It'S Me

It'S Me
Episode 70



“Eh… si jumbo lagi tertawa, aduh kediaman Ses Wanto lagi gempa kayaknya.” Kata Gu Ana melihat Gu Mi tertawa. Sunggu Gu Ana tak terima jika mereka berdua terkena sedangkan Gu Min tidak sama sekali.


“Iya Chin Ses Wanto lagi menyendiri karna menjombo, dan jodoh tak kunjung datang.” Kata Gu Jun sambil melihat kea rah Gu Min, yang kini ekspresi wajahnya berubah menjadi kesal.


“Aduh Ses Wanto aku akan mendoakannya supaya cepat cepat mendapatkan jodoh, agar tak kesepian lagi.” Kata Gu Ana seolah priharin.


Tuan Gu mendengar anak anaknya mendoakan jodoh kepada orang yang tak Ia kenal, membuatnya angkat bicara.


“Kenapa kalian mendoakan orang lain, lebih baik kalian mendoakan Gege kalian.” Kata tuan Gu, sontak membuat Gu Ana dan Gu Jun tertawa keras.



“Ah… baikalah ayah, untuk pertama kami akan terus mendoakan agar Gege mendapat jodoh nanti saat berada di Akademi Rakyat.” Kata Gu Ana sambil tertawa. Sedangkan Gu Jun jangan di tanya lagi, Gu Jun tak sanggup lagi berkata, Gu Jun hanya sanggup mengangkat tangannya untuk tos degan Gu Ana. Gu Ana yang melihat Gu Jun mengajukan tos langsung Ia sambut dengan.


Tiba tiba kereta berhenti menyebabkan Gu Ana yang sejak tadi tak menjaga keseimbangan membuatnya terjatuh ke depan. Sontak membuat segala yang ada di kereta tertawa keras hingga membuat yang ada diluar kereta mendengar tawa mereka.


“Maaf kita telah sampai.” Kata pelayan mengingatkan mereka.


“Ah iya maaf.” Kata tuan Gu.


Setelah itu Gu Min turu terlebih dahulu, setelah itu baru Gu Jun kemudian tuan Gu, terakhir baru kemudian Gu Ana. Turunnya keluarga Gu membuat mata tertuju pada mereka, bukan hanya karna melihat wajah mereka yang menawan, namun karna kagum melihat kebaikan mereka yang membuka akademi untuk para rakyat biasa tanpa dipungut bayaran, dan bahkan di isukan lagi bahwa mereka akan diajarkan berbagai bahasa oleh keluarga Gu, karna keluarga Gu di kategorikan genius karna menguasai beberapa bahasa. Di tambah dengan kemampuan keluarga mereka yang mampu menaklukkan Negara Bei dengan begitu rapi, tanpa ada peperangan yang mengorbankan masyarakat. Jangan lupa dibantu oleh pangeran Nan Cheng.


Saat mereka sampai semua orang sudah berkumpul. Kini mereka tinggal menunggu rombongan keluarga kerajaan yang akan mengesahkan secara langsung. Sambil mengunggu Gu Ana hanya terdiam mendengarkan hiruk pikut masyarakat sekitar.


Banyak diantara masyarakat membicarakan tentang masalalu dari Gu Ana, banyak dari masyarakat prihatin dan kasihan dengan masalah yang menimpa Gu Ana saat masih umur 9 tahun.


Mendengar apa yang mereka bicarakan membuat Gu Ana kembali teringat bayangan kejadian tersebut. Wajah Gu Ana kembali menunduk, untuk menyembunyikan wajah sendunya. Menyadari hal tersebut Gu Min segera mendekat ke arah Gu Ana, sambil memeluknya Gu Ana yang sedang menahan tangisannya.


“Sudah lah An’er jangan dipikirkan lagi.” Kata Gu Min menenangka Gu Ana.


“Ah… iya lah mereka tukang gossip hanya karna hal tersebut mereka suka membicarakannya, aduh mereka aku rasa benar benar tidak memiliki kerjaannya.” Kata Gu Min mencoba mencoba menghibur Gu Ana.


“Kalau begitu kau lebih parah dari mereka.” Kata Gu Ana sedikit tertawa.


Mendengar kata kata Gu Ana, membuat Gu Jun sedikit ternganga, bagai mana mungkin Ia disamakan dengan mereka, yang hanya mendengar dari mulut ke mulut, membicarakan orang lain di depan umum, tanpa memikirkan perasaan orang lain.


“Ah… tidak juga, aku biasanya membicarakan yang kukenal saja, dengan orang yang dekat saja.” Kata Gu Jun membantah.


Gu Ana memandang Gu Jun jengah, begitupun dengan Gu Min. Gu Ana dan Gu Min sungguh tak mengerti jalan fikiran Gu Jun, karna menurut mereka jika sama sama membicarakan orang lain itu merupakan hal buruk. Tetapi meskipun Gu Ana mengetahui itu adalah hal buruk, namun Gu Ana masih suka melakukannya.


“Jadi apa bedanya Paijo.” Kata Gu Ana keheranan mendengar kata kata Gu Jun.


Kata Gu Ana sambil memutar bola matanya dengan malas. Sementara Gu Min sudah mengerutkan dahinya dengan pernyataan dari Gu Jun.


“Ya beda lah…” kata Gu Jun tak mau mengalah, karna menurutnya itu sangat berbeda, apalagi ketika Gu Jun di samakan dengan orang oranag yang suka menggosip sembarangan, tentang orang yang tak mereka kenal.


Ketika sedang asyik berbicara tanpa mereka sadari ternyata robongan keluarga kerajaan telah sampai. Tuan Gu menyadarkan mereka dari pertengkaran kecil tersebut, sambil memberikan kode kepada anak anaknya agar segera berjalan, dan mendekati kereta keluarga kerajaan sebagai tanda penghormatan. Kini meluarga Gu Ana berjalan ke arah tandu untuk menjeput keluarga kerajaan.


Tandu kerajaan terbagi menjadi tiga kereta, kereta pertama di isi oleh raja Zang Zuan dan ratu Xu Yian, sementara kereta kedua berisi putra mahkota Zang Liue dan putri mahkota Chu Yuan, dan kereta ketiga di isi oleh pangeran Zang Jade, pangeran Zang Handrong, pangeran Zang Limo dan pangeran Nan Cheng.


“Selamat datang Yang Mulia, semoga panjang umur sehat selalu.” Kata mereka serempak ketika memberi penghormatan kepada keluarga kerajaan.


Mendengar salam dari para rakyatnya, membuat raja Zang Zuan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, pakaian mewah berwarna merah bersulam benang emas bertanda sebuah pakaian kebesaran seorang raja, di tambah wibawa dan karismanya, serta wajah tampannya kini membuat semua orang menunduk hormat kepada raja mereka, tidak terkecuali keluarga Gu.


Saat keluarga kerajaan berjalan melewati seluruh hadirin termasuk keluarga Gu, pangeran Zang Limo memandangi Gu Ana sekilas, sambil tersenyum lembut. Lalu barisan keluarga kerajaan di ikuti oleh keluarga Gu.


Bisik bisik terjadi dimana mana, belum lagi saat pangeran Zang Limo yang terkenal dingin, dan acuh tiba tiba tersenyum lembut kepada nona muda keluarga Gu , Gu Ana. Membuat semua tatapan iri para wanita pemuja pangeran Zang Limo menyerangnya. Menyadari hal tersebut membuat Gu Ana tersenyum kemenangan di hadapan para gadis gadis tersebut.


Seteah mereka semua duduk di posisi masing masing dengan kedudukan raja Zang Zuan yang berada di kursi paling mewah di dampingi istrinya ratu Xu Yian, putra mahkota Zang Liue dan putri mahkota Zang Jade serta pangeran Zang Handrong berada di sebelah kanan raja, pangeran Zang Jade, pangeran Zang Limo dan pangeran Nan Cheng berda di sebelah kiri. Sementara  keluarga Gu berada di bawah singa sana, tepatnya di depan panggung, karna kedudukan mereka yang hanya rakyat biasa, namun juga sebagai tuan rumah. Membuatnya berada sedikit lebih dekat dengan panggung, hingga sejajar dengan beberapa pejabat istana.