
Pagi ini pangeran Zang Limo bangun lebih awal dari Gu Ana, Ia segera memerintahhkan para pelayan untuk menyiapkan hafu untuknya, pangeran juga meminta para pelayan mempersiapkan bak mandi untuknya dan Gu Ana, serta sarapan untuk dirinya dan Gu Ana. Setelah memerintahkan para pelayan untuk melaksanakan tugasnya, para pelayan pun mengundurkan diri untuk mempersiapkan segala keparluan untuk Pangeran Zang Limo dan nona mereka.
30 menit kemudia para pelayan mempersiapkan semua perintah dari pangeran Zang Limo, pangeran Zang Limo memasuki ruang mandi dan menempatkan diri di bak mandi, menghirup aroma air yang telah diberi wewangian. Setelah merasa cukup pangeran Zang Limo memakai hanfu yang telah disiapkan untuknya.
Ketika pangran Zang Limo keluar dari ruang mandinya, Ia meminta pelayan untuk meninggalkan ruangan tersebut, lalu membangukan Gu Ana dengan lembut.
“An’er, ayo bangun…” kata pangeran Zang Limo dengan lembut, sambil mengusap kepala Gu Ana dengan lembut.
Mendapatkan usapan tersebut bukannya membangunkan Gu Ana, hal itu justru membuat Gu Ana kembali terlelap dalam tidurnya.
“An’er, ayo bangun… kau tak lelah apa berada di tempat tidurmu?” tanya pengeran Zang Limo sambil menusuk nusuk pipi Gu Ana dengan Gemas.
Menurut pangeran Zang Limo, Gu Ana saat ini sangat terlihat menggemaskan, dengan wajah polos tanpa riasan wajah, membuatnya semakin menggemasakan dimata pangeran Zang Limo.
“Sebentar saja, aku masih ingin tidur.” Kata Gu Ana dengan suara serak khas bangun tidur.
Mendengar kata kata Gu Ana membuat pangeran Zang Limo tersenyum senyum sambil memikirkan ide yang sedang berada di dalam fikiran jahilnya.
“Apa kau benar benar masih ingin tidur?” tanya pangeran Zang Limo dengan senyum jahilnya.
“Hm…” kata Gu Ana menjawab pertanyaan dari pangeran Zang Limo.
“Baiklah, jangan salahkan aku.” Kata pangeran Zang Limo.
Gu Ana yang mendengarkan perkataan dari pangeran Zang Limo, hanya mengacuhkannya dan menarik selimut dan memper erat pelukannya pada bantal guling.
Melihat respon Gu Ana, pangeran Zang Limo menyingkap selimut Gu Ana, dan menarik guling dari dekapan Gu Ana. Kemudian menindih Gu Ana.
Gu Ana yang ditindah oleh badan bidang pangeran Zang Limo seketika terbangun, matanya terbuka sempurna memandang pangeran Zang Limo yang kini berada di atasnya.
Pangeran Zang Limo tersenyum melihat wajah terkejut gadis itu, kemudian secara perlahan menurunkan wajahnya, dan mempertemukan bibirnya dan bibir Gu Ana. Pangeran mulai Me*****t bibir Gu Ana dengan lebut. Sementara Gu Ana masih dengan mode terkejutnya, Ia shok mendapatkan serangan mendadak di pagi hari.
Tadinya pangeran Zang Limo hanya ingin memberikan hukuman kepada Gadis itu namun entah kenapa justru dirinya terbawa dengan rasa manis, yang bagaikan candu untuknya, yang rasanya enggan untuk dilepaskan. Setelah beberapa saat pangeran Zang Limo tersadar, dan melepaskan Lu*****ya dari bibir Gu Ana. Ia memandang sejenak wajah Gu Ana, yang saat ini masih memejamkan matanya.
“Bangun dan bersihkan dirimu, jika tak mau aku berbuat lebih.” Ancam pangeran Zang Limo.
Mendengar ancaman dari pangeran Zang Limo,
Gu Ana bergegas turun dari tempat tidur, lalu pergi untuk membersihkan dirinya. Gu Ana merebahka dirinya di bak mandi, merasaka hangatnya air dan wanginya bunga yang bertebaran masuk kedalam rongga hidung Gu Ana, sehingga membuatnya rileks.
30 menit sudah Gu Ana merendam diri di bak mandi, kini Ia benar-benar rileks, Gu Ana kemudian bangkit dan menggunakan hanfu biru laut, warna favorite Gu Ana. Kemudian melangkahkan kaki keluar, karna perutnya sudah menuntunnya untuk di isi makanan, maklum saja sejak kemarin taka da yang mengisi perut Gu Ana.
Saat keluar dari tempat mandi, Gu Ana melihat pangeran Zang Limo yang sedang duduk dengan setia menunggu Gu Ana.
“Duduklah, kau tak makan sejak kemarin.” Kata pangeran Zang Limo menyodorkan mangkuk yang sudah terisi penuh.
“Jangan terburu buru nanti kau tersedak, tak akan ada yang merebut makananmu.” Kata pangeran Zang Limo sambil terus memperhatikan Gu Ana.
“Kau tak makan pangeran?” tanya Gu Ana di sela sela makannya.
“Em… aku akan makan sekarang, tapi jangan panggil aku pangeran lagi.” Kata pangeran Zang Limo sambil menatap Gu Ana yang saat ini masih terkejut dibuatnya.
Ketika mendengar perkataan pangeran Zang Limo, Gu Ana terkejut, namun ingatannya kembali melayang beberapa hari yang lalu, saat pangeran Zang Limo meminta Gu Ana untu jangan memanggilnya pangeran lagi.
“Baiklah Limoku sayang, makan makananmu sekarang.” Kata Gu Ana sambil menyuap makanan kembali kemulutnya.
Mendengar kata kata Gu Ana, pangeran Zang Limo tidak menghiraukannya. Ia justru terus memandangi Gu Ana yang tengah makan dengan lahapnya.
Gu Ana yang merasa terus dipandangi, akhirnya menghentikan suapannya. Ia beralih memandangi pangeran Zang Limo yang tengah memandanginya.
“Aaa… buka mulutmu.” Titah Gu Ana, yang tiba tiba menyuap pangeran Zang Limo.
Pangeran Zang Limo yang mendapatkan suapan Gu Ana, menurut saja dengan hal itu. Pangeran Zang Limo terus memandang Gu Ana yang kembali menyuapkan makanan untuk dirinya sendiri. Pangeran Zang Limo tersenyum senyum mendapatkan suapan dari gadis pujaannya, yang kini terlihat baik-baik saja.
“Dasar Bucin tingkat dewa.” Kata Gu Ana dalam hati, sambil membalas senyuman pangeran Zang Limo.
Pangeran yang mendapatkan balasan senyuman dari Gu Ana, mengira Gu Ana saat ini tengah memujinya, atas segala pengorbanannya yang telah Ia lakukan.
“Hm… di istana kayaknya berkelebihan micin deh, ni anak pasti mikiran yang engga engga, kayaknya ni orang deh yang bisa disebut generasi micin ya? Eh kayanya Gua deh yang generasi micin, soalnya kalau kakak marah dia sering menggil aku anak micin.” Kata Gu Ana membaca fikiran pangeran Zang Limo, sambil tersenyum manis, sedangkan fikirannya berdebat.
Pangeran yang melihat senyum manis Gu Ana, jantungnya berdetak seketika. Sehingga wajahnya bersemu merah. Pangeran Zang Limo segera memakan makanannya dengan terburu buru.
Gu Ana yang melihat pangeran Zang Limo salah tingkah, hany terkekeh pelan.
“Emang ga bisa di godain ni anak, langsung salting. Fiks kalau kakak ngeliat ni anak, dapat nominasi penghargaan gelar anak bucin kebanyakn micin nih” Kata Gu Ana tersenyum sambil menahan tawanya.
Setelah mereka menyelesaikan sarapan pagi mereka, Gu Ana memanggil para pelayan untuk membereskan semuanya. Kemudian pangeran Zang Limo kembali berdiri, dan mendekati meja kerjanya saat ini.
Saat pangeran berjalan ke arah mejanya, Gu Ana melihat tumpukan gulungan diatas meja tersebut.
“Wah… Limo banyak sekali? Kediamanmu pindah ke sini?” goda Gu Ana kepada pangeran Zang Limo, sambil melangkah ke samping pangeran Zang Limo.
“Ya… seorang gadis kecil membuatku harus pindah untuk sementara.” Kata pangeran Zang Limo, tanpa mengalihkan pandangannya dari gulunganyang saat ini berada di hadapannya.
“Baiklah, sebagai rasa terimakasih dan bersalah dari Gadis kecil, imut, dan cantik tiada tara ini, izinkanlah hambah yang mat cantik ini untuk membantumu pangeranku.” Kata Gu Ana sambil cengengesan di samping pangeran Zang Limo.
“Baiklah tapi jangan memaksakan dirimu.” Kata pangeran Zang Limo sambil tersenyum.