
Satu minggu setelah ulang tahun Ratu Xu Yian yang 37 tahun, setelah dirasa aman, kini Gu Ana telah kembali kekediaman keluarga Gu, Gu Ana telah beraktifitas seperti biasanya.Mengunjungi rumah seni, selama tiga hari sekali, berkunjung ke tempat sekolah rakyat, sambil bermain, dan bernyanyi seperti biasanya.
Sore itu keluarga Gu berkumpul di dekat ruang keluarga sambil bercengkrama, dan bercanda ria. Tiba-tiba penjaga datang untuk memberi tahu bahwa ada utusan raja Zang Zuan, raja Zang Zuan memberikan titah untuk mentunangkan Gu Ana dan pangeran Zang Limo.
“Apa? Bertunangan? Aku masih terlalu muda untuk itu.” keluh Gu Ana. “Kenapa bukan Gege dulu yang bertunangan, aku masih muda dan lagi bagaimana dengan nasib para penggemarku diluar sana? Mereka pasti akan kecewa.” Ucap Gu Ana dengan nada frustasi.
“Aduh kan yang diberi tita kau kenapa mengikut sertakan aku? Lagian karirku masih panjang.” Sanggah Gu Limo.
“Jiejie, kau hanya bertunangan, bukan menikah, kenapa begitu ketakutan. Kau tahu bahkan salah satu teman akademiku telah dijodohkan.” Kata Gu Jun
“Kalau begitu ayag bukankah Gege sangat terlambat?” tanya Gu Ana
“Benar sekali Min’er sebaiknya kau mencari pasangan, umurmu sudah cukup tua.” Kata tuan Gu mengingatkan Gu Min.
“Baik Ayah dan adik-adikku, aku akan mencarinya sekarang.” Kata Gu Min menahan kesal.
“Gege kau akan mencarinya? Sekarang? Di mana?” tanya Gu Ana beruntut.
“Pasar.” Jawab Gu Min singkat, padat, jelas dan tidak masuk akal.
“Ya Gege, apa kau fikir jodoh dijual di pasar loak?” tanya Gu Ana menatap Gu Min dengan curiga.
“Mungkin.” Jawab Gu Min.
“Dasar anak ini, aku memang menyuruhmu mencari pasangan, tapi awas jika kau mencari di rumah border, jika kau melakukan hal itu akan kupukul pantatmu.” Ancam tuan Gu kepada Gu Min.
“Ya… Ayah, apa Ayah fikir Gege itu anak kecil? Kenapa kau harus memukul pantatnya?” tanya Gu Jun.
“Karna jika aku memukul wajahnya, maka dia tidak akan tampan lagi. Jika dia tidak tampan lagi, maka Gege mu akan semakin sulit menemkan jodohnya.” Jelas tuan Gu, yang sontak saja membuat Gu Ana dan Gu Jun tertawa keras.
“Ah… sudah lah aku pergi dulu.” Kata Gu Min meninggalkan mereka semua.
Mendengar teriakan Gu Ana, Gu Min hanya memutar malas bola matanya. Karna jelas Gu Min tahu mana mungkin Ia akan kesulitan mencari jodoh, sedangkan para wanita bagsawan selalu saja mencari paerhatian jika ada kesempatan. Sementara Gu Min sendiri yang terlalu pemilih untuk mencari pasangan yang cocok untuknya.
Saat ini Gu Min tengah berjalan-jalan di tengah keramaian pasar, tanpa sengaja Ia menabrak seseorang.
“Au…” keluh orang tersebut.
Mendengar keluh tersebut Gu Min yakin, orang tersebut adalah seorang wanita. Dengan malas Gu Min menoleh kearah wanita tersebut. Jujur saja Gu Min sudah hafal modus yang sering di lakukan wanita untuk mendapatkan perhatiannya.
“Hei tuan, apa kau tak punya mata? Kau buta?” ucap wanita tersebut dengan kesal, sambil memandang Gu Min dengan perasaan jengkel.
Wanita tersebut sangat gusar saat dirinya ditabrak oleh Gu Min, menurutnya Gu Min sungguh tidak punya sopan santun, sudah menabraknya kini hanya diam saja tanpa minta maaf.
“Dasar, wajah dan kelakuan tidak sesuai dengan perilaku.” Ucap wanita tersebut dalam hatinya.
“Baiklah aku minta maaf nona, jangan marah-marah terus nanti wajah cantikmu menjadi tua.” Ucap Gu Min sekenanya.
“Ya… kau sungguh tak punya sopan santun, kau minta maaf atau sedang mengataiku?” maki wanita tersebut.
Gu Min yang dimaki kini merasa kesal, karna dirinya kini menjadi pusat perhatian masyarakat sekitar. Tanpa aba-aba Gu Min menarik tangan wanita tersebut ke tempat sepi. Sesampainya ditempat sepi Gu Min melepaskan tangan wanita tersebut.
“Apa yang kau inginkan sebenarnya?” tanya Gu Min dengan nada kesal.
“Apa? Kau bertanya padaku? Apa kau sungguh…” teriak wanita itu kepada Gu Min, tapi di akhir kalimat wanita tersebut menghentikan kata-katanya.
Wanita itu kini bertambah kesal dengan Gu Min, bukannya minta maaf, Gu Min justru mengatakan hal yang membuatnya tambah kesal.
Sungguh hari yang sangat mengesalkan bagi wanita tersebut, setelah mendengar orang yang disukainya selama ini akan ditungankan dengan gadis lain. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan di pasar, namun justru bertemu dangan orang yang menjengkelkan.