
“Baiklah, lanjutkan ber mesraan kalian, aku akan kembali dulu.” Kata pangeran Zang Limo sambil meninggalkan Gu Ana dan pangeran Zang Limo yang saat ini tengah bermesraan.
Pangeran Zang Limo tersenyum kemenanga melihat kepergian pangeran Zang Jade, pangeran Zang Limo kembali mengeratkan pelukannya sambil mengangkat Gu Ana ke dalam pangkuannya.
“Apa nyaman jika begini?” tanya pangeran Zang Limo sambi terus mengelus kepala Gu Ana dengan lembut.
“Hm… sangat nyaman, dan enak.” Kata Gu Ana semakin menenggelamkan kepalanya sembari mencari kenyamanan. “Tetap begini untuk beberapa menit saja, aku sangat lelah.” Kata Gu Ana sambil memejamkan matanya.
Mendapatkan perlakuan Gu Ana yang manja kepadanya, pangeran Zang Limo sungguh senang di buatnya, sembari terus mengelus dan memeluk Gu Ana, untuk memberikan kenyamanan terhadap gadis tersebut.
“Iya, beristirahat lah, aku akan tetap di sini.” Kata pangeran Zang Limo sambil terus mengelus kepala Gu Ana.
Mendapatkan elusa dari pangeran Zang Limo membuat Gu Ana semakin nyaman, dan hangat. Tak butuh waktu lama Gu Ana tertidur dalam pangkuan dan pelukan pangeran Zang Limo.
…
Merasakan nafas teratur dari Gu Ana, pangeran Zang Limo berhenti mengelus kepala Gu Ana. Pangeran Zang Limo memandang Gu Ana, yang tengah tertidur dengan damai seperti seorang bayi mungil.
Pangran Zang Limo segera bersandar di dinding gazebo, dan tersenyum melihat wajah Gu Ana yang kini tengah tertidur pulas dalam pangkuannya.
“Kelihatannya kau sangat lelah.” Kata pangeran Zang Limo sambil memandang Gu Ana dengan tersenyum.
Para dayang yang melihat hal tersebut hanya dibuat geleng gelang di buatnya, mereka sudah mulai terbiasa dengan tingkat pangeran Zang Limo yang tak biasa saat bersama dangan Gu Ana.
Cukup lama Gu Ana tertidur di pangkuan pangeran Zang Limo, kini perut pangeran Zang Limo mulai merasakan gejolak, menuntut untuk di isi. Kemudian pangerang Zang Limo memanggil pelayan dengan suara kecil, untuk tak membangunkan Gu Ana. Pangeran Zang Limo memerintahkan dayang mempersiapkan makanan untuknya dan juga Gu Ana, karna pangeran Zang Limo sadar bahwa perut mereka berdua belum di isi sejak siang ini.
Setelah beberapa menit pangeran Zang Limo menunggu para pelayan untuk membawakan makanannya, akhirnya para pelayan tersebut membawakan makanan untuknya dan juga Gu Ana. Para pelayan menata makanan tersebut di atas meja, kemudian meninggalkan pangeran Zang Limo, yang kini masih setia memangku Gu Ana yang masih tertidur pulas.
Pangeran Zang Limo kemudian mengisi makngkuknya, dan mangkuk Gu Ana dengan makan yang telah di persiapkan para pelayan. Setelah terisi pangeran Zang Limo kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Gu Ana yang saat ini masih tertidur pulas dalam pangkuannya.
Pangeran Zang Limo memijit pelan hidung Gu Ana, guna membangunkan Gu Ana. Gu Ana yang merasakan gangguan tersebut segera membuka matanya secara perlahan, dan hal pertama yang Gu Ana lihat saat tengah bangun tidur yaitu, pangeran Zang Limo, yang tersenyum menawan ke arah Gu Ana. Melihat kedekatan wajahnya dengan pangeran Zang Limo, membuat jantung Gu Ana berdetak kencang.
Sementara Gu Ana yang menyadari posisinya saat ini, segera turun dari pangkuan pangeran Zang Limo. Belum sempat Gu Ana turun dari pangkuan pangeran Zang Limo, pangeran Zang Limo segera menahan Gu Ana, dengan tangan kirinya memeluk perut Gu Ana, kemudian menyodorkan air putih kepada Gu Ana.
“Minumlah sebelum makan.” Ucap pangeran Zang Limo sambil terus memeluk Gu Ana agar tak turun dari pangkuannya.
“Bisakah aku turun dari pangkuanmu? Lihat para dayang, mereka terus melirik ke arah kita, aku sangat malu.” Akui Gu Ana, sambil berusaha melepaskan dirinya dari pangkuan pangeran Zang Limo.
Mendengar pengakuan dari Gu Ana sontak membuat pangeran Zang Limo tersenyum, pangeran Zang Limo kemudian memberika kode agar meninggalkannya bersama dengan Gu Ana. Setelah para dayang meninggalkan mereka, kini pangeran Zang Limo mengalihkan pandangannya ke arah Gu Aa yang sekarang terkurung di dalam pelukannya.
“Sekarang tinggal kita tak ada lagi yang lain, jadi makanlah.” Perintah pangeran Zang Limo, dengan senyum penuh kemenangan.
Gu Ana memilih diam, dan mengambil mangkuk yang telah di isi oleh pangeran Zang Limo. Gu Ana tahu jika Ia berdebat dengan pangeran Zang Limo sungguh tidak ada gunanya. Gu Ana cukup tahu bahwa perdebatan kali ini akan di menangkan oleh pangeran Zang Limo. Lagian posisi seperti ini tidak terlalu merugikan untuk Gu Ana, bahkan bisa dibilang lebih membuat Gu Ana nyaman.
Pangeran Zang Limo yang merasakan tidak ada lagi penolakan dari Gu Ana, segera mengendurkan pelukan tanga kirinya.
“Makanlah setelah ini kau harus menemaniku untuk mengerjakan pekerjaanku.” Kata pangeran Zang Limo, Gu Ana hanya tersenyum mendengarkan kata kata daripangeran Zang Limo. Bukan membantu yang Gu Ana banyangkan, tetapi kelanjutan tidur siang yang Ia fikirkan.
“Kau masih ingat bukan dengan janjimu tadi pagi?” tanya pangeran Zang Limo, mengingatkan pembicaraan dan janji dari Gu Ana.
Mengingat hal tersebut membuat Gu Ana merutuk di dalam hatinya, sungguh Ia sangat menyesal tentang janji itu. Kenapa Gu Ana harus mengucapkannya, jika tidak mungkin Gu Ana akan kembali meneruskan tidur siangnya dengan damai. Pangeran Zang Limo memahami raut wajah Gu Ana, hanya tersenyum sambil kembali menyuapi dirinya sendiri dengan makanan yang hampir habis di mangkuk makanannya.
“Aku hanya menginginkan satu atau dua lagu saja.” Kata pangeran Zang Limo tersenyum kea rah Gu Ana, sambil menuangkan air ke dalam gelasnya, dan gelas Gu Ana.
Gu Ana yang melihat pangeran Zang Limo menuangkan air kedalam gelasnya hanya tersenyum, lagi lagi pria tersebut memperlakukannya sangat manis. Gu Ana tak pernah tahu kalau pria Zaman ini sangat romantis, sampai pada akhirnya Gu Ana bertemu dengan pangeran Zang Limo. Bahkan di dunianya dulu Ia takpernah diperlakukan se manis ini oleh pria selain kakak dan juga ayahnya. Gu Ana bahkan hanya bermain main dengan beberapa pria, untuk mengisi waktu luangnya saat selesai bertugas. Bukan bermain dalam permainan orang dewasa, namun lebih kepada ketidak adanya keseriusan dengan pria sebelumnya. Namun entah kenapa Gu Ana selalu marasa nyaman, dan aman ketika dekat dengan pria ini, bahkan Gu Ana sangat mempercayai pria ini.
…
Jangan lupa like and comment, tolong tinggalkan jejak ya biar author tambah semangat, dan punya masukan agar bisa memperbaiki kesalahan yang author buat, sip… ok.
Mohon maaf author cuman bisa up sedikit karena author tengah sibuk saat ini, dikarenakan harus berkutat dan bergelut dengan para tugas yang dengan tidak tahu dirinya semakin bertambah, terimakasih semoga kalian mengerti.