di layar
“Apakah Anda menyukai Sisi, Tuan?” Tanya Zisu, akhirnya memberanikan diri
mengkonfirmasi perasaan tuannya.
Darren seketika terdiam, lalu menengadahkan kepalanya menatap Zisu lekat-lekat.
“Maafkan saya Tuan”, ucap Zisu sembari membungkuk.
“Tidak”, ucap Darren.
“Tidak?”, tanya Zisu.
“Aku tidak menyukainya”, ucap Darren dan kembali menyibukan diri membaca sejumlah
judul artikel berita.
“Baiklah, saya undur diri Tuan”, ucap Zisu dan segera pergi dari ruang kerja Darren.
Sedangkan Darren, menghentikan aktivitasnya dan memilih bersandar di kursi seraya
menengadah ke atas memandangi langit-langit.
‘Cinta, suka’ pikirnya.
‘Tidak pernah ada kata-kata itu dalam kamus hidupku. Yang kutau, hanya belajar menjadi
yang terbaik dan membuktikan kemampuanku pada mereka berdua’ pikir Darren.
Darren lalu bertopang dagu, dan menatap taman dari jendela besar di ruang kerjanya. Ia
masih merasa jika apa yang Ia lakukan terhadap Sisi, adalah sikap yang wajar. Tidak ada yang
khusus.
Akhir pekan, Darren memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana dan hanya berada di
mansion. Segala yang dibutuhkan sudah tersedia dan Ia cukup memberi komando kepada seluruh pelayan yang ada di mansionnya.
Zisu yang mendapat kesempatan untuk beristirahat dari rutinitas pekerjaan Bersama
Tuannya, memilih untuk berdiam diri di kamar dan berpikir.
‘Apa iya, Tuan tidak menyukai Sisi? Kenapa aku merasa Tuan menyukainya. Tuan tidak
pernah menunjukan perhatian kecuali kepada orang tuanya dan Angelica. Bahkan
terhadapku sekalipun, tangan kanannya.’ Pikir Zisu.
“Lebih baik aku mencari ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta”, ucapnya sambil tersenyum.
Ia lalu berbaring di ranjang king size miliknya, sambil melakukan pencarian ciri orang yang
sedang jatuh cinta.
“Senang berada di dekatnya, menghargai dan mendukungnya, sering tersenyum karenanya,
terus memikirkannya, rela berkorban demi dirinya, selalu ingin membahagiakannya,
mencoba mengerti dan memahaminya…” ucap Zisu seraya berpikir.
‘Senang berada di dekatnya, Tuan senang di dekat Sisi. Ciri-ciri yang lain belum ada.
Mungkin benar, Tuan tidak menyukai Sisi hanya memenuhi rasa penasarannya yang tidak
jelas’ pikir Zisu.