
Dua minggu berlalu kini Atala dan Yanti telah resmi bercerai, surat dari pengadilan agama telah di kirim ke alamat tempat tinggal Anisa. Anisa sungguh terkejut entah bagaimana dirinya menyampaikan kepada sang kakak, bahkan saat anak mereka tertimpa musibah. Mantan kakak iparnya tersebut tak pernah mengunjungi sang anak. Entah lupa atau bagaiman, namun sedikitpun batang hidungnya tidak kelihatan.
Sementara Putra yang terus merengek ingin bertemu dengan ibunya selalu di alihkan sebisanya. Pasalnya bahkan saat ini nomor dari Yanti sudah tidak aktif lagi. Dan Atala harus bersabar menjelaskan bahwa ibunya sedang tidak bisa ke rumah sakit karena sibuk.
Sesampainya di rumah sakit Anisa dan Linda menarik nafasnya, bingung menyampaikan surat putusan pengadilan agama, tentang perceraian mereka. Entah mungkin ini yang membuat sedikit demi sedikit perilaku Atala berubah. Emosinya terkadang tak terkontrol, terlebih mendengar rengekan Putra yang hampir setiap hari.
"Kak ini ada surat," ujar Anisa menyerahkan sebuah surat pengadilan agama kepada Atala setelah Putra tertidur.
"Surat apa ini?" Atala terkejut menerimanya, Atala membuka surat tersebut perlahan.
"Surat pengadilan agama kak," ujar Anisa menunduk. Linda jangan di tanya lagi, wanita itu terus menunduk menyembunyikan rasa sedihnya dan rasa kasihan ya kepada Atala. Sudah terlalu banyak cobaannya saat ini.
"Bre*ng*sek," gumam Atala dengan suara besar. Hal itu tentu mengejutkan Putra.
Linda dan Anisa tak kalah terkejut, selama ini tak pernah melihat Atala Semarang itu, bahkan mengumpat. Atala selama ini selalu sabar, dan tak pernah berkata kasar kini tiba tiba mengumpat keras di hadapan mereka.
Putra itu seketika terbangun karena terkejut, Putra menangis tersedu sedu. Entah kenapa akhir akhir ini ia menjadi cengeng seolah bukan dirinya.
Atala yang merasa pusing, dan merasa kini berada di titik rendah, kini mulai terpancing emosi. Sudah kesal di gugat istrinya yang memilih selingkuhannya, kini anaknya harus ia rawat sendiri, tak mungkin ia memberi tahukan keadaan yang sesungguhnya kepada sang anak. Belum lagi ketika menghadap ke pintu luar, tampak sebuah bayangan tengah menertawakan dirinya. "Dasar tak berguna, istrinya saja meninggalakannya."
"Hust jangan begitu memang begitulah kehidupan," suara lain menyambutnya.
"Sudah lah biar dia yang urus," suara berbeda selanjutnya berbisik dengan terkekeh.
Atala yang merasa pusing dan setres dengan hal seperti itu kini mulai kehilangan kesabaran, dirinya bahkan selalu merasa di awasi, di gosip oleh orang yang tak ia kenal, suara yang asing di telinganya.
"Diam ya," bentak Atala frustasi, sontak semakin membuat Putra menangis.
"Mama... Tante..." Putra menangis memanggil orang yang di sayangnya.
"Tu dia manggil mamanya."
"Kangen itu."
"Cari dia."
"Jangan panggil mama lagi, papa pusing mendengarkannya. Jangan menangis kamu itu anak cowok," bentak Atala. Pikirannya benar benar menguras tenaga akhir akhir ini. Ia bingung sendiri terkadang, entah kenapa dirinya lebih mudah tersulut emosinya. Terlebih ketika mendengar suara suara aneh yang semakin jelas bermunculan, dulu hanya hatinya yang terkadang berdebat, kini suara suara itu sangat nyata di telinganya, seolah mengolok olok dirinya, mengomentari setiap aktivitasnya.
"Kak ayo keluar kita," ujar Linda segera menarik tangan Atala. "Kak dengarkan Linda..." Linda segera menggenggam kedua lengan Atala.
Atala yang emosinya benar benar di ubun ubun hanya mendengus kesal membuang wajahnya ke arah lain.
"Jangan marah dengarkan dia."
"Ayo masuk saja, luapkan saja kemarahan mu."
"Kak dengarkan Linda, Putra itu masih kecil, putra tidak tahu apa apa, tapi kakak se emosi ini, sebabnya ada apa sih kak?" Ucapan Linda membuat dirinya kembali ke alam bawah sadar, namun suara itu tetap terdengar meskipun sayup. "Linda tahu masalah perceraian kakak ini tentang perselingkuhan kak Yanti. Dan tentang rumah sakit ini."
"Yah benar sekali."
"Sudahlah."
Atala masih tak ingin menanggapinya memilih untuk membuang wajahnya, laki laki itu bingung mau menanggapi siapa. "Tapi kak, Putra belum tahu apa apa, dia masih kecil, wajar jika dia terus menanyakan keberadaan mamanya. Dia belum mengerti tentang penyakitnya dan barus menjalani semua perawatan dan kemoterapi, belum lagi dia butuh seorang ibu di sampingnya. Kami tidak bisa selalu ada di sampingnya. Linda harus kerja, Anisa harus menulis skripsinya. Jadi tolong kakak bersabar sedikit saja," bujuk Linda membuat Atala menghela nafasnya.
"Dengar itu."
"Kau akan kerepotan dan emosi mu tak bisa kau luapkan lagi."
"Diam lah."
"Iya kakak mengerti," ujar Atala mengangguk mengerti. Atala memilih untuk menekan emosinya agar tak menyakiti sang anak. Mamun suara keras dari ujung sana mengejutkannya, seseorang yang Atala yakini adalah seorang laki laki berteriak kencang.
"Dasar tidak berguna begitu saja kau tidak mengerti," Atala memandang ke sebrang lorong dan melihat seorang laki laki yang wajahnya tak jelas, namun Atala tak yakin jika tidak mengenalnya, Atala merasa mereka sangat dekat. Tak ingin terlalu pusing, akhirnya Atala mengajak Linda untuk segera masuk.
Entah kenapa akhir akhir ini Atala sedikit merasa aneh, entah kenapa ia terkadang merasa di awasi dan di lihat, ketika ia melihat ke arah belakang terkadang ia melihat orang asing, namun ia merasa kenal tengah menatapnya. Hal itu membuatnya frustasi dan terkandang menyebalkan emosinya tidak stabil.
Atala menghampirinya anaknya dan mengusap lembut kepala Putra. "Sayang maaf ya papa ga bermaksud, cuman papa lagi pusing saja akhir akhir ini."
"Iya pa, maaf nanti Putra tidak akan mencari mama lagi, Putra senang kok punya papa dan tante yang sayang sama Putra tidak pernah meninggalakan Putra," ujar Putra membuat Atala tersenyum dan mengecup puncak kepala anaknya.
"Iya sayang terimakasih atas pengertiannya sayang," ujar Atala duduk di samping Putra.
"Putra mau makan sayang?" Anisa segera memecahkan suara haru yang tiba tiba tercipta.
"Hm... mau makan bakso tante, bakso langganan kita," ujar Putra membuat Atala tersenyum.
"Kakak mau juga?" Anisa bertanya kepada Atala. Membuat Atala mengangguk mengiyakan.
"Ya sudah empat porsi bakso ya," ujar Anisa segera mengambil tasnya.
"Nis aku ikut pergi beli deh," usul Linda yang kini berdiri di samping Atala.
"Ga usah, kamu tunggu di sini aja, nemenin kak Atala buat jaga Putra. Takut dia mau sesuatu tapi ga bisa di tinggal," ujar Anisa berbohong, sesungguhnya Anisa hanya takut tiba tiba emosi kakaknya kembali tinggi. Karena akhir akhir ini emosi kakaknya tidak bisa terkontrol.
"Iya cepat ya, kami sudah kelaparan," ujar Linda membuat Anisa tersenyum. Linda yang memang mengerti maksud dari Anisa segera menyetujui ucapan Anisa. Dirinya juga takut Atala kembali tak bisa mengendalikan emosinya, dan menyakiti Putra.
^^^Kakak harus ke psikiater kali ya? Linda.^^^
Jangan lupa follow IQ othor @kang_anna_story