It'S Me

It'S Me
Episode 76



“Aku lebih baik melihat dari dari pada mendengar, kalian tahu saat aku tengah pergi ke suatu tempat yang sangat terpencil di daerah tersebut, aku mendengar tawa seorang wanita yang sangat menakutkan, kemudian tawa itu berangsur angsur berubah menjadi tangisan yang sangat pilu, itu sangat menyeramkan, karna dia tertawa dan menangis di saat yang bersamaan dan terdengar sangat dekat, namun di saat yang bersamaan juga tidak ada.” Kata Gu Ana sambil bergidik ngeri ketika mengingat hal itu.


“Kau melihat mereka sangat dekat atau jauh?” tanya pangeran Zang Handrong kembali.


“Terkadang aku melihat mereka dari dekat, contohnya saja saat aku berkunjuk ketempat lain, aku berbaring di tempat tidurku, saat itu entah kenapa aku sangat ingin tidur lebih cepat, namun tiba tiba di tengah malam aku terbangun dan mendapati seorang wanita sedang berada di atasku, mungkin jaraknya setengah meter. Wanita itu berwajah datar, dan pucat, tidak ada senyum di wajahnya, hanya saja matanya terus memandangku, rambutnya pendek sebahu, dan mengenakan baju putih. Dan pada saat malam menyingsing, matahari baru saja tenggelam aku melihat seorang wanita berdiri dengan setinggi tempat tersebut, tengah melihat ku sambil mengeluarkan lidahnya hingga keperut, karna terkejut, aku mengalihkan pandanganku, pada saat padanganku kembali makhluk itu sudah tidak ada lagi.” Kata Gu Ana membayangkan sambil menceritakan pengalamannya.



Mendangar cerita mengerikan Gu Ana sontak membuat mereka brgidik ngeri akan hal tersebut, membayangkannya saja membuat mereka merinding ketika mengingatnya.


“An’er apa yang kamu pernah melihat yang tampan dan juga cantik?” tanya pangeran Nan Cheng kepada Gu Ana.


Mendengar hal tersebut membuat Gu Ana tersenyum membayangkan sesuatu yang di dalam ingatannya.


“Tergantung mereka, tergantung level kekuatan mereka, ketika kekuatan mereka besar mereka maka mereka bisa berubah tampan atau pun menyeramkan, tapi aku dapat melihat mereka dalam keadaan tampan dan cantik, bahkan lebih tampan dan cantik dari manusia mana pun yang pernah aku temui.” Kata Gu Ana sambil memandang lurus, “Tapi sayang terkadang mereka melayang atau tidak memiliki kaki, atau bahkan mengira bahwa dia belum mati.” Kata Gu Ana dengan santainya.


“Benar benar menyeramkan.” Kata pangeran Zang Handrong bergidik ngeri.


Mendengar kata kata pangeran Zang Handrong, Gu Ana tersenyum misterius memandang lurus kearah pohon yang berada di tepi kolam.


“Itu semua tidak cukup menyeramkan. Kalian mau mendengarkan ceritaku yang lebih menyeramkan?” tanya Gu Ana masih memandang lurus dengan tersenyum kecut.


“Apa itu?” tanya Pangeran Zang Limo penasaran, sambil memegang tangan Gu Ana.


“Kalian tahu, aku perna terus di ganggu setiap malamnya, hingga aku tak bisa tidur nyenyak, mereka selalu menggangguku. Dan itu bukan hanya sekali dua kali. Melainkan selama tiga tahun berturut turut.” Kata Gu Ana dengan raut wajah sendu. Mendengar hal tersebut sontak mebuat mereka semua memasang ekspresi wajah yang serius.


Gu Ana kemudin menceritakan pengalaman nya saat masih sebagai Ariana.


“Empat tahun lalu, aku mulai merasakan saat yang aneh dalam hidupku, setiap menjelang malam aku selalu mendengar seseorang mengetuk pintuku, karna awalnya aku tidak tahu jadi aku selalu membukanya, namun pada saat aku membuka pintu selalu tidak ada orang. Awalnya kau mengira seseorang ingin menjahiliku, namun setelah seminggu akhirnya aku bosan membukakan pintu.” Kata Gu Ana dengan nafas yang berat. “Kemudian ketukan itu berubah menjadi panggilan dengan seseorang ku kenal, suara itu mirip dengan pelayan ku, awalnya aku marah kepada pelayan ku, namun suatu saat ketika pelayanku sedang bersamaku, suara itu kembali memanggiku dengan suara pelayan ku, namun aku mengabaikannya, pasalnya saat itu pelayan itu bersamaku, namun setelah panggilan itu berakhir aku bertanya kepada dayang ku apakah ada seseorang tadi yang memanggil di luar, ternyata dayang ku tidak mendengar apapun sama sekali, padahal aku mendengarnya dengan jelas, minggu berikutnya kembali suara itu memanggil namun dengan suara yang lebih keras, suaranya berat seperti seorang laki laki, suara aneh it uterus berteriak memanggilku selama satu minggu, namun anehnya pelayanku yang ada di dalam ruangan tidak ada yang merespon seolah itu hanya aku yang mendengarkannya. Seminggu kemudian aku kembali mendengar ketukan, ah bukan ketukan melainkan suara gedoran pintu yang seolah ingin mendobrak pintuku, namun anehnya lagi para dayang dan penjaga tidak ada yang mendengarnya, padahal suara itu sangat jelas di telingaku.” Kata Gu Ana dengan pandangan masih lurus kedepan, seolah membayangkan kejadian tersebut.


“Awalnya aku kira aku sakit jiwa, jadi aku mencari tabib agar aku bisa mengobati kejiwaanku. Namun saat aku menuju ke tempat tabib aku bertemu dengan seorang cenayang, tiba tiba cenayang itu berkata, aku telah di ikuti oleh sesosok makhluk halus yang menginginkanku. Awalnya aku tak percaya hingga setiap malam di tidur ku aku selalu didatangi oleh seseorang dengan wajah rupawan, namun setiap kali aku ingin bergerak semua pergerakanku terkunci bahkan suarakupun terkunci, aku sadar namun tak mampu melakukan apapun, untungnya makhluk itu hanya mampu melihatku dari kejauhan tampa bisa mendekat, karna cenayang itu memberiku jimat yang harus selalu ku pakai kemanapun dan dimana pun. Hingga akhirnya makhluk itu sangat marah dan mulai mencekikku, aku ketakutan setengah mati, namun tak dapat berteriak, pada saat yang bersamaan seorang dayang masuk ke ruanganku, Ia terkejut melihat ku setengah melayang di udara memang tidak terlalu tinggi namun tidak menyentuh tempat tidurku, sambil memegangi leherku, mencoba mengeluarkan suara namun yang terdengar hanya keluhan suara yang bahkan bukan suaraku sama sekali, setelah beberapa menit aku pun tersadar dan terhempas di tempat tidurku. Sedangkan dayangku sudah shok tak percaya.” Kata Gu Ana sambil memegang tangan pangeran Zang Limo dengan erat.


“Kemudian ke esokan harinya aku datang ke tempat cenayang itu, untuk meminta pertolongannya, lalu dia mengobatiku menghilangkan makhluk yang menempel padaku.” Kata Gu Ana sambil tersenyum lega.


“Jadi minpi buruk apa kalian?” tanya Gu Ana kepada yang lainnya.


“Aku bermimpi sedang berada di rumah hantu itu lagi, dan aku terpisah dari kalian, aku memanggil manggil nama kalian, namun tiba tiba ada sosok yang menyeram kan yang mengejarku, sungguh rumah hantu mu itu yang pertama untukku.” Kata pangeran Zang Jade berterus terang.


“Lalu yang lain bagiamana?” tanya Gu Ana kepada teman temannya yang lain.


“kami juga bermimpi hampir sama seperti itu.” Kata yang lainnya serempak.


Mendengar hal tersebut sontak membuat Gu Ana memicingkan alis kirinya, kemudian Gu Ana memasang wajah serus melihat mereka satu persatu.


“Kalian tahu tidak dirumah hantu itu cuman ada sembila pemain, namun semalam anehnya saat aku hitung ada sepulu hantu, dan kalian tahukan hantu yang terakhir yang kita temui dirumah hantu itu? Aku merasakan hawa yang berbeda, aku tahu kemungkinan kalian memimpikan dia…” kata Gu Ana, sontak membuat mereka semua menegang, karna memang benar hantu terakhir adalah hantu terseram yang mereka lihat semalam. Sejenak Gu Ana menarik nafasnya dalam dalam dan kembali membuka suara. “Sebenarnya, aku ingin mengatakan hal ini sejak semalam saat berada di rumah makan, aku merasa susuatu mengikuti kita, dan aku melihatnya sama seperti hantu terakhir yang ada di rumah hantu itu, awalnya aku mengira salah lihta, tapi lama kelamaan menjadi jelas sekarang…” kata Gu Ana menggantungkan kata katanya, sejenak melihat wajah wajah yang semakin menegang karna ketakutan. “Sepertinya dia mengikuti kita sejak semalam, dan aku bisa merasakannya bahwa dia sangat menyukai aura salah satu di antara kita…” kata Gu Ana kemudian menghirup nafas dengan sangat berat, dan memandangi mereka satu persatu.