
Hari ini anggota kerajaan dari kerajaan timur, telah kembali dari kerajaan barat. Mereka bersiap untuk melakukan upacara pernikahan.
beruntung kerajaan mereka tidak terlalu jauh, hanya menempuh perjalanan hampir satu hari. Sehingga perjalan tak akan terlalu memakan waktu banyak.
Seluruh anggota kerajaan kini sudah berada di tengah perjalanan, Vekran sedikit bingung nanti cara memberitahukan, kepada keluarga tubuh yang saat ini ia tempati.
Vekran melihat adik dari tubuh ini, yang tengah bercerita, entah apa itu, yang ia ceritakan.
"William, bisa aku meminta pertolongan mu?" tanya Vekran hati hati.
William berhenti berbicara, dan segera memperhatikan kakaknya. "Kakak minta tolong apa? Selama aku bisa membantumu, aku akan mengatakannya."
Vekran tersenyum mendengarkannya, kemudian melempar pandangan ke arah luar jendela kereta mereka.
"Kau tahu bukan dulu aku sempat tiada?" kata Vekran dengan hati hati.
William mengangguk, mengerti maksud dari pertanyaan Vekran. "Menangnya kenapa kak?" tanya William.
"Putri Melly juga mengalami hal yang sama," ucap Vekran tersenyum ke arah jendela.
"Wah maksudnya, ah kalian benar benar jodoh," seru William semangat.
"Hm... dan kami di hidupkan kembali untuk sebuah misi," ucap Vekran membuat senyum William tiba tiba luntur, terganti dengan pandangan yang membingungkan.
"Misi? Maksudnya apa?" tanya William membuat Vekran menundukkan kepalanya.
"Maksudnya kakak dan Melly setelah menikah harus melakukan perjalanan, maka kau harus menjadi seorang raja yang baik," kata Vekran membuat William benar benar sedih.
Vekran tahu betul kalau adik dari pemilik tubuh ini, sangat menyayangi pemilik tubuh ini, namun mereka tetap harus kembali. Mungkin saja jiwa pemilik tubuh ini akan kembali ke tempatnya, setelah mereka selesai melakukan misi.
"Maksudnya kakak akan pergi? tanya William tak dapat menyembunyikan kesedihannya.
"Iya kakak harus pergi, demi memenuhi misi ini," kata Vekran, sembari tersenyum. "Takdirku bukan takdir seorang putra mahkota. Jika tiba saat nya aku akan kembali lagi, dan melihat bagaiman kau memimpin kerajaan ini."
William hanya tersenyum kecut mendengarkannya, dia tak menginginkan tahta, yang ia inginkan adalah melihat kakak nya, yang sebagai panutannya hidup dengan bahagia.
"Tapi bukan itu yang ku mau," kata William, mencoba menunjuk Vekran.
"Iya aku juga, tapi itu lah takdir kita," ucap Vekran, kembali membuat William benar benar terdiam.
Setelah pembicaraan itu, William tidak lagi berbicara. mereka di liputi dengan keheningan.
Setelah mereka sampai, Vekran juga berencana untuk memberitahu raja Erik dan ratu Bilqis, tentang hal ini. Vekran ingin semuanya jelas, agar tak ada lagi yang mengganjal. Vekran hanya berharap jiwa tubuh ini suatu saat nanti bisa kembali, dengan melakukan perjalanan tersebut.
...****************...
Saat malam tiba, Vekran mendatangi kediaman raja Erik dan ratu Bilqis, Vekran berencana untuk memberitahukannya, agar mereka bisa menerimanya dengan pelan pelan.
Vekran berjalan dengan langkah yang sedikit gontai, entah bagaimana memulai pembicaraan ini, yang pasti Vekran harus mengatakannya.
Vekran melihat kasim khusus raja, sekaligus tangan kanan raja Erik, tampak berdiri tegap.
"Yang mulai pangeran pertama, apa yang bisa saya bantu?" tanya kasim tersebut dengan hormat kepada vekran.
Vekran sedikit menarik nafas beratnya, membuat kasim tersebut sedikit bingung. Setelah Vekran menghembuskan nafas beratnya tersebut, barulah Vekran memulai pembicaraannya.
"Aku ingin bertemu yang mulia," kata Vekran dengan wajah yang sedikit sulit untuk di tebak.
Kasim yang melihat raut wajah dari Vekran tak ingin bertanya lebih banyak, ia hanya menganggukkan kepalanya.
Kasim tersebut segera masuk, menuju pintu lapis terakhir, dan mulai memberitahu dari luar pintu. Kasim yang sudah terlatih suaranya, untuk teriak namun tetap membulatkan suara tersebut, segera meminta izin.
"Yang mulia pangeran pertama, pangeran Vekran ingin bertemu yang mulia."
"Biarkan dia masuk," terdengar suara raja Erik, dari dalam.
Setelah mendengarkan perintah raja nya. Kasim tersebut segera keluar, untuk meminta Vekran segera menemui raja Erik.
"Terimakasih," ucap Vekran sopan kepada kasim tersebut.
Kasim tersebut tersenyum, memang kedua pangeran di kerajaan tersebut, memiliki budi luhur yang sangat baik. Mereka menghormati orang tua, meski mereka hanya seorang penjaga sekalipun.
Vekran memasuki ruangan tersebut, yang tampak asing untuknya. Ini adalah kali pertama kali jiwanya masuk ke dalam kediaman pribadi raja Erik. Namun tidak dengan tubuh ini, karena itu ia juga bisa merasakan keakraban tempat ini, namun sekaligus asing.
Vekran mendudukkan pantatnya di hadapan sang ayah. Membuat raja Erik tersenyum.
"Ada apa?" tanya raja Erik sembari tersenyum ramah, di dampingi sang ratu Bilqis, yang selalu setia memandangi nya.
Vekran tersenyum, berharap hubungannya dan Melly akan berakhir dengan hal yang sama.
"Nah Vekran ada apa?" kembali lagi raja Erik bertanya, membuyarkan lamunan Vekran, tentang lamunan masa depannya bersama Melly.
"Ah aku ingin menyampaikan tentang tahta kerajaan ini," kata Vekran sedikit ragu ragu.
"Hm?" raja Erik sedikit bingung maksud dari pembicaraan dari Vekran.
Begitupun ratu Bilqis, ia tampak bingung, karena biasanya ketika ingin membahas tentang tahta anaknya ini lah yang paling suka menghindar, tapi kali ini anaknya ini lah yang memulai pembicaraan.
"Aku ingin William lah yang menjadi raja di kerajaan ini," ucap Vekran membuat keduanya terkejut.
"Apa maksudmu? Kau adalah anak pertama di sini," kata ratu Bilqis tak habis pikir dengan Vekran. "Ibu tahu kau tak pernah tertarik dengan tahta ini, tapi inilah takdirmu."
Vekran memandang wajah wanita tua itu, kemudian tersenyum ke arahnya. Ada rasa rindu untuk Ariana, sang ibu. Yang mungkin saja saat ini tengah menangisinya.
"Vekran..." kembali raja Erik menyadarkan Vekran dari lamunannya.
"Ah... sebenarnya setelah hamba terbangun dari kematian, ada sebuah misi yang hamba terima, untuk kembali menjalani kehidupan," jelas Vekran membuat keduanya terkejut.
"Maksudmu apa?" tanya raja Erik terkejut. "Lalu bagaiman dengan putri Melly?"
"Dia bernasib sama dengan ku, Kami sama sama bertemu di dimensi lain," kata Vekran, mencoba membuat kedua orang tua yang kebingungan. "Kami memang di takdir kan bersama."
Raja Erik terdiam mendengar penuturan dari Vekran, memang menurut informasi, Melly memang baru sadar, di hari yang sama dengan Vekran.
Raja Erik mengusap kasar wajahnya, bagaiman pun, ini adalah kewajiban anaknya, tapi ia tak ingin kembali kehilangan anaknya.
"Aku akan berusaha untuk kembali," bujuk Vekran, membuat raja Erik menghela nafasnya kasar.
"Karena itu kalian tampak sudah lama kenal?" tanya raja Erik, mengingat bagaimana Vekran memeluk Melly dengan erat, saat berada di gang. Ketika hendak menuju ke aula kerajaan barat.
"Ayah melihatnya?" tanya Vekran sedikit memerah, karena biar bagaiman pun, Vekran memang tak pernah menunjukkan kemesraannya di depan umum.
"Iya, apa karena itu kau tak menolak perjodohan itu?" tanya raja Erik, membuat Vekran hanya mengangguk, dengan wajah yang sudah memerah.
"Hah... baikalah aku akan mengangkat William secepatnya, dan melepas mu," kata raja Erik pasrah, lain hal nya dengan ratu Bilqis yang sudah berkaca kaca.
Ratu Bilqis mendekati Vekran, kemudian memeluk nya dengan sangat erat. Ada rasa tak rela akan kehilangan Vekran untuk kedua kalinya.
"Ibu tak apa, jika ada waktu aku akan kembali," ucap Vekran, sembari membalas pelukan wanita paruh baya itu.
"Iya kau harus melihat adikmu menikah," kata ratu Bilqis, mengusap air matanya yang sudah tak terbendung.
Vekran mengangguk, merasakan kehangatan dari ratu Bilqis, yang persisi seperti kehangatan yang di berikan Ariana. Mungkin mereka sama sama seorang ibu. Pikir Vekran.
"Iya ibu," kata Vekran, ini satu satunya cara untuk bisa menenangkan ratu Bilqis.
Ya, walaupun Vekran tidak mengerti cara berkomunikasi jarak jauh, selain dari kabar seekor burung merpati. Vekran akan tetap mencari tahunya, agar dapat memenuhi janjinya ini.
Setelah menyampaikan itu, Vekran segera kembali ke kediamannya, ada rasa lega di dalam hatinya. Rasanya beban yang selama ini ia pikul telah terangkat.
Lengkungan bibir sedikit terangkat, membuat wajah menawannya semakin bertambah. Apalagi mengingat beberapa hari lagi mereka akan menikah, ya jiwa mereka. Bukan tubuh mereka.
Meski ini jalannya, Vekran tetap bersyukur karen tetap di persatu kan oleh sang pujaan hati, yang sejak dulu selalu berusaha ia jaga.