
"Permainan mu sungguh indah." kata Gu Ana memuji pangeran Bao Ling.
"Tapi istriku lebih pintar di banding aku." kata raja Bao Ling, sambil tersenyum manis.
...
"An'er ada apa dengan badanmu? Apa kau baik baik saja" tanya pangeran Bao Ling, yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik, Gu Ana yang selalu tampak tak yaman. Pangeran Bao Ling tahu kalau Gu Ana, tak terlalu suka menaiki kereta untuk perjalanan yang cukup jauh. Gu Ana terus saja pindah kesana kemari, untuk mencari posisi yang nyaman. Terlebih lagi, jalan yang mereka naiki cukup berbatu, sehingga kereta sering terguncang.
"An'er kemarilah." titah pangeran Bao Ling, Gu Ana tampa fikir panjang, segera mendekati pangeran Bao Ling, dan duduk di samping pangeran Bao Ling. Tampa aba aba pangeran Bao Ling segera mengangkat tubuh mungil Gu Ana, kedalam pangkuannya. Kini Gu Ana, berhadapan dengan pangeran Bao Ling, yang memangkunya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Gu Ana, masih kaget dengan perlakuan pangeran Bao Ling. "Ling Ling tur..." belum sempat Gu Ana menyelesaikan kata kata nya, pangeran Bao Ling sudah lebih dahulu mengecup bibir Gu Ana.
"Diamlah, kau akan membuat yang lain salah paham." ujar pangeran Bao Ling tersenyum ke arah Gu Ana. "Sudah nyaman?" tanya pangeran Bao Ling, memeluk pinggang Gu Ana, agar tidak terjatuh.
"Tapi kau akan lelah." kata Gu Ana, sambil memegang leher pangeran Bao Ling, agar tak terjatuh.
"Tak apa asal kau nembayarnya saat kita sampai." kata pangeran Bao Ling, sambil tersenyum penuh arti. Sontak saja Gu Ana menelan ludahnya kasar saat mendengar kata kata dari pangeran Bao Ling. Gu Ana melepaskan pegangnya dari leher pangeran Bao Ling. " An'er jangan harap kau bisa lolos, ini sudah terlambat." kata pangeran Bao Ling, mengeratkan pelukannya, hingga tak berjarak. Gu Ana hanya pasrah dengan perbuatan suaminya.
"Kau sungguh licik." ucap Gu Ana kesal, sambil menyusupkan kepalanya di leher pangeran Bao Ling. Membuat pangeran Bao Ling terkekeh.
"Ya... aku memang licik." kata pangeran Bao Ling terkekeh, sambil mengelus punggung Gu Ana dengan lembut. "Tidurlah, aku tahu kau mengantuk." kata pangeran Bao Ling, mengecup pipi Gu Ana.
Saat ini perjalan keluarga Gu, telah mencapai ke perbatasan, saat ini mereka memasuki daerah Zang. Mereka memutuskan untuk berkemah terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk kembali melanjutkan, perjalanan mereka. Mereka membangun tenda untuk mereka, membangun tenda untuk mereka, sekaligus agar para pekerja mereka dapat beristirahat, karna sepanjang hari mereka sudah melakukan perjalan.
"An'er bangun, kita akan beristirahat sebentar." kata pangeran Bao Ling, membangunkan Gu Ana, yang tengah tertidur pulas saat, di pangkuan pangeran Bao Ling. Gu Ana dengan enggan membuka matanya, dan melihat pangeran Bao Ling, tengah membangunkan nya.
"Hm..." hanya itu yang lolos di bibir Gu Ana. Yang semakin mengeratkan pelukannya. Membuat pangeran Bao Ling, mencium pipi Gu Ana, dengan gemas.
"An'er." panggil pangeran Bao Ling, sambil mencolek colek pipi Gu Ana. Sesekali mencium pipi Gu Ana.
"Ling Ling, sebentar saja, aku sangat nyaman saat ini." keluh Gu Ana, kembali mengeratkan pelukannya.
"Sayang kita akan berkemah bangun lah." kata pangeran Bao Ling, sambil mencubit hidung Gu Ana dengan gemas.
"Baik baik, jangan mencubit hidungku, kau mau menbunuhku?" kesal Gu Ana. Sambil terbangun dengan mata yang masih terpejam.
"Berhenti menciumku, aku masih mau tidur." kata Gu Ana, kembali mengeratkan pelukannya ke arah pangeran Bao Ling. Pangeran Bao Ling hanya bisa pasrah, Gu Ana kembali tertidur dalam pelukannya. Akhirnya pangeran Bao Ling mengangkat tubuh Gu Ana, yang masih memeluknya, dengan mata yang terpejam. Pangeran Bao Ling segera keluar dari kereta, sambil menggendong Gu Ana, yang saat ini masih setia dengan menutup matanya.
"Ada apa dengan anak itu?" tanya Tuan Gu, penasaran melihat Gu Ana, yang saat ini masih dalam gendongan pangeran Bao Ling.
"Katanya dia masih mengantuk Ayah." kata pangeran Bao Ling, sambil memeluk Gu Ana, dan mengelus punggung Gu Ana dengan lembut. Pangeran Bao Ling segera masuk ke dalam tenda mereka.
Sementara Gu Jun dan pangeran Nan Cheng hanya jengah melihat tingkah pasangan suami istri tersebut.
"Si Ling Ling itu memang benar benar budak cinta." kata Gu Jun, sambil tertawa melihat pangeran Bao Ling, dengan senang hati mau saja di peralat, oleh kemalasan Gu Ana.
"Iya dia memang benar benar budak cinta, atau jangan jangan Gu Ana menggunakan jampi jampi, ketika ke menjerat laki laki." kata pangeran Nan Cheng, sambil memandang pemandangankan tersebut, bergidik ngeri.
"Dukunnya siap? Mbah Mijen." kat Gu Jun sambil tertawa mendengar kata kata dari pangeran Nan Cheng.
"Bukan, Mbah Mimin lebih mujarab." kata pangeran Nan Cheng asal.
"Hah... kok aku ga tau, kalau gitu kemarin aku ga ke tempat mbah Wati." kata Gu Jun.
"Bukannya Mbah Wati itu dukun beranak ya?" tanya pangeran Nan Cheng.
"Hah? Bukannya sama ya? Sama sama dukun." kata Gu Jun.
"Ini nih, kalau ada pelajaran, perdukunan di sekolahnya kabur " kata pangeran Nan Cheng sambil tertawa.
"Emang ada? Pantes aja kalau hari sabtu aku malas masuk." kata Gu Jun tertawa.
...
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanyak banyaknya telah mendukung, meramaikan, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Maaf teman teman jaringanku error ini aku harus bersabar, dan bersabar bisa upload.