
Setelah selesai Ariana di pindahkan ke ruangan rawat inap, Arkan segera mendekati Ariana, kemudian memeluk tubuh Ariana. Sesekali menghujani Ariana dengan ciuman. Arkan tampak begitu bahagia. Membuat yang lain tersenyum melihat tingkah Arkan.
"Ar adek gua belum sadar, lo bisa ga sih jangan gitu, entar sesak lagi." kata Rayen, membuat yang lain menggeleng.
Rayen tampak begitu over protektif terhadap Ariana. Bahkan tampaknya saat ini Rayen akan melarang siapapun mendekati adiknya.
Tiba tiba seorang dokter kembali masuk, dan tersenyum. Dokter itu tampaknya hendak memeriksa Ariana.
"Dok bagaiman keadaan adik saya?" tanya Rayen tampak khawatir.
"Tuan tenang saja, saati ini pasien sedang dalam masa pemulihan, jadi Pasian bisa di katakan akan baik baik saja." kata dokter itu menjelaskan.
Mendengarkan hal itu, membuat semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut tersenyum lega.
"Om nama Baby nya siapa Om?" tanya Ayu antusias.
"Vekran Candana." kata Arkan tersenyum.
"Wih keren namanya Om, artinya apa?" tanya Vian penasaran.
"Vekran itu artinya penuh semangat." kata Arkan sembari mengulum senyum. "Vekran itu juga singkatan dari Hanvei, Arkan dan Ariana." lanjut Arkan.
Mendengar penjelasan dari Arkan, membuat Erick terharu. Karena cucu pertamanya tetap menggunakan sedikit sangkut paut, dengan nama keluarga besarnya.
"Waiss... kayaknya kalian butuh stok nama nama bagus ni." kekeh Rayen memandang Gilang dan Andr.
Mendengar kata kata Rayen membiay Gilang dan Andre menggenggam setuju. Membenarkan kata kata dari Rayen.
"Iya ini nih kita harus punya nama yang lebih keren." seru Gilang dengan semangat.
Mendengar Gilang membuat Yang lain bergeleng.
"Pedrosa aja deh keren tu, tau tau jadi pembalap" kata Rayen memberikan usul, sembari cekikikan.
Mendengar hal itu, Membuat yang lain tertawa, sementara Gilang melotot tak percaya.
"Nah kalau engga Ronaldo deh, ah atau Ronaldinho." kata Rayen lagi benar benar membuat yang lain tambah cekikikan.
"Keren sih keren, tapi ga gitu juga dong." seru Gilang sewot.
"Lah kan minta yang keren." kata Rayen pura pura polos.
"Ih Vian, suami kamu lagi ngidam kayaknya, gampang banget emosian nya." kata Rayen pura pura takut.
Mendengar kata kata Rayen membuat yang lain semakin tertawa, sementara Gilang semakin kesal.
Sementara Arkan terus memandangi Ariana, yang masih tidak sadarkan diri.
"Sayang bangun." keluh Rayen kesekian kalinya, sembari menggenggam tangan istrinya.
Tiba tiba Arkan merasakan pergerakan tangan dari istrinya membuatnya sedikit tertegun.
"Sayang..." kata Arkan, sembari melihat wajah Ariana.
Mendengar Arkan berbicara seperti itu, semua berhenti dari aktifitas, dan pembicaraan mereka.
Saat tengah hening, tiba tiba. Pintu terbuka, menampilkan sosok Armin. Armin datang dengan terburu buru, sebenarnya Armin dari kalimanatan, namun setelah mendapat telfon Ariana melahirkan, Armin segera kembali ke Jakarta.
"Assalamualaikum, gi mana keadaan Ana?" tanya Armin saat masuk ke ruangan Ariana.
Semau orang memandang Armin, yang baru saja masuk. Membuat Armin bingung. Bagaiman tidak orang memandangnya dengan pandangan aneh.
"Waalaikumsalam, masih belum sadar, kata dokter sebentar lagi." kata Farid, membuat yang lain mengangguk.
"Hm... kalian ngapain mandang saya begitu?" tanya Armin lagi.
"Habis masuknya tiba tiba sih bikin kaget aja, kirain siapa." kata Rayen.
Mendengar kata kata Rayen membuat yang lain mengangguk, sementara Armin hanya mengangkat alis nya sebelah.
"Eh Ana..." seru Armin.
Armin melihat Ariana mengedipkan matanya, seperti hendak membuka matanya, namun masih menyesuaikan pencahayaan.
Mendengar seruan Armin, yang lain segera mengalihkan pandangannya serentak, ke arah Ariana. Benar saja, saat ini Ariana tengah mencoba membuka mata nya, dan menyesuaikan pencahayaan yang masuk.
Dengan segera Arkan menekan tombol di samping tempat tidur, guna memanggil dokter.
Tak lama kemudian pintu terbuka, membuat semua orang memandang ke arah pintu.