
Sebulum pangeran Zang Limo pergi meninggalkan kamar Gu Ana, Gu Ana mengucapkan sesuatu.
“Kau harus ingat sesuatu hal, hari ini kau mengabaikan ku maka besok aku bukan lagi jangkauanmu.” Kata Gu Ana dengan air mata yang sudah tak dapat lagi di bending.
Gu Ana sengaja menahan air matanya sejak tadi agar terlihat lebih tegar saat di hadapan pangeran Zang Limo.
“Aku rasa semua sudah berakhir, aku harap aku akan kembali ke Daddy dan kakak lagi, kalian tahu aku sangat merindukan kalian.” Kata Gu Ana memandangi lukisan Daddy nya dan kakak nya. “Kalian tahu? Aku sangat merindukan kalian, akan kah aku akan kembali suatu saat nanti? Ini sudah dua tahun lebih di sini, sungguh waktu yang sangat cepat berjalan.” Kata Gu Ana dengan lirih.
…
Sementara pangeran Zang Limo kini berjalan dengan sangat emosi ke tempat pangeran Zang Handrong. Sesampainya di sana pangeran mendapati pangeran Zang Handrong tengah berbincang bincang dengan pangeran Nan Cheng.
Pangeran Zang Handrong dan pangeran Nan Cheng melihat kedatangan pangeran Zang Limo hanya mengerutkan keningnya, dan merasa sudah faham apa yang terjadi.
“Kalian bertengkar? Apa masalah kecemburuanmu? Coba kau ceritakan.” Kata pangeran Nan Cheng memandang pangeran Zang Limo dengan pandangan menyelidik.
Kemudian pengeran Zang Limo menceritakan semua apa yang terjadi saat berada di kamar Gu Ana, dan menceritakan pertengkaran mereka, hingga berujung pada pemutusan pertunangan mereka.
Mendengar cerita dari pangeran Zang Limo sontak membuat pangeran Zang Handrong dan pangeran Nan Cheng tercengan dengan hal tersebut.
“Cemburu buta sungguh mengerikan.” Celetuk pangernan Nan Cheng. “Aku rasa kali ini akan sulit untuk kembali berbaikan dengan An’er, atau bahkan dia tidak akan menerima mu kembali, kau tahu An’er paling tidak suka jika harga dirinya di lecehkan oleh seseorang, sebaiknya besok kau temui dia dan minta maaf.” Kata pangeran Nan Cheng sambil menggelengkan kepalanya.
“Jadi apa menurut kalian aku yang salah?” tanya pangeran Zang Limo sedikit kesal.
“Tidak, kami tidak bisa mengatakan bahwa kau yang salah, sebenarnya kita semua bersalah dalam hal ini, seandainya kita tidak merencanakan hal ini, maka An’er tak akan merasa kesepian, padahal jelas jelas An’er tak bisa dengan hal tersebut, maka wajar dia mencari teman baru, namun masalahnya An’er mendapatkan teman yang seperti mereka, sejujurnya aku sedikit mengerti apa yang mereka bicaraka, aku rasa salah satu dari mereka mengetahui bahwa kau adalah tunangannya, makanya saat orang yang memberikan kalung tersebut memberikan kalung kepada An’er dia melirikmu.” Kata pangeran Nan Cheng kepada pangeran Zang Limo.
“Sudahlah kau sebaiknya istirahat, dan tenangkan fikiran mu, besok sebaiknya kau bertemu dengan An’er dan membicarakan nya dengan baik baik, jangan sampai karna emosi hubungan kalian berakhir.” Kata pangeran Zang Handrong.
…
Ke esokan paginya pangeran Zang Limo bangun dan bersiap siap untuk bertemu dengan Gu Ana, di temani oleh pangeran Zang Handrong, dan pangeran Nan Cheng.
“Katakan pada An’er aku ingin menemuinya.” Kata pangeran Zang Limo kepada para penjaga.
“Maaf Yang Mulia Pangeran, Nona muda telah pergi pagi pagi sekali.” Kata penjaga tersebut tertunduk hormat.
Mendangar hal tersebut pangeran Nan Cheng menggelengkan kepalanya.
“Jadi kita harus apa sekarang?” tanya pangeran Zang Limo dengan frustasi.
“Sebaiknya kita menunggunya pulang, mungkin An’er akan pulang sore ini, ingat kau harus mengalah, kau harus minta maaf, jangan terpancing emosi, dan biarkan dia mengeluarkan seluruh kekesalannya pada mu, aku tahu An’er bukan tipe orang yang bisa marah berlama lama kepada orang lain.” Kata pangeran Nan Cheng kepada pangeran Zang Limo.
Pangeran Zang Limo mengangguk dan segera melangkahkan kakinya menuju gerbang utama kediaman keluarga Gu dan segera kembali ke istana untuk melakukan penghormatan pagi kepada raja Zang Zuan.
Setelah melakukan penghormatan pagi pangeran Zang Limo hendak berbicara dengan Gu Ana, namun Gu Ana di kerumuni oleh beberapa pemuda yang memberikan ucapan selamat ulang tahun, dan memberikan beberapa bingkisan kepada Gu Ana.
Karna kerumunan tersebut tak kunjung sepi pangeran Zang Limo berbincang sedikit kepada pangeran Zang Handrong dan pangeran Nan Cheng, karna keasyikan berbincang pangera Zang Limo tak menyadari bahwa kerumunan tersebut telah berakhir, dan Gu Ana juga telah meninggalkan tempat tersebut.
Sementara Gu Ana saat ini memilih untuk berkutat dengan seluruh gulungan gulungan laporan keuangan, untuk mengalihkan fikirannya. Setelah itu semua tengah hari, rupanya Gulungan itu semua telah selesai. Kemudian Gu Ana pergi ke kedai dan memakan makan siang sendirian tanpa di temani siapapun, suasana hati Gu Ana terlihat jelas saat ini sehingga tidak ada yang berani mengganggunya.
Karna pekerjaan telah selesai Gu Ana akhirnya ke istana untuk melakukan latihan bersama dengan pangeran Zang Jade, setelah sampai di istana Gu Ana segera menemui pangeran Zang Jade yang saat ini tengah melatih beberapa perajurit.
“Gege… ayo kita latihan bersama.” Kata Gu Ana sambil berlari kecil ke arah pangeran Zang Jade.
“Baiklah, karna kau memintanya, oh ya kenapa kau tak ikut berkumpul dengan yang lain? Dan tadi sepertinya kau memiliki banyak hadiah dari para mentri muda.” Kata pangeran Zang Jade menggoda Gu Ana.
Setelah melakukan latihan bersama pangera Zang Jade, akhirnya mereka sama sama mendapatkan bebrapa luka di tubunya. Kemudian Gu Ana memilih untuk undur diri dan menginggalkan Istana.
Setelah sampai di kediamannya Gu Ana segera memasuki pafilumnya dan bersiap untuk membersihkan diri. Saat Gu Ana memasuki kamarnya Gu Ana tidak menyadari bahwa pangeran Zang Limo saat ini berada di kamarnya juga. Gu Ana segera membersihkan diri, lalu menggunakan hanfu dan segera kembali ke kamarnya dan mengeringkan rambutnya. Setelah itu Gu Ana segera makan malam untuk mengisi perutnya yang sydah memina muntuk di isi.
Setelah itu Gu Ana segera menuju ke tumpukan hadiah dari para mentri muda dan beberapa penggemarnya. Saat Gu Ana ingin mendudukkan pantatnya di sisi ranjang, Gu Ana baru menyadari kehadiran pangeran Zang Limo.
Saat Gu Ana kembali berdiri pangeran Zang Limo menarik lengan Gu Ana hingga terduduk di pangkuannya.
“Pangeran apa yang anda lakukan?” tanya Gu Ana dengan datar, sambil memberontak.
“Ku mohon maafkan aku.” Kata pangeran Zang Limo menenggelamkan wajahnya di pundak Gu Ana.
“Apa yang harus saya maafkan? Di antara kita tidak ada yang harus di maaf kan, sebaiknya anda keluar pangeran.” Kata Gu Ana dengan nada yang ketus.
…
Jangan lupa like and comment, tolong tinggalkan jejak ya biar author tambah semangat, dan punya masukan agar bisa memperbaiki kesalahan yang author buat, sip… ok.