
“Tuan, apa sebaiknya Anda pulang saja. Nanti saya akan bawakan berkas-berkas ini ke mansion. Tuan harus menjaga kesehatan Tuan”, ucap Zisu memecah keheningan di ruangan Darren.
Darren berhenti membaca dan memeriksa file, dan memandang ke arah Zisu.
“Baiklah, rapikan ini”, ucap Darren.
Darren pergi meninggalkan ruangannya, namun terhenti saat di bidang personalia. Ia heran kenapa lampu ruangan ini masih menyala. Ia memasuki ruangan dan melihat Sisi yang tengah tertidur di atas meja kerjanya dengan tumpukan file dan map.
‘Apa yang dikerjakan gadis ini, sampai bisa tertidur dengan setumpuk pekerjaan. Jika dilihat dari tumpukan kerjaan ini, seharusnya ini adalah pekerjaan dua hingga tiga orang. Kenapa dia kerjakan sendiri’ pikir Darren.
Zisu yang sudah melihat Darren masuk ke bagian personalia ikut menyusul masuk, dan terkejut melihat masih ada karyawan.
“Tuan?” ucap Zisu.
Namun, Darren hanya mengangkat tangannya saja. Darren masih memperhatikan Sisi yang tengah tertidur.
“Zisu, kau bawa berkasku dan kembali ke mansion lebih dulu. Tinggalkan mobil untukku”,
ucap Darren.
“Baik Tuan”, ucap Zisu dan meletakan kunci mobil di atas meja.
‘Semoga Tuan tidak melakukan hal aneh-aneh, untung selalu ada mobil perusahaan di
kantor’, pikir Zisu.
“Mmh…” Sisi mulai terbangun dari tidurnya dan mengangkat kedua tangannya ke atas merasa cukup pegal. Sisi lalu meletakan satu tangannya ke belakang leher, dan mengusap-usap tengkuknya. Ia membuka matanya, dan melihat masih ada satu file lagi yang harus ia kerjakan.
Ia lalu, menggosok-gosok kedua tangannya, dan mengepalkan kedua tangannya ke depan.
“Chayo, semangat Sisi. Satu lagi, and well done”, ucapnya senang tidak menyadari sedari
tadi ada Darren yang berdiri tak jauh darinya.
“Ehm”, ucap Darren berdeham.
Spontan Sisi langsung berdiri dan berbalik, dan Ia terkejut saat melihat Darren di hadapannya. Sisi, langsung membungkuk.
“Ma..maafkan saya Tuan, saya tidak bermaksud lalai mengerjakan tugas. Maafkan saya”,
ucap Sisi panik.
Sisi masih saja membungkuk, sedangkan Darren maju dan menarik kursi tempat duduk Ana
dan duduk disana.
“Lanjutkan pekerjaanmu”, ucap Darren tenang.
Sisi langsung buru-buru berbalik dan kembali duduk, namun matanya melirik melihat Darren
yang duduk di sampingnya. Dia merasa tidak nyaman, bekerja sambil diawasi langsung oleh
pimpinan perusahaan. Sisi juga merasa takut dan khawatir, saat ini ia hanya berdua dengan
Darren. Ia hanya berharap semoga pimpinan ini orang yang baik dan tidak akan melakukan
apa-apa.
“Saya sudah selesai Tuan”, ucap Sisi sambil mematikan computer dan merapikan meja
kerjanya. Ia lalu berdiri, dan membungkuk.
“Saya permisi Tuan, terima kasih”, ucap Sisi.
Saat akan melangkah, langkah Sisi terhenti saat Darren ingin mengantarnya pulang.
“Biar aku mengantarmu, ini sudah sangat larut”, ucap Darren.
Sisi membeku, dan Darren melangkah melewatinya. Darren terheran-heran, Sisi masih
mematung dan tidak segera menyusulnya.
“Aku tidak suka menunggu”, ucap Darren.
Sisi langsung berbalik dan segera mengikuti Darren dari belakang, saat Darren akan
mengarah ke lift khusus untuknya. Ia mendengar langkah Sisi yang justru berbelok mengarah ke lift khusus karyawan.
“Lift khusus karyawan tidak beroperasi di jam ini, ikutlah bersamaku”, ucap Darren.
“Baik Tuan”, ucap Sisi pelan dan patuh.
Di dalam lift, mereka berdiri sejajar dan tidak ada yang bersuara. Sisi merasa takut dan
gugup, ia juga merasa sangat tidak nyaman berdekatan dengan pimpinan perusahaan. Sisi
hanya diam, dan mengikuti Darren dari belakang dan tetap menjaga jarak darinya.
Darren melirik ke arah belakang, dan tersenyum smirk. Ia senang Sisi mengikutinya. Mereka
sudah menuju basement perusahaan, dan mengarah ke arah mobil Darren. Saat hendak
membuka pintu mobil, Darren melihat Sisi yang berjalan hanya menunduk ke bawah.
“Masuklah”, ucap Darren.
Sisi lalu membuka pintu mobil mewah Darren, ini pertama kalinya sisi menyentuh dan
masuk dalam mobil mewah. Namun, ia tetap menunjukan sikap biasa-biasa saja. Darren
lalu, memasang sabuk pengamannya dan melihat ke arah Sisi. Sisi mengerti, dan segera
memasang sabuk pengaman.
“Siapa namamu?”, tanya Darren pura-pura.
“Saya Sisi, Tuan”, jawab Sisi.
“Hanya Sisi?” tanya Darren kembali berpura-pura tidak mengenal bawahannya.
“Hm… nama lengkap saya, Carina Noersisi, Tuan”, jawab Sisi sembari menoleh menghadap
Darren dan Sisi melihat senyum Darren yang sangat jarang terlihat. Sisi buru-buru
membalikan pandangannya dan kembali menatap lurus ke jalan.
“Aku yakin, kau belum makan malam Sisi. Aku akan membawamu makan, setelah itu
mengantarmu”, ucap Darren.
“Ti..tidak usah, Tuan. Saya baik-baik saja”, ucap Sisi.
“Aku tidak suka dengan penolakan”, ucap Darren kembali datar.
“Ba..ba-ik, Tuan. Saya akan mengikuti anda”, ucap Sisi khawatir.
“Bagus”, ucap Darren kembali tersenyum.
Darren menepikan mobilnya, di salah satu restoran mewah yang menyajikan makanan
western. Darren melangkah, memasuki restoran dan pelayan restoran yang melihatnya
langsung membungkukkan badan.
“Selama malam, Tuan Darren”, ucap sang pelayan.
Tak lama, manager datang dan menyambut Darren dan Sisi. Lalu mengantarkan Darren ke
ruangan khusus. Para pelayan langsung menarikan kursi untuk Darren dan Sisi.
“Selama malam Tuan Darren, hidangan akan segera kami sajikan”, ucap Manager.
luar biasa, bahkan langsung manager yang melayani dan tidak perlu melakukan pesanan
langsung dihidangkan.
“Tidak, layani dia dan hidangkan makanan untuknya. Aku hanya ingin potongan buah segar
dan segelas air mineral”, ucap Darren tanpa melihat sang manager.
“Baik Tuan”, ucap sang manager. Ia lalu memberikan instruksi untuk memberi menu.
Sisi segera menerima menunya, dan memesan menu pertama yang Ia lihat.
“Saya ingin tenderloin steak dengan saus barbeque”, ucap Sisi.
“Baik nona. Rare, medium, atau welldone?” tanya sang pelayan.
Sisi Nampak berpikir, ia bingung apa maksudnya. Dan dengan segera ia memahami jika yang dimaksud adalah level kematangan pada daging.
“Welldone, terim kasih”, ucap Sisi tersenyum.
“Pesanan Anda akan segera kami sajikan, permisi Nona, Tuan Darren”, ucap sang pelayan
tak lupa membungkuk pada Darren.
Sementara sisi bingung, apa Tuan Darren sebegitu terkenalnya hingga manager dan pelayan restoran juga harus membungkuk kepadanya.
‘Kurasa manager dan pelayan restoran mewah tidak perlu membungkuk ketika melayani
para pelanggannya’. Sisi menatap Darren sambil berpikir. Sementara yang ditatap tampak
acuh memakan potongan buah segar dengan elegan dan berkelas, sambil memainkan
smartphonenya.
“Maaf Tuan, apa Anda tidak makan?” tanya Sisi memberanikan diri.
“Aku sedang makan sekarang”, jawab Darren menatap Sisi.
Kini pandangan mereka bertemu, Sisi merasa sangat gugup. Sementara Darren tampak
senang dan menampilkan ekspresi biasa-biasa saja.
“Hm… maksud saya, apa Anda tidak makan berat Tuan?”, tanya Sisi.
Darren tidak langsung menjawab, dia hanya memasukan smartphonenya ke saku dan
bersandar pada kursi dan menatap Sisi lurus ke depan. Sisi yang ditatap oleh Darren merasa
tidak nyaman.
“Aku sudah makan”, jawab Darren sambil tersenyum smirk.
‘Ah, aku rasa tampang ini yang membuat banyak karyawan wanita terpesona termasuk
Ana’, pikir Sisi.
“Oh iya Tuan”, ucap Sisi mengakhiri pembicaraan.
Darren kembali sibuk memainkan smartphonenya. Sementara Sisi memperhatikan dengan seksama ruang vip di restoran itu. Ruangan itu begitu elegan dan didominasi dengan warna silver yang menawan. Di dalam ruangan vip yang luas itu juga terdapat grand piano.
Pesanan Sisi telah diantar dan disajikan ke atas meja. Pelayan segera melayani Sisi, dan Sisi
mengucapkan terima kasih. Setelah selesai, para pelayan permisi dan keluar dari ruangan.
“Silahkan makan”, ucap Darren dengan santai berdiri dan berjalan ke arah grandpiano.
“Iya Tuan”, jawab Sisi.
Sisi segera menyantap steaknya. Saat tengah asik mengunyah, ia mendengar alunan melodi
piano yang indah. Dan Sisi terkejut, ketika melihat Darren yang tengah bermain piano.
“River flows in you by Yiruma”, ucap Sisi.
Darren yang tengah bermain piano, hanya tersenyum dan melanjutkan permainan
pianonya.
Sisi sangat menikmati makan malamnya yang terlambat namun begitu indah tanpa syarat.
Setelah menyelesakian permainan pianonya, Darren menoleh dan mendapati Sisi hanya
terdiam melihat ke arahnya seakan terhipnotis.
“Habiskan makananmu”, ucap Darren.
“Eh..Oh, Iya, baik Tuan”, tersadarkan jika makanannya belum habis. Sisi terpaku mendengar permainan indah piano Darren.
Setelah selesai makan, Sisi memberanikan diri untuk bertanya.
“Tuan, Anda suka bermain piano?” tanya Sisi.
Darren tersenyum, dan menoleh ke arahnya. “Itu hanya salah satu hobiku”, jawab Darren
berjalan melewati Sisi.
Para pelayan berdiri berderet hingga ke ujung pintu keluar, dan di depan pintu keluar sudah
ada manager restoran yang bersiap membukakan pintu. Ketika Darren lewat, para pelayan seketika membungkuk memberi hormat.
“Selamat malam Tuan Darren, hati-hati di perjalanan”, ucap sang manager ramah.
“Selamat malam nona”, ucap manager.
“Selamat malam, terima kasih” ucap sisi tersenyum ramah dan ikut sedikit membungkukan badannya ke manager.
Ketika sudah dekat dengan mobil, Sisi baru menyadari sesuatu dan bertanya pada Darren.
“Tuan, maaf. Apa kita tidak membayar tagihannya?”tanya Sisi.
Darren tersenyum dan berbalik ke arah Sisi. Sementara, Sisi bingung dan menunggu
jawaban Darren.
“Restoran itu miliku”, ucap Darren tersenyum dan masuk ke dalam mobilnya.
Sedangkan Sisi, sedikit terkejut. ‘Hmm… pantas saja’ pikir Sisi lagi.
Sisi mengikuti Darren masuk ke dalam mobil, dan kembali memasang safety belt.
“Dimana rumahmu?”, tanya Darren, kembali pura-pura bertanya. Meski baru sekali ke
rumah kontrakan Sisi. Tapi Darren sudah mengingatnya dengan mudah.
“Rumah saya di jalan bhayangkara, perumahan guru Tuan. Nanti saya akan arahkan”, ucap
Sisi.
Mobil Darren sudah sampai di depan rumah kontrakan Sisi. Sebelum turun, Sisi melihat ke
arah Darren.
“Tuan Darren, terima kasih sudah berbaik hati mengajak saya makan malam dan mengantar
saya pulang. Sekali lagi, terima kasih Tuan”, ucap Sisi.
Darren melihat ke arah Sisi, dan hanya menganggukan kepala.