
“Apa yang kau lihat? Aku sedang membangunkan calon permaisuriku.” Kata pangeran Zang Limo sambil tersenyum penuh kasih sayang kepada Gu Ana.
Mendengar kata kata permaisuriku dari pangeran Zang Limo, sontak membuat Gu Ana tersenyum getir.
“Pangeran hamba tidak salah dengar? Bagaiman mungkin wanita serendah hambah, dan se murahan hambah bisa bersanding dengan anda pangeran.” Kata Gu An mengingatkan kembali kata kata dari pangeran Zang Limo.
Pangeran Zang Limo hanya tertunduk mendengarkan kata kata Gu Ana, sungguh kata katanya memang menyakitkan. Emosinya saat dalam keadaan cemburu sungguh membuatnya kehilangan akal fikirannya.
“An’er sungguh, maafkan aku harus bagaiman agar kau memaafkanku?” tanya pangeran Zang Limo. Sementara tangannya terulur mencoba menggenggam tangan Gu Ana.
…
Gu Ana hanya diam mendengar kata kata dari pangeran Zang Limo, Gu Ana sendiri bingung apa yang harus di perbuat oleh pangeran Zang Limo, agar dirinya memaafkan pangeran Zang Limo. Gu Ana segera berdiri meninggalkan pangeran Zang Limo, lalu masuk ke ruang bersih bersih miliknya, kemudian menutup pintu ruangan tersebut.
Gu Ana merendam dirinya, sambil terus berfikir apa yang akan Gu Ana lakukan, agar dapat memaafkan pangeran Zang Limo, sungguh Gu Ana mengetahui besarnya cinta pangeran Zang Limo, Gu Ana masih dapat mengingat seluruh perlakuan manis, dan bagaiman pangeran Zang Limo menjaga Gu Ana saat sedang sakit.
Namun ketika Gu Ana mengingat bagaiman kata kata dari pangeran Zang Limo, membuat hatinya kembali sakit.
Tiga puluh menit sudah Gu Ana merendam dirinya di air hangat yang telah di persiapkan oleh para dayang. Kemudian Gu Ana mengenakan hanfu dengan di bantu oleh para dayang. Setelah itu Gu Ana segera kelur, Gu Ana tak menyangka pangeran Zang Limo saat ini masih berada di kamarnya, dengan senyum yang amat tulus, sambil terus memandangi Gu Ana.
“An’er, duduk dan makanlah.” Kata pangeran Zang Limo sambil menyodorkan mangkuk Gu Ana yang telah di isi dengan makanan.
Gu Ana hanya mengangguk dan segera duduk di hadapan pangeran Zang Limo. Kemudian memakan makanan tersebut, sedangkan pangeran Zang Limo hanya memandang Gu Ana sambil tersenyum.
“Kau tidak makan?” tanya Gu Ana akhirnya, karna merasa risih saat makan sambil di lihat oleh pangeran Zang Limo.
“Ah… I iya, kau makan lah duluan.” Kata pangeran Zang Limo terbata bata, salah tingkah saat Gu Ana menanyakannya.
Gu Ana tersenyum ketika melihat tingkah pangeran Zang Limo, pangeran Zang Limo selalu saja begitu ketika ketahuan tengah menatapnya diam diam.
“Makan lah.” Kata Gu Ana menyodorkan makanan ke mulut pangeran Zang Limo dengan sumpit.
Pageran Zang Limo tersenyum mendapatkan perlakuan tersebut, kemudian membuka mulutnya untuk menyambut suapan dari Gu Ana. Pangeran Zang Limo mengunyah dan menelan makanan yang disuapkan oleh Gu Ana, kemudiam kembali memandang Gu Ana dengan seksama.
“Kenapa masih memandangku? Kau masih ingin disuap?” tanya Gu Ana kepada pangeran Zang Limo.
Bukannya menjawab pangeran Zang Limo masih terus memandang Gu Ana sambil tersenyum.
“An’er apakah kau sudah memaaf kan ku?” tanya pangeran Zang Limo dengan nada sendu.
“Menurutmu?” Gu Ana bukannya menjawab, tetapi malah bertanya kepada pangeran Zang Limo sambil mengangkat alisnya.
“Aku sungguh tak tahu, namun aku berharap kau memaafkan ku.” Kata pangeran Zang Limo sambil tertunduk mencoba menyembunyukan air matanya, yang sudah hendak turun dari pelupuk matany.
Melihat hal tersebut, Gu Ana memberikan kode kepada para pelayan untuk meninggalkan mereka berdua.
“Aku tak tahu kalau pangeran sepertimu bisa menangis karna ini.” Kata Gu Ana memandang pangeran Zang Limo.
“Aku hanya tak mampu membayagkan akan kehilanganmu.” Kata pangeran Zang Limo dengan nada suara yang bergetar. “Aku sungguh minta maaf, aku berjanji tak akan melakukannya lagi, aku hanya terbawa emosi.” Kata pangeran Zang Limo dengan berterus terang.
“Apa kau belum memaafkan ku?” tanya pangeran Zang Limo mengangkat kepalanya dan memandang Gu Ana.
Melihat wajah sendu dan mata merah pangeran Zang Limo akibat menahan tangisan yang sejak tadi meminta untuk di keluarkan, Gu Ana tersenyum.
“Lain kali berpikirlah sebelum kau melakukan sesuatu, jangan karna kau emosi, maka kau bisa melakukan
segalanya.” Kata Gu Ana menasihati pangeran Zang Limo.
“Apa kau memaafkan ku?” tanya pangeran Zang Limo.
“Hm… lain kali jika kau melakukannya lagi, aku tak akan memaafkan mu.” Kata Gu Ana sambil tersenyum ke arah pangeran Zang Limo.
Mendengar hal tersebut pangeran Zang Limo beranjak dari tempat duduknya lalu mendudukkan dirinya di samping Gu Ana, kemudian menarik Gu Ana kedalam pelukannya. Tampa pangeran Zang Limo sadari air matanya jatuh begitu saja, dan tak dapat pangeran Zang Limo kontrol.
“An’er terimakasih, aku tak dapat membayangkan jika kau tidak memaafkan ku, kau boleh memaki ku, memarahiku, asalkan jangan menjauhi ku, jangan mendiamkan ku, jangan pernah berfikir meninggalkan ku.” Kata pangeran Zang Limo dengan sedikit isakan.
Gu Ana yang merasakan tubuh besar memeluknya dengan sedikit gemetar, hanya mampu mengusap punggungnya agar sedikit tenang. Ingatannya kembali kepada saat saat pangeran Zang Limo memeluknya dan menenangkannya, saat itu tubuhnya juga gemetar, dan ketakutan.
“Apa kau sedang takut? Tubuh mu bergetar.” Kata Gu Ana menenangkan pangeran Zang Limo.
“Aku hanya takut kau tak memaafkan ku, dan meninggalkanku.” Kata pangeran Zang Limo melonggarkan pelukannya.
Pangeran Zang Limo melepas pelukannya lalu mencium wajah Gu Ana berkali kali, sambil terus berurai air mata. Gu Ana mengudap air mata pangeran Zang Limo, dan mendudukkan dirinya di dalam pangkuan pangeran Zang Limo.
“Aku tak dapat memangkumu, jadi kau saja yang memangku ku.” Kata Gu Ana sambil tersenyum manis.
Pangeran Zang Limo kembali mengecup wajah Gu Ana hingga di rasa puas, kemudian mengecup singkat bibir Gu Ana.
“Terimakasih sudah memaafkan ku, mungkin memang benar kata Gege Jade, bahwa kau lebih bisa berfikir dewasa daripada aku.” Kata pengeran Zang Limo mengakui sikap kekanak kanaknnya kepada Gu Ana.
Mendengar kata kata dari pangeran Zang Limo\, Gu Ana tersenyum dan mendekatkan bibirnya dangan bibir pangeran Zang Limo\, kemudian Me***atnya sambil memejamkan matanya. Pangeran Zang Limo terkejut\, baru pertama kali Gu Ana berisisniatif melakukannya terlebih dahulu. Namun keterkejutan pangeran Zang Limo segera dapat Ia kendalikan\, kemudaian membalas lu***matan dari Gu Ana.
Selama beberapa menit\, mereka saling hanyut di dalam Pa***tan tersebut\, lidah mereka saling bertarung. Hingga akhirnya merka kehabisn oksigen dan saling melepaskan pa***tan di antara mereka.
Pangeran Zang Limo menundukkan wajahnya hingga keningnya dan kening Gu Ana menyatu.
“Terimakasih, aku mencintaimu An’er.” Kata pangeran Zang Limo kembali mencoba mendekatkan wajahnya kembali, dan kembali mencoba menempelkan bibirnya dengan bibir Gu Ana.
Melihat ancang ancang pangeran Zang Limo, Gu Ana segera menutup mulut dari pangeran Zang Limo.
“Ingat kita harus melakukan penghormatan kepada raja.” Kata Gu Ana mengingatkan pangeran Zang Limo.
…
Jangan lupa like and comment, tolong tinggalkan jejak ya biar author tambah semangat, dan punya masukan agar bisa memperbaiki kesalahan yang author buat, sip… ok.