
“Aduh memang susah kalau direktur ini sudah berbicara, para ibu ibu kompleks, gadis gadis, dan remaja wanita bahkan bapak bapak dan abang abang terlihat terkesima melihat penampilannya.” Goda Gu Ana kepada Gu Min, yang dibalas hanya dengan usapan lembut tepat dikepala Gu Ana.
“Ya iya lah kalau kau yang maju aku khawatir, jangan jangan kau akan mengeluarkan bahasa Franc mu, kau kan tumbuh dan besar di sana.” Kata Gu Jun menggoda Gu Ana.
“Ah… bukan itu yang aku khawatirkan, aku kan anak jaksel jaksel gituh, aku takut akan mengeluarkan bahasa which is, atau literally aku. Ah yang lebih aku khawatirkan adalah aku takut keceplosan dan mengajak mereka bergosip ria saat di atas, kan tidak enak pula ketika aku maju aku memintamu ujuk menyambungkan gosipku, dan meminta para gadis gadis, dan ibu ibu untuk menyampaikan gossip dan memulai pergosipan dengan sangan Hot…” kata Gu Ana sambil cengegesan, dan membayangkan dirinya benar benar melakuka hal itu.
“Ya ibu yang mengenakan hanfu kuning, di pojokan sana bu, ibu ngapain rame rame, tadi saya liat ibu sedang mengobrol ya, pasti gossip kan? Ayo bu bagi bagi gosipnya dengan saya, biar kita bergosip ria bersama.” Kata Gu Jun dengan memperagakan gerakan saat di panggung.
“Maaf saya tadi hanya menggosipi suami saya yang ketahuan selingkuh dengan tetangganya tetangga saya, yang janda kembang desa tujuh turupa.” Kata Gu Ana dengan memposisikan diri sebagai ibu ibu yang Gu Jun maksud.
“Lah memangnya jarak anara rumah ibu dengan selingkuhan suami ibu berapa rumah?” tanya Gu Jun.
“Hanya beda satu rumah papah gedek.” Kata Gu Ana seolah olah curhat.
“Nah dari situ berarti kita simpulkan bahwa dia adalah tetangga kamu.” Kata Gu Jun lagi.
“Engga, saya nga nganggap dia tetangga saya.” Kata Gu Ana seolah olah sangat sakit hati.
…
“Aku dulu udah ngaggap dia keluarga sendiri, tapi dianya malah berhianat.” Kata Gu Ana dengan wajah sendu.
“Bagaiman menghianatinya ibu tolong jelaskan.” Tanya Gu Jun sok penasaran.
“Saya ga mampu menceritakan pahitnya penghianatannya papah dedek, namun saya hanya mampu mengatakan…” kata Gu Ana tergantung dan seolah menarik nafas panjang untuk menceritakannya. “Mas selingkuhin aku, dan mas bilang itu semua udah lewat, mas jahat, mas tega sama aku, mas jangan, jangan, lepasin! Jangan sentuh aku! Aku jijik! Aku jijik sama mas! Jijik! Jijik! Jijik! Aku benci aghh.” Kata Gu Ana dengan senandung agu tiktok aku jijik sama mas, sambil bergoyang ala tiktok, dan di ikuti oleh Gu Jun, sementara tuan Gu dan Gu Min yang melihat kelakuan adiknya, hanya menggeleng geleng takpercaya, kadang bertengkar, dan kadang juga kompak seperti sekarang ini, tua Gu dan Gu Min hanya bisa menggeleng melihat hal tersebut sambil mengusap kepala Gu Ana dan Gu Jun, yang saat ini nampak tertawa dan tak merasa terganggu oleh usapan dari Gu Min.
Perlakuan mereka sungguh sangat merarik banyak orang,ditambah dengan sedikit goyangan ala tikitok Gu Ana dan Gu Jun yang menambah keimutan mereka, somtak membuat mata yang memandang menjadi gemas melihat keakraban mereka.
Sementara Gu Ana yang di usap kepalanya justru bermanja dengan Gu Min dan minta kepanya di usap lagi. Melihat hal tersebut sontak membuat Gu Jun jengah melihat sikap Gu Ana. Saat kepala Gu Ana mulai di usap lagi oleh Gu Min, Gu Jun mmutar bola mata malasnya.
“Aduh kau bahkan mirip kucing peliharaanku, yang suka di elus kepalanya.” Ejek Gu Jun kepada Gu Ana.
“Ya… jangan samakan aku dengan kucingmu, walaupun kucing itu imut, tapi aku juga lebih imut dari kucing, dan lagi kucing tetaplah kucing, sedangkan aku kan merasa manusia, maksudku aku memang manusia.” Kata Gu Ana dengan kesalnya kepada Gu Jun.
Mendengar Gu Ana meralat omongannya sendiri membuata Gu Min dan Gu Jun tertawa dibuatnya. Karna hampir saja Ia salah sebut untuk dirinya sendiri.
“Ya, ya, ya… kau memang lebih manusiawi dari pada kucing.” Ejak Gu Jun kea rah Gu Ana.
Mendengar hal tersebut sontak membuat Gu Ana kesal, Gu Ana terus memutar otak agar dapat mengalahkan perdebatannya dengan Gu Jun.
“Ah… Gege kenapa kau berhenti mengusap kepala ku?” kata Gu Ana dengan nada manja kepada Gu Min.
Gu Min sontak kembali mengeus kepala Gu Ana, kini Gu Min memandang wajah Gu Ana dengan seksama, saat kepala Gu Ana di usap, Gu Ana memang lebih mirip seekor kucing kecil yang penurut, hingga membuat Gu Min mencubit peln pipi Gu Ana.
Sementara Gu Jun melihat hal itu sungguh di buat jengah dengan kelakuan Gu Ana, yang sangat suka kepalanya di elus oleh Gu Min.
“Yak… kau benar benar mirip sekarang.” Ejek Gu Jun sambil memandang penuh kejijian dengan Gu Ana.
“Kenapa kau berkata seperti itu Jun’er? Apa kau ingin juga? Kalau begitu ayo sini.” Kata Gu Ana sambil tersenyum keara Gu Min memberikan kode untuk ikut serta.
Lalu salah satu tangan Gu Min dan Gu Ana kini mengelus dan menghancurkan tatanan rambut Gu Jun, yang sontak saja membuat Gu Jun kesal sambil menggerbikkan mulutnya. Kemudian dengan gemas sekaligus ganas Gu Min dan Gu Ana menarik pipi Gu Jun. Sementara tuan Gu yang menyaksikan keakraban anaknya hanya menggeleng gelang sambil tersenyum.
Sementara orang orang yang menyaksikan keakraban mereka dibuat tersenyum senyum sekaligus salut akan kekompakan dan keharmonisan dari keluarga Gu.
Lain halnya pangeran Zang Handrong, dan pangeran Nan Cheng, yang merasa merka pasti memiliki pembicaraan yang menarik, sungguh ingin bergabung hanya untuk sekedar bergosip ria sekaligus bercanda dengan mereka. Sedangkan pageran Zang Limo, sudah sedikit kesal karna Gu Ana terlihat sangat nyaman bermanja dengan Gu Min, sedangkan dengannya pangeran Zang Limo merasa Gu Ana tak pernah melakukan hal tersebut, di tambah sorotan dari para laki laki yang mengarah kepada Gu Ana, karna Gu Ana hari ini sedikit berhias sehingga menambah kesan cantik di wajah imut nan manis dari Gu Ana.
“Limo tenang lah dia hanya bercanda dan bermanja dengan Gegenya, dan Jun’er, bukan kepada lelaki lain. Dan satu lagi jangan begitu kesal melihat tatapan lelaki lain kepada An’er, percayalah itu diluar kendalinya, jika memang sikapnya yang mudah menarik perhatian orang orang, itu memang sudah sikapnya. An’er aku yakin tak bermaksud seperti itu.” Kata pangeran Zang Jade menasehati pangeran Zang Limo, yang terkadang cemburu terlalu berlebihan. Mendengar hal tersebut sontak membuat pangeran Zang Limo menunduk, dan memikirkan ucapan pangeran Zang Jade yang menurutnya ada baiknya juga. Kemudian pangeran Zang Limo kembali memandangi Gu Ana dengan penuh kasih sayang, yang ternyata di sadari oleh Gu Ana. Kemudian Gu Ana menunjukkan tanda hati kepada pangeran Zang Limo yang membuat pangeran Zang Limo tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
“Wah… pangeran bucinmu memang sulit untuk di goda ya, langsung tersipu malu seperti putri malu.” Ejeka Gu Jun.