
“Apa yang ******** itu lakukan disini?” tanya Gu Min dengan sorot mata benci kearah putra mahkota Bei Xuang.
Entah kenapa Gu Min selalu membenci siapapun dari keluarga kerajaan Bei, bahkan saat melihat mereka ingin rasanya Gu Min menguliti mereka. Entah mungkin ini benci yang diwarisi oleh pemilik tubuh ini sebelumnya, sama halnya yang terjadi dengan Gu Ana. Saat memikirkan hal itu semua, tiba-tiba ingatannya melayang kepada kesedihan Gu Ana.
“Jangan-jangan, dasar ********.” Kata Gu Min dalam hati.
Mendengar pertanyaan Gu Min, mereka sedikit bingung, namun mereka mengikuti pandangan mata Gu Min yang sejak tadi menatap tajam kearah putra mahkota Bei Xuang. Kini pemikiran mereka sama, mengenai penyebab kesedihan Gu Ana.
“Ayo jika kita ingin melihat Gu Ana.” Kata pangeran Zang Jade menyadarkan mereka.
Mendengar kata-kata pangeran Zang Jade menyadarkan mereka untuk menuju kekediaman keluarga Gu. Mereka segera berbegas menuju kereta mereka, karna bagi mereka Gu Ana untuk saat ini lebih penting.
Saat mereka berada tandu semua diam membisu di dalam tandu mereka masing-masing, mereka sungguh khawatir, baru saja seminggu melihat keadaan Gu Ana saat bertemu dangan keluarga kerajaan Bei sekarang justru Ia bertemu dengan putra mahkota Bei Xuang. Mereka sungguh khawatir dengan keadaan gadis itu.
Saat mereka sedang terhanyut dalam fikirannya masing-masing tiba-tiba mereka dikejutkan dengan pelayan mereka.
“Maaf kita sudah sampai.” Kata pelayan mereka masing.
Setelah mendengar hal itu, mereka segera menuju ke kediaman Gu Ana dengan sedikit berlari kecil. Saat melihat tuan Gu tengah berdiri di depan pintu Gu Ana yang masih tertutup rapat, membuat mereka semakin khawatir. Pikiran ketiga pemuda ini berkecamuk tak tahu harus berkata apa.
“Ayah, ada apa dengan An’er? Apa ayah sudah melihatnya?” tanya Gu Min, terlihat jelas diwajah pemuda tersebut sedang diliputi kekhawatiran.
“Ayah sejak tadi memanggilnya namun An’er tak menjawabnya, bahkan pintunya pun terkunci.” Kata tuan Gu dengan panik.
“Ayah lebih bak kita mendobrak pintunya.” Kata Zang Limo tiba-tiba.
Mereka mendengar perkataan dari pangeran Zang Limo sedikit terkejut, namu belum sempat mereka menjawab pangeran Zang Limo sudah mendobrak pintu Gu Ana dengan tidak sabaran. Melihat hal tersebut, tuan Gu memerintahkan anak para penjaga untuk segera menolong pangeran Zang Limo.
“Lihat apa lagi kalian, cepat bantu pangeran.” Titah tuan Gu kepada para penjaga.
Mendengar perintah tuannya mereka bergegas membantu pangeran Zang Limo untuk mendobrakpintu kamar anaknya.
Tak butuh waktu lama, pintu Gu Ana kini telah terbuka dengan paksa. Mereka terkejut melihat Gu Ana bersandar di depan lukisan yang baru saja Ia buat, dengan kuas yang masih bertengger di tangannya.
Melihat hal tersebut sontak membuat mereka khawatir, dan menghampiri Gu Ana yang sedang tertidur, namun lebih terlihat seperti pingsan.
Pangran Zang Limo segera mengangkat Gu Ana menuju tempat tidurnya, namun Gu Ana seperti tak merespon segala pergerakan dan keributan yang terjadi. Gu Ana masih setia menutup matanya.
Tuan Gu yang melihat hal tersebut panik bukan main, tuan Gu segera memanggil pelayan untuk dipanggilkan tabib Long untuk memeriksa keadaan Gu Ana.
“Cepat kalian panggilkan tabib Long untuk emeriksa An’er.” Titah tuan Gu kepada para pelayan, dan mereka segera berlaru memanggil tabib Long.
Tak butuh waktu lama, tabib Long sampai di kediaman tuan Gu. Para pelayan menuntun tabib Long menuju pafilium sakura. Tabib Long memasuki kamar Gu Ana, lalu tanpa basa basi tabib Long memeriksa keadaan Gu Ana.
“Nona Gu baik-baik saja. Ia hanya kecapean, dan butuh istirahat yang banyak, dan tolong jangan bebani fikirannya, sepertinya nona Gu sedang mengalami tekanan hingga membuatnya setres.” Jelas tabib long.
Mendengar kata-kata taib long membuat mereka semua lega sekaligus khawatir tentang kesehatan Gu Ana, pangeran Zang Limo mendekati Gu Ana dan mengusap wajahnya.
“An’er maaf aku tak dapat menjagamu, setelah ini semua akan baik-baik saja.” Kata pangeran Zang Limo sambil menatap Gu Ana penuh kasih.
“Ini toniknya mohon untuk rutin memberikannya tonik ini, jika habis silahkan datang ke kediamanku.” Jelas tabib Long sambil memberika tonik kepada tuan Gu. “Baiklah kalau begitu saya permisi dulu.” Kata tabib Long berlalu pergi meninggalkan mereka.
“Tabib biar aku mengntarmu.” Tawar Tuan Gu, di angguki oleh taib Long.
“Limo aku akan pulang ke istana, apa kau mau ikut denganku?” tanya pangeran Zang Jade kepada pangeran Zang Limo.
“Tidak lebih baik aku disini menunggunya.” Kata pangrtan Zang Limo sendu, tanpa melepaskan pandangannya dari Gu Ana.
Ketika mendengar jawaban dari pangeran Zang Limo, pangeran Zang Jade hanya bisa menghela nafasnya. Kini Ia sudah yakin bahwa adiknya benar-benar telah dewasa.
“Baiklah kalau begitu aku akan kembali ke Istana sekarang.” Kata pangeran Zang Jade melangkah keluar dari kamar Gu Ana.
“Pangeran biar saya mengantar anda, saja juga akan kembali ke mall untuk menyelesaikan pekerjaan saya.” Kata Gu Min kepada pangeran Zang Jade.
Setelah mengatakan hal tersebut, Gu Min segera keluar dari kamar Gu Ana. Namun sebelum Gu Min meninggalkan ruangan tersebut, Gu Min memandang pangeran Zang Limo yang masih setia di sisi kiri tempat tidur Gu Ana sambil memandangi Gu Ana dengan pandangan sendu.
“Pangeran, aku mempercayakan An’er kepadamu, tolong jaga dia baik-baik.” Ucap Gu Min sambil berjalan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Gu Ana.
Setelah mendengar kata-kata dari Gu Min, pangeran Zang Limo merasakan sedikit kelegaan di dalam hatinya. Kini Gadis yang sedang berbaring dihadapannya ini benar-benar memberikannya sebuah kisah yang benar-benar menarik, dan berwarna di hidupnya.
“Kalian boleh keluar sekarang, jika aku membutuhkan kalian aku akan memanggil kalian.” Kata pangeran Zang Limo kepada para pelayan.
Mendengar perintah dari pangeran Zang Limo, mereka segera meninggalkan ruangan tersebut dengan patuh tanpa sepatah katapun.
Setelah semua pelayan keluar, pangeran Zang Limo meminta salah satu penjaga dikediaman tersebut untuk memperbaiki pintu kamar Gu Ana yang telah rusak akibat perbuatannya.
Pangeran Zang Limo terus memandangi pintu yang telah rusak olehnya, Ia sedikit tersenyum mengingat betapa khawatirnya Ia terhadap gadis tersebut.
Setelah mendengar perintah dari pangeran Zang Limo, mereka segera bergegas memperbaiki pintu yang telah rusak tersebut dengan hati-hati. Sebenarnya mereka sedikit terkejut melihat aksi pangeran Zang Limo yang sangat terlihat khawatir dan panik ketika Gu Ana terkunci di dalam kamarnya sendiri. Pangeran Zang Limo terlihat seperti seorang yang akan kehilngan barang berharganya jika Ia tidak segera membuka pintu tersebut.
Setelah mereka mengerjakan pekerjaan tersebut mereka akhirnya pamin untuk kembali menjalankan tugas mereka yang sebenarnya, pangeran terus mengamati hasil kera mereka dengan seksama, dan tersenyum puas atas kerja mereka.
Pangeran kemudian memanggil pelayan untuk membawakan makanan untuknya, serta meminta pelayan lain untuk segera ke Istana untuk mengambilkan beberapa gulungan pekerjaan yang tertunda akibat kejadian ini.
Setelah pangeran Zang Limo makan siang di kamar Gu Ana, pangeran segera membuka gulungan satu persatu untuk Ia kerjakan, kali ini Ia bertekat akan berda di samping Gu Ana. Ia merasa harus memastikan keselamatan Gadis yang Ia cintai hingga tidak ada kesempatan bagi orang lain untuk menyakitinya.