
"Yaudah ni sekalian bawa tas aku dong." ejek William tersenyum senang melihat wajah kesal Ariana.
"Eh kaleng Hongguan isi rengginang diam lo." kesal Ariana.
"Bocor ga kalengnya?" goda William.
"Kaga, makanya garing kayak lawakan lo." kesal Ariana, sembari memandang William dengan kesal. Yang hanya di tanggapi tawa oleh William, sungguh membuat Ariana semakin kesal.
Awas saja dia memerintahkan ku yang aneh aneh. Kesal Ariana di dalam hatinya.
...
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk." terdengar suara dari dalam ruangan yang di tuju Ariana dan William.
"Selamat siang sore Pak." sapa William saat memasuki ruangan Arkan.
"Hm..." kata Arkan sambil duduk di kursinya. Ariana segera membawakan kopi untuk Arkan, dan segera duduk di kursinya, sambil memandang wajah Arkan dan William dengan kesal.
Saat melihat mereka berdua rasanya, perpaduan manusia yang sempurna, akan membuatnya kesal setiap saat. Kemudian Ariana hanya mempu menghela nafas kesalnya, lalu kembali berkutat dengan berkas yang tersisa sedikit.
Saat berbincang bincang dengan Arkan, William teringat gambar pangeran Bao Ling, yang di kirim oleh Ariana di group chat. William memperhatikan wajah Arkan dengan seksama, seketika William tersenyum kemudian memandangi Ariana yang berkitat di berkas kantor.
Hahahaha, pasti Ana pingin nampol ni orang, tapi selalu di tahan, soalnya kalau nampol ni orang, serasa nampol suami sendiri. William tersenyum menahan tawanya, yang seakan meronta ingin di keluarkan. Seandainya di sini tidak ada Arkan mungkin saja William akan menertawai Ariana sekeras kerasnya.
"Ehem..." deheman Arkan membuyarkan lamunan William saat melihta Ariana. Wajah Arkan yang tadinya hanya datar, kini berubah dingin, William rasanya baru saja berbuat salah. William dengan segera menelan ludahnya dengan kasar, saat melihat ke arah Arkan yang seakan akan ingin menendangnya segera.
Dengan segera William mengembalikan fokusnya, dan menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.
Setelah pembicaraan mereka selesai, William segera keluar dari ruangan tersebut. Saat pintu ruangan kembali tertutup, barulah William meras sedikit lega.
Sedangkan Arkan segera memandang Ariana dengan seksama, yang saat ini tengah asyik menyelesaikan berkas terakhir sambil mendengarkan lagu menggunakan handset.
"Ana kamu bawa mobil?" tanya Arkan sambil menarik satu Handset yang berada di telinga kiri Ariana.
Saat Handset di tarik Ariana terkejut, dan segera memandang ke arah kiri. Alangkah terkejutnya Ariana ketika melihat wajah Arkan tepat di depan wajahnya. Detak jantungnya seakan melebihi saat Ariana bolak balik, pantry dan ruangan Arkan.
Arkan menelan ludah kasarnya saat melihat Ariana sedekat ini, padahal tadinya Arkan ingin menjahili Ariana, namun ternyata Arkan juga tak bisa menahan hatinya saat mereka tengah berdua.
"Om kenapa?" tanya Ariana dengan suara kecil, Ariana hanya berharap Arkan tak mendengarkan detak jantungnya yang seakan ingin keluar, saat melihat Arkan sedekat ini.
Arkan segera tersadar dengan tindakannya, yang sangat berpotensi untuknya. Arkan segera mengalihkan pandangannya menutupi kegugupannya, dan detak jantungnya yang seakan tak ingin berhenti berdetak kencang.
"Kamu bawa mobil?" tanya Arkan dingin menutupi kegugupannya, sembari menatap ke arah Ariana. Matanya seakan tak ingin berhenti melihat mata Ariana, yang saat ini tengah memandang nya dengan pandangan yang berbeda.
Cup.
Arkan mendaratkan bibirnya di bibir Arian, dan me*u*at*ya entah apa yang ada fikirannya saat ini, Arkan hanya merasakan rindu yang tak terbaca di hatinya.
Ariana terus mengerjap tak percaya, bagaiman mungkin Arkan melakukan hal ini. Ariana mencoba mendorong Arkan, namun entah kenapa tenaganya tiba tiba menghilang, ada rasa rindu yang sedikit terlepaskan di dalam dada Ariana, saat mendapatkan serangan dari Arkan. Ariana dengan perlahan memejamkan matanya, dan menikmati pria yang saat ini menjadi bosnya, lalu perlahan membalasnya.
Arkan yang mendapatkan respon dari Ariana, segera mengangkat tubuh Ariana, kemudian kemudian mendudukkan pantatnya di kursi yang baru saja diduduki oleh Ariana. Arkan seakan tak ingin kehilangan moment segera mendudukkan Ariana di pangkuannya, tampa melepaskan ta*ta*nya.
Arkan seakan sangat menikmati permainan ini, seakan tak ingin berhenti dengan alasan atau tampa alasan apapun.
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan pintu menyandarkan Ariana, dari aksinya, dan segera mendorong tubuh Arkan, namun Arkan sekakan tak ingin melepaskannya, kini menarik tengkuk Ariana semakin dalam.
Arian segera mencubit pinggang Arkan, hingga menyandarkan Arkan dan mengakhiri ci*man mereka. Arkan segera menyenderkan wajahnya di bahu Ariana, yang saat ini masih berada dalam pangkuannya, segera mengatur nafasnya.
"Ada apa?" tanya Arkan di sela nafasnya yang memburu.
"Ada orang." kata Ariana yang saat ini tengah menstabilkan nafasnya.
Arkan segera memandang Ariana, dan memperbaiki rambut Ariana, dan lipstick pich yang berantakan akibat ulahnya. Arkan segera berdiri sambil menggendong Ariana, dan segera meletakkan Ariana di kursi Ariana.
Cup.
Kembali Arkan mengecup bibir Arian sekilas, dan segera duduk di kursi kebesarannya, lalu mengambil tisu untuk menghapus jejak lipstick Ariana.
"Masuk." Kata Arkan dari dalam ruangannya, dengan segera seorang laki laki, dengan umur 20 tahun segera memasuki ruangan tersebut. Ariana tersenyum canggung ke arah laki laki itu, karna pikirannya masih melayang, dan mengingat dengan apa yang Ia dan Arkan lakukan.
Setelah meletakkan dokumen yang di minta Arkan, laki laki tersebut segera keluar dari ruanagan Arkan. Arkan yang melihat Ariana yang masih tampak berfikir keras, hanya menghela nafas, sambil tersenyum samar.
"Aku yang akan mengantar mu." kata Arkan tiba tiba membuyarkan lamunan Ariana.
"Tapi Om..." keluh Ariana, karna masih canggung, dengan aksi mereka barusan.
Eh tunggu kok gue yang canggung ya? Kan yang nyosor dia. Kata Ariana dalam hati.
"Tidak ada tapi tapian, bereskan barang kamu, kita akan pulang." perintah Arkan kepada Ariana, yang seakan tak ingin di bantah.
Arkan dan Ariana saat ini tengah berada di lift, tidak ada pembicaraan yang terjadi di antara mereka.
"Minggu depan kita akan ke Bali." kata Arkan sambil meninggalkan Ariana di dalam lift.
...
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanyak banyaknya telah mendukung, meramaikan, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.
Maaf teman teman jaringanku error ini aku harus bersabar, dan bersabar bisa upload.