
"Mabar yuk." kata Bima segera mengundang Ariana, ikut ke dalam permainan, area yang telah di persiapkan.
Tak lama kemudian seorang dosen masuk ke kelas Ariana, membuat Ariana dan Bima segera memperhatikan mata kuliah. Mereka tampak antusias dengan mata kuliah tersebut, karna dosen yang mengajarinya, juga sangat asyik dan menyenangkan. Ariana bahkan mampu nenyerat semua pengajaran yang diberikan, Ariana terus memperhatikan dosen tersebut. Bima merasakan sorotan tak enak menuju bangku mereka, benar saja Arkan saat ini tengah menyoroti Ariana yang saat ini, asyik menikmati wajah dosennya, yang memang super tampana, dan juga ramah. Ariana sesekali tersenyum saat pandangan mata nya dan dosen tersebut beradu.
...
Bima segera menyenggol tangan Ariana, membuat Ariana memandang Bima, dengan tatapan bingung. Bima segera memberikan kode untuk memandang ke arah jendela, tempat Arkan saat ini menyoroti Ariana. Ariana yang mengerti maksud dari Bima, segera memandang ke arah jendela. Alangkah terkejutnya Ariana, ketika melihat Arkan sedang berdiri memandanginya, Ariana menelan ludahnya kasar, ketika beradu pandang dengan Arkan, yang seolah mengatakan kalau setelah ini harus menuju ruangannya. Setelah mereka beradu pandang, Arkan kemudian berlalu, dengan wajah datar dengan pandangan yang super dingin.
"Ma*ti metong aku chin, kenapa ga bilang dari tadi sih?" tanya Ariana, membayangkan kemarahan dari Arkan, sang tunangan posesif plus pencemburu.
"Gue juga baru sadar, makanya langsung nyenggol lo." kata Bima menjelaskan, namun pandangan mereka kembali memperhatikan pelajaran dari dosen mereka. "Ma*pus lo kali ini An." kata Bima menakut nakuti Ariana.
"Ih jangan gitu dong." keluh Ariana dengan suara berbisik, sambil sesekali pura pura mencatat materi dari dosen super tampan mereka.
"Emang lo ada hubungan apa sih sama tu dosen?" tanya Bima penasaran.
"Yang mana?" tanya Ariana, memandang Bima.
"Ais Pak Arkan." jelas Bima.
"Dia tunangan gue, dua minggu lagi marriage." jelas Ariana, membuat Bima menganga tak percaya.
"Wah parah lo, ga bilang bilang." kata Bima sembari terus berpura pura mendengarkan ucapan dosen mereka, yang tengah menerangkan. "Mapus lo, entar di terkam lo, gara gara senyum sama tu dosen." kata Bima berbisik, setengah tertawa. Ariana mendengarkan kata kata Bima menelan ludahnya dengan kasar. Namun kembali tersenyum, kala pandangan nya dan pandangan dosen tampan tersebut bertemu. "Wah parah lu solimun." kata Bima menggelengkan kepalanya.
Setalah pelajaran selesai, Ariana segera keluar kelas, dan berjalan menuju ruangan Arkan, dengan membawa buku, sebagai kamuflase. Kini tidak ada yang berani mengganggu Ariana, karna kejadian Ariana menendang perut salah seorang mahasiswa, hingga terpental. Ariana berjalan dengan santainya, di koridor kampus tersebut.
"Ana..." sapa David, dosen tampan yang tadi mengajar di kelas Ariana. "Kamu mau kemana?" tanya David ketika melihat buku yang di pegang Ariana.
"Kamu tugas sendirian?" tanya David bingung. Karna tak biasanya Arkan memperbolehkan seorang wanita, untuk masuk ke kelas nya hanya untuk mengantarkan barang.
"Iya kemarin ga masuk, jadi si Om... eh maksudnya Pak Arkan minta tugas mandiri." kata Ariana, hampir keceplosan, memanggil Arkan dengan sebutan Om. Davit tersenyum mendengarkan panggilan Ariana, kepada Arkan. Memang beberapa kali David mendengar Ariana memanggil Arkan, dengan panggil Om, membuat David mengira Ariana, merupakan keponakan Arkan.
David menyunggingkan senyum, karna jujur saja David memiliki sedikit rasa, kepada Ariana. Terlebih lagi saat pandangan mereka bertemu, di dalam kelas, Ariana sering kali menyunggingkan senyum, ke arah David. Meskipun maksud dari senyum itu, sebenarnya hanya untuk menghargai David, bukan rasa tertarik antar lelaki dan perempuan, Ariana tersenyum karena, merasa pelajaran yang di berikan oleh David, itu mudah di mengerti olehnya. Namun siapa sangka david malah salah, mengartikan senyum tersebut.
"Nah sampai Pak, saya masuk dulu ya." kata Ariana sembari mengetuk pintu ruangan Arkan.
"Masuk." suara Arkan terdengar dari dalam, hingga membuat Ariana membuka kenok pintu, dan masuk ke ruangan.
"Kenapa Mas?" tanya Ariana, ketika melihat wajah kesal dari Arkan.
"Tumben ngetuk dulu?" tanya Arkan, merasa ada yang aneh dengan tingkat Ariana.
"Tadi ga enak, ada Pak David di luar." jelas Ariana, sembari menunjuk ke arah pintu. Membuat Arkan segera berdiri, dan berjalan ke arah pintu. Arkan membukanya, kemudian menguncinya dari dalam, Arkan segera berjalan ke tempat Ariana.
"Sayang Mas ga suka, kamu senyum senyum sama cowok lain apalagi dengan David tadi." kata Arkan setelah berdiri sempurna di dekat Ariana, Arkan kemudian mengangkat Ariana untuk, duduk di atas meja. Arkan menyatukan keningnya dengan kening Ariana. "Ngerti sayang, Mas cemburu." jujur Arkan, menyatukan bibirnya dan bibir Ariana. Saat baru saja Arkan sampai tiba tiba sebuah ketukan mengejutkan mereka.
...
Sorry Guys ☹️😥 entah kenapa review nya se abad, jadi Author ga bisa up banyak banyak. Mungkin terjadi kesalahan di pusatnya, mohon pengertiannya teman teman.
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanya banyaknya telah mendukung, e, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.