It'S Me

It'S Me
Episode 56,......



“Ayo kau minum dulu, benar kata Gege mu, kalau kau tak minum nanti lidahmu akan semakin keluh.” Bujuk pangeran Zang Limo.


Mendengar bujukan dari Gu Min dan pangeran Zang Limo akhirnya Gu Ana meminum air tersebut dengan susah payah.


Sementara yang lain hanya diam menahan tawa melihat Gu Ana ekspresi Gu Ana yang justru dimata mereka sangat menggemaskan, entah siapa yang mulai tiba-tiba tangan pangeran Zang Handrong, dan Zang Jade mencubit pipi kanan dan kiri Gu Ana. Untungnya bedak Gu Ana tahan badai, jadi tak mudah begitu saja luntur.


“Aaa… kejam.” Kata Gu Ana sedikit terpekik, sementara tangannya bergerak mencari cermin yang biasa Ia bawa kemana mana.


“Kau mencari ini?” tanya pangeran Nan Cheng dengan senyum kemenangan.


“Sini berikan padaku.” Ucap Gu Ana dengan kesal.


“Kalau aku tak mau?” tanya pangeran Nan Cheng kembali.


Mendengar pertanyaan pangeran Nan Cheng membuat Gu Ana benar benar kesal, namun tiba tiba sebuah ingatan kecil muncul di kepalanya, Ia tahu cara membungkam pangeran Nan Cheng dengan tepat.


“Apa kau benar benar tak ingin memberikan kepada ku? Jika kau memang tidak mau maka aku akan dengan senang hati memberi tahu dengan siapa pangeran Nan Cheng ini keluar kemarin malam.” Kata Gu Ana dengan senyum manis khas yang Ia miliki.


“Ha… ambil, aku rasa kau mengikutiku kemana mana.” Kata pangeran Nan Cheng dengan kesal, sambil memberikan cermin kepada Gu Ana.


Melihat cermin yang disodorkan oleh pangeran Nan Cheng membuat Gu Ana langsung merebutnya dengan senyuman.


“Baiklah… aku tak akan memberi tahu mereka bahwa kemarin malam kau keluar dengan seorang gadis.” Kata Gu Ana dengan wajah yang dibuat buat polos.


Mendengar perkataan Gu Ana sontak membuat wajah pangeran Nan Cheng memerah, sedangkan teman teman yang lain sudah tertawa keras sehingga menjadikan mereka pusat perhatian.


Kembali perhatian para laki laki berpusat kepada Gu Ana sehingga membuat pangeran Zang Limo menggeram keasal, karna jujur saja Gu Ana malam ini memang terlihat lebih dewasa dari pada penampilan hari hari lainnya.


“Jangan berdandan seperti ini lagi, kau menarik terlalu banyak perhatian lelaki di tempat ini, mulai sekarang kau hanya boleh seperti ini jika bersama ku, aku tak suka orang lain melihat mu dengan tatapan seperti itu.” Bisik pangeran Zang Limo yang ternyata di dengar oleh Gu Jun.


Mendengar hal tersebut Gu Jun hanya tersenyum menahan tawanya, "Bagaimana jika Ia di abat 21 aku rasa bahkan untuk berfoto saja mungkin Jiejie tak akan diperbolehkan." kata Gu Jun di dalam hati.


“Aduh pangeran kau tenang saja, mereka memang boleh melihatku, namun aku sadar kini aku memiliki tunangan makanya aku tak menerima hadiah lagi.” Kata Gu Ana dengan santai, namun dapat di dengar oleh orang lain sehingga menimbulkan senyum di bibir mereka.


Mendengar hal tersebut tentu saja pangeran Nan Cheng tersenyum senyum mendengar perkataan Gu Ana, karna jelas pangeran Nan Cheng tau bahwa kata kata itu belum selesai.


“Tapi kalau orangnya tampan…” kata pengeran Nan Cheng memandang Gu Ana dengan menaik turunkan alisnya.


“Ya… di teriman.” Kata Gu Ana sambil menyambut tos dari pangeran Nan Cheng yang sontak saja membuat semua orang kembali tertawa dengan ucapan Gu Ana.


Sementara pangeran Zang Limo mendengarkan kata kata Gu Ana sontak kesal di buatnya, karna Gu Ana mengetahui hal itu, Gu Ana lansung saja menggenggam tangan pangeran Zang Limo yang berada di sebelah kanannya yang menandakan bahwa Ia hanya bercanda tentang hal itu.


Tiba tiba suara yang amat familiar di telinga Gu Ana menyapa Gu Ana dari belakang Gu Ana.


“Tuan muda dan nona muda keluarga Gu lama tak berjumpa.” Sapa laki laki tersebut dengan penuh wibawa, nampak jelas mereka hanya ingin menyapa anak anak dari keluarga Gu saja.


“Salam Yang Mulia Raja Bei Qing.” Ucap Gu Min, Gu Ana da Gu Jun secara serempak.


Sementara semua mata telah tertuju kepada mereka, dengan sorot mata yang sulit untuk di artikan.


Ketika raja Zang Zuan melihat raja Bei Qing menyapa Gu Ana, raut wajahnya terlihat gelisah, Ia teringat kembali dengan malam ulang tahun ratu Xu Yian, betapa menderitanya dan traumanya anak itu hanya dengan saling bersitatap saja.


Jangan tanya tuan Gu yang tiba tiba shok di buatnya saat raja Bei Qing menyapa anak anaknya. Meskipun anak anaknya memasang wajah yang datar namun tuan Gu faham betul bahwa anak anaknya menyimpan dendam kepada keluarga kerajaan tersebut.


Saat yang lain mecoba untuk menghentikan interaksi antar mereka, pangeran Nan Cheng justru menghentikan yang lainnya, dengan menggelangkan kepalanya sebagai kode.


“Bagaimana kabar kalian?” tanya raja Bei Qing berbasa basi.


“Jelas saja jika kami sedang sakit kami tak mungkin berada disini.” Kata Gu Jun dengan mulut tajamnya.


Mendengar kata kata dari anak berusia lima tahun itu membuat raja Bei Qing menggeram kesal, namun Ia tahan karna raja Bei Qing masih sangat terobsesi dengan Gu Ana.


“Ah… tidak saya hanya penasaran saja.” Kata raja Bei Qing dengan terus mencoba mempertahankan senyumnya.


Melihat senyum palsu raja Bei Qing membuat ketiga saudara ini muak dibuatnya.


“Ah… apa kau merasa kecewa karna kegagal anak buahmu dua tahun lalu?” tanya Gu Mui tak kalah pedas.


Melihat anak anaknya yang berbicara seperti itu membuat tuan Gu mendekat ke arah anak anaknya. Belum sempat tuan Gu berbicara tangannya langsung ditarik oleh pangeran Nan Cheng.


Sementara semua orang dibuat tak percaya dengan keberanian tuan muda dan nona muda dari keluarga Gu tersebut, karna jujur saja kerajaan mereka sangat besar, dan berpengaruh.


“Dasar kurang ajar, berani sekali kalian dengan raja Bei Qing? Apa kalian tak sadar dengan siapa kalian berbicara.” Bentak putri raja Bei Qing dengan emosi yang meluap luap.


Melihat putri Bei dengan emosi yang meluap luap membuat Gu Ana tersenyum, dan mengalihkan pandangannya kepada putri Bei.


“Ah… putri Bei, kenapa kau begitu kasar kepada Gege ku? Ah aku masih ingat dua tahun lalu kau dengan suka rela mencoba merangkak di atas kasur Gege ku, ah dan satu lagi karna kau ditolak terang terangan dengan Gege ku, kau hampir saja memberi Gege ku obat perngsang, benar begitu?” tanya Gu Ana dengan senyum dan pandangan merendahkan.


Mendengar kata kata Gu Ana yang membuka kelakuan kejinya membuat putri Bei sangat malu.


“Kau... ke... kenapa memfitnahku? Aku tak mungkin melakukan hal serendah itu.” Kata putri Bei membela diri.


“Tak mungkin, bukankah kau salah minum malam itu? Akibat kebodohan pelayanmu, minuman yang harusnya di minum Gege ku, malah terminum oleh mu? Dan kau malam itu tertidur dengan seorang kasim sehingga kau hamil dan kau menggugurkan kandunganmu.” Kata Gu Ana kembali membuka rahasia putri Bei.


Mendengar kata kata Gu Ana putri Bei masih terus memutar otaknya agar dapat berkelit dari masalalunya.


“Tidak, kau tidak memiliki bukti.” Teriak putri Bei kepada Gu Ana.


Mendengar kata kata putri Bei sontak membuat Gu Ana tertawa, lalu kembali melihat Gu Ana melihat putri Bei dengan intens.