
"Daddy sebenarnya berapa lama Ana tidak sadarkan diri?" tanya Ariana penasaran.
"Tiga bulan sayang." kata Erick mengelus puncak kepala Ariana. Mendengar kata tiga bulan dari Erick, membuat Ariana menganga tak percaya, betapa cepatnya Ariana di dunia mimpinya, hingga mampu menembus hampir tiga tahun.
...
"Waw satu bading satu ya, satu bulan banding satu tahun tapi." guman Ariana tak percaya dengan apa yang di lalui.
"Ada apa sayang?" tanya Erick, yang terlihat khawatir. Karna melihat Ariana tidak nerespon sama sekali celotehannya, dan hanya termenung saja.
"Semua baik baik saja Ayah." kata Ariana tersenyum ke arah Erick. "Ana hanya lapar." kata Ariana mengusap perutnya, mengalihkan pembicaraannya dan Erick, agar Erick tidak khawatir.
Tok.
Tok.
Tok.
Bunyi ketokan pintu, membuat Ariana dan Erick mengalihkan pandangan mereka, ke arah pintu.
"Selemat siang, delivery untuk Ariana Hanvei." kata Rayen sambil menunjukkan tentengan, yang Rayen bawa. Melihat tentengan yang Rayen bawa, Ariana tersenyum bahagia, akhirnya bisa mengisi perut untuk makan bubur. "Rayen cuci tangan dulu Daddy, nanti kita makan bareng, soalnya Daddy belum makan kan." kata Rayen tersenyum ke arah Erick.
Pernyataan dari Rayen membuat Erick ingat, bahwa Erick sama sekali belum makan sejak tadi pagi, dan bahkan sekarang sudah menjelang makan siang.
"Daddy... Daddy kenapa belum makan?" tanya Ariana dengan nada khawatir. "Ana tahu Daddy khawatir dengan Ana, tapi kesehatan Daddy juga penting." ucap Ariaan sambil menggenggam tangan Erick, membuat Erick tersenyum.
"Ya... asal Ana kami cepat sembuh, kami akan baik baik juga." kata Rayen, berjalan dari washtafle. Ariana sontak mengalihkan pandangannya ke arah Rayen, dan tersenyum.
"Ah... Ana akan berusaha" kata Ariana penuh meyakinkan. "Ana akan menjalani pengobatan, dengan baik." kata Ariana dengan semangat.
"Bagus sekarang makan dulu ya." kata Erik yang sudah hendak menyuapi Ariana.
Saat malam tiba Ariana tak bisa tidur, Ariana terus teringat dengan tuan Gu, Gu Min, Gu Jun, pangeran Nan Cheng, terutama suaminya saat menjadi Gu Ana, pangeran Bao Ling.
Ariana merasa semua itu hanya mimpi, namun juga terasa nyata untuk sebuah mimpi, bahkan jika hanya sebuah mimpi, mungkin kah Ariana bisa merasakan sebuah sakit. Namun tak ada penjelasan tentang hal ini.
Jika memang benar apakah sekarang, Gu Ana yang asli menempati tubuhnya? Apakah mereka akan mengetahui, jika itu bukan dirinya. Semua masih tanda tanya.
Bahkan untuk penyebab kembalinya dirinya pun Ariana tak mengerti, bahkan Ariana bingung, karna terakhir kali Ariana tertidur di samping pangeran Bao Ling. Apakah saat pangeran Bao Ling bangun, Gu Ana mengetahui siapa pangeran Bao Ling?
"Ana ayo bangun, sebentar lagi terapi." kata Erick sambil mengelus kepala Ariana.
"Ayah..." Guman Ariana, melihat Erik yang yang terlihat, seperti tuan Gu.
"Ana kamu masih belum bangun? Sejak kapan kamu memanggil Daddy, dengan sebutan Ayah." kata Erick yakin kalau anaknya masih tertidur, dan mengigau tak jelas.
Ariana langsung terduduk ketika mendengar, Erizk mengatakan hal tersebut. Entah kenapa Daddy nya, sekilas tadi terlihat mirip dengan tuang Gu.
"Eh Daddy, apakah Kita akan terapi mulai hari ini?" tanya Ariana, mengalihkan fikirannya. "Daddy bisa aku mandi dulu? Aku bau " kata Ariana,sembari mencium tubuhnya tubungnya sendiri.
"Ok, tapi di bantu suster ya." kata Erick segera keluar mencari suster.
Setelah sekian lama akhirnya Arian selesai mandi, di bantu oleh para suster. Ariana segera duduk kembali di tempat duduk, karna keadaan Ariana saat ini masih sangat lemah.
"Ariana bagaiman sekarang?" tanya Erick melihat Ariana yang duduk di atas tempat tidur, merasa sangat khawatir.
"Ariana ok Daddy." kata Ariana meyakinkan Daddy nya. "Daddy Ariana bosan, bisa nanti Arian minta ponsel?" tanya Ariana, dengan wajah yang memelas.
"Ok... nanti Daddy minta asisten Daddy, buat beliin ponsel buat princess nya Daddy." kata Erick mencubit pipi Ariana. "Sekarang Ana yang penting mau terapi dulu ya." lanjut Erick.
Tak lama kemudian dokter datang menemui Ariana, untuk melakukan terapi. Ariana hanya butuh belajar berjalan saja, dan pemeriksaan lutut, karna sudah sekian lama Ariana tidak berjalan. Sehingga otot otot Ariana harus di latih untuk bergerak kembali.
"Halo belikan anakku ponsel, dan segera bawakan kesini, dalam tiga puluh menit." kata Erick kepada asisten kepercayaannya. Erick terus memandang anaknya yang saat ini tengah berjalan, meskipun dengan bantuan tongkat panti jompo. Erick memotret Ariana yang saat ini tengah belajar berjalan, karna permintaan dari Rayen.
Rayen melihat ponselnya, terdapat pesan dari Erick, dangan mengirim foto Ariana sedang belajar berjalan membuat Rayen tersenyum.
"Hy Rayen, kenapa kamu senyum senyum?" tanya Arkan, saat melihat sahabatnya Rayen senyum senyum sendiri.
"Engga gue lagi liat adik gue, yang belajar jalan." kata Rayen sambil tersenyum senang. "Oh ya ngomong ngomong gimana kerja sama kita?" tanya Rayen mengalihkan pembicaraan, ke arah yang sebenarnya.
...
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanyak banyaknya telah mendukung, meramaikan, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like co mment, and favorite novel ini ya.
Maaf teman teman jaringanku error ini aku harus bersabar, dan bersabar bisa upload.