
"Cheng Cheng kau sungguh hebar, tak sia sia aku memiliki teman sepertimu." Kata Gu Ana, memuji pangeran Nan Cheng. Sontak membuat mereka semua tertawa, mendengar pujian yang lebih mengarah kepada kesombongan.
Setelah puas berenang, Gu Ana naik terlebih dahulu, kemudian mengganti pakaiannya yang basah dengan hanfu baru. Sedangkan yang lain masih berada di dalam Air, kemudian bergiliran untuk mengganti pakaiannya. Kemudian Gu Ana segera mendekati para penjaga, dan yang sedang memanggang, hasil buruan, untuk sarapan mereka.
...
Kini waktunya pulang telah tiba, Gu Ana, raja Bao Ling, pangeran Nan Cheng, dan Gu Min segera menaiki kuda. Raja Bao Ling, meminta Gu Ana agar berada di kuda yang sama dengannya, sedangkan Gu Min dan pangeran Nan Cheng menaiki kudanya satu persatu. Saat di perjalanan, Gu Ana tiba tiba mengantuk, ya rasa kantuk terkena angin sepoy sepoy kembali menyerang, hingga membuat Gu Ana tak kuat menahan kantuknya.
"Tidur lah jika ingin tidur, bersandarlah." Kata raja Bao Ling mengelus kepala Gu Ana, sambil tersenyum. Sementara Hi Ana menyandarkan kepanya di dada bidang raja Bao Ling, sembari mencari kenyamanan.
"Bangunkan aku setelah sampai di pemukiman." Kata Gu Ana, sembari menutup matanya.
"Baiklah, istri ku." kata raja Bao Ling, menggoda Gu Ana.
"Ha siapa? kapan?" tanya Gu Ana, mendongakkan kepalanya dan memandang raja Bao Ling.
Cup.
Raja Bao Ling mendaratkan ciumam di bibir Gu Ana.
"Tentu saja kau." kata raja Bao Ling, kembali menatap ke arah depan, menjalankan kudanya. "Tidurlah, kapan lagi kau akan tidur di pangkuan seorang raja Bao Ling." kata raja Bao Ling, sontak membuat Gu Ana mendongakkan kepalanya. "Tentu saja An'er ku sayang, setelah ini aku akan kembali dan menyerahkan tahtaku dengan adikku dan menikahimu." kata raja Bao Ling, dengan tangan kanan yang memeluk Gu Ana dengan erat.
"Aku masih kecil..." kata Gu Ana, menutupi kegugupannya.
"Aku tak oerduli, yang penting kau menjadi milikku." kata raja Bao Ling, memeluk Gu Ana.
"Umur kita jauh berbeda." kata Gu Ana.
"Siapa bilang? umurku tujuh belas tahun, dan kau dua belas tahun, kita hanya berbeda lima tahun." kata raja Bao Ling, menepuk kepala Gu Ana. Raja Bao Ling segera menutup mulut Gu Ana yang hendak berbicara. "Diam lah, kau tahu aku ingin sekali menghentikan kudaku di sini, dan menciummu." kata raja Bao Ling menyentuh bibir Gu Ana. "sekali lagi kau menjawab, dan tak tidur aku akan benar benar melakukannya." kembali raja Bao Ling memperingati Gu Ana. "Kau tahu, bibir mu benar benar sangat manis." bisik raja Bao Ling, membuat wajah Gu Ana memerah.
"Carikan tandu dua tandu." kata raja Bao Ling menghentikan kudanya.
"Kenapa? Apa kau terluka?" tanya pangeran Nan Cheng mendekati Raja Bao Ling, sementara Gu Min saat ini berhenti di samping Hyung, mereka terlihat membicarakan sesuatu yang penting.
Saat mereka tengah asyik berbicara, tandu yang di inginkan raja Bao Ling oun akhirnya sampai.
"Hormat hambah Yang Mulia, tandunya telah siap." kata pengawal tersebut.
"Cheng tolong gendung An'er sebentar." kata Raja Bao Ling, menyerahkan Gu Ana yang sedang tertidur. Pangeran Nan Cheng segera menggendong Gu Ana, yang tengah tertidur pulas. Setelah Raja Bao Ling turun, raja Bao Ling segera mengambil alih Gu Ana dan segera membawanya ke salah satu tandu.
"Aku dan An'er disini, kau dan Min di tandu satunya." kata raja Bao Ling segera membawa Gu Ana ke dalam tandu.
"Hais dasar modus." kesal pangeran Nan Cheng, melihat tingkah raja Bao Ling, yang ingin bersama Gu Ana.
Raja Bao Ling saat ini tengah memangku Gu Ana, yang sedang terbaring. pandangannya terus menerus mengarah kepada Gu Ana, tangan raja Bao Ling kini mengelus setiap inci wajah Gu Ana. Kini tangan raja Bao Ling telah sampai ke bibir Gu Ana, ingatannya kembali terngiang, bagaimana raja Bao Ling mencium bibir Gu Ana. Sesuatu di dalam hatinya terus mendorong, untuk meminta merasakan manisnya bibir Gu Ana. Pelan namun pasti, raja Bao Ling mendaratkan ciumam di bibir Gu Ana, sambil terus mencium raja Bao Ling memejamkan matanya, menikmati permainan nya. Kemudian melepas kembali tautannya, kemudian menciumnya lagi, hingga berkali kali. Tak ada rasa bosan, yang ada hanya rasa ingin lagi lagi dan lagi, rasanya raja Bao Ling haus yang tak pernah akan tercukupi, ketika mencium bibir Gu Ana.
"sudah puas?" tanya Gu Ana, tiba tiba membuka matanya. Raja Bao Ling terkejut, ketika melihat Gu Ana tiba tiba bangun. Kemudian tersenyum sambil terus memandangi wajah Gu Ana.
"Belum dan tak akan pernah." kata raja Bao Ling, segera kembali mencium dan ******* bibir Gu Ana, kemudian melepasnya kembali. "Aku tak akan pernah puas." kaya Raja Bao Ling, kembali mencium bibir Gu Ana, namun kali ini, lumatannya sedikit lebih dalam.
...
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanyak banyaknya telah mendukung, meramaikan, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Maaf teman teman jaringanku error ini aku ke tempat temanku baru bisa upload