It'S Me

It'S Me
Episode 141



Sementara di tempat lain, Tubuh seorang gadis cantik, tengah berbaring dengan segala peralatan medis yang mumpuni.


"Ana bangun, daddy hanya punya Ana dan Rayen, apa kau mau meninggalkan Daddy mu ini." kata lelaki tua tersebut, saat melihat anak itu lemah tak berdaya di tempat tidurnya.


"Daddy percaya Ana akan selamat, kita akan mendengar seluruh kericuhan dan keributannya lagi." Ucap lelaki tersebut.


...


"Yes, Daddy harap begitu." Ucap Erick Hanvei.


"Hai Ana, kalau Ana bangun aku janji tak akan memotong uang jajan mu lagi, jadi bangun ok." kata Rayen Hanvei, sambil melihat ke arah Ariana Hanvei dengan sendu.


Sudah tiga bulan Ariana Hanvei koma, akibat kekurangan darah saat tengah bertugas. Namun entah kenapa, keadaan Ariana Hanvei sebenarnya baik baik saja, namun Ariana Hanvei seakana tak ingin bangun.


"Dok bagaiman keadaan adik saya?" tanya Rayen, kepada dokternya.


"Keadaannya semakin membaik, kita tunggu saja kabar baiknya." kata dokter tersebut sambil tersenyum.


"Dokter, saya melihat baru saja tadi pasien menggerakkan tangannya." kata seorang sister yang memeriksa keadaan Ariana Hanvei.


Semua orang terkejut mendengarkan ucapan dari suster tersebut, kemudian memandang ke arah suster tersebut.


"Benarkah?" tanya Erick Hanvei, seakan tak percaya dengan ucapan suster, yang baru saja lolos dari bibir suster tersebut.


"Baikalah kalau begitu, silahkan keluar dulu dari kamar pasien, kami harus memeriksa pasien." kata dokter yang menangani Ariana Hanvei.


"Iya dok, terimakasih." kata Rayen Hanvei penuh semangat, sambil menggandeng tangan Erick Hanvei, untuk keluar dari ruangan Ariana Hanvei.


Saat mereka keluar pintu segera di tutup oleh suster, demi kelancaran pemeriksaan Ariana Hanvei. Sementara Erick Hanvei dan Rayen Hanvei, terus mondar mandir, tak sabar menunggu dokter untuk keluar.


Ckreek.


Pintu ruangan terbuka, membuat Erick Hanvei dan Rayen Hanvei segera mendekati dokter tersebut.


"Dok bagaiman?" tanya Erick Hanvei mendahului Rayen Hanvei, yang baru saja ingin membuka mulut untuk bertanya. Membuat dokter yang menangani Ariana Hanvei tersenyum, melihat tingkah kedua Ayah dan anak tersebut.


"Baik semua baik baik saja, silahkan masuk." kata dokter tersebut, mempersilahkan Erick Hanvei dan Rayen Hanvei untuk masuk. "Jika ada apa apa silahkan hubungi Saya." kata dokter tersebut, sambil menutup pintu ruangan Ariana Hanvei.


Erick Hanvei dan Rayen Hanvei segera mendekati Ariana Hanvei, yang saat ini tengah terbaring lemah, dengan mata yang masih mengerjap polos.


"Ariana bagaimana perasaan mu?" tanya Erick Hanvei, sambil mengusap kepala Ariana Hanvei. Perlakuan tersebut membuat Ariana Hanvei nyaman, dan tersenyum.


Ariana meneteskan air matanya, melihat orang orang yang Ia rindukan. Mereka kini ada di depan Ariana Hanvei. Ingin rasanya Ariana Hanvei memeluk mereka, dan mengatakan perasaan rindu yang sangat mendalam.


Mendengar kata kata dari Rayen, membuat Ariana menatap Rayen dengan tatapan kesal, bukan itu maksudnya. Namun sungguh suasana ini yang Ariana rindukan, saat menjadi dan tersesat di dalam tubuh Gu Ana.


"Daddy aku merindukan mu." kata Ariana, dengan suara lemah, sedangkan air matanya terus saja menetes.


"Ais... kau hanya merindukan Daddy? bagaiman denganku kakak mu yang tampan ini?" tanya Rayen kesal, karna Ariana hanya merindukan Erick. Sebenarnya Rayen hanya ingin menghibur Arian, agar tidak sedih lagi. Rayen selalu berfikir, pasti sangat sulit untuk Ariana tertidur dalam waktu tiga bulan. "Untunglah kau kembali, jika tidak aku akan menyusulmu." kata Rayen sambil terkekeh.


"Ya... jangan berkata seperti itu, kau akan meninggalkan Daddy sendirian." protes Erick hampir saja memukul kepala anak laki lakinya, yang suka berbicara sembarangan.


"Tidak Daddy..." kata Rayen mengusap kepalanya yang di pukul Erick. "Aku akan menjemputmu nya, seperti yang ada di Film insidious itu loh." jelas Rayen sambil cengengesan ke arah Erick.


"Makanya jangan ngomong yang aneh aneh." ketus Erick, yang tak pernah mau di salahkan.


"Daddy saja yang suka asal jeplak, Gimana coba kalau aku bo*oh." tanya Rayen, dengan kesal.


Ariana tertawa pelan, melihat tingkah dari Erick dan Rayen. Rasa rindu Ariana, terasa terbayarkan saat melihat tingkah, Ayah dan kakaknya yang sangat lucu. Mendengar tawa kecil Ariana, membuat Erick dan Rayen menghentikan pertengkaran mereka.


"Daddy, Ana tertawa." kata Rayen senang, seketika melupakan masalah pertengkaran mereka.


"Ya ampun, anak Daddy yang imut ini, akhirnya menampakkan kembali senyum manisnya." kata Erick memandang Ariana, yang juga melupakan pertengkaran mereka.


"Tentu saja, dia bahagia melihat Rayen yang tampan dan mempesona ini." kata Rayen memuji diri sendiri, sontak membuat Erick berdecak kesal.


"Tentu kalian Kan turunan Daddy." kata Erick tak mau kalah dari Rayen. Jadi tahu kan dari mana sikap percaya diri, dan sok cantik yang Ariana miliki selama ini. Ini adalah hasil titisan, dan tingkat kepercayaan diri dari Erick dan Rayen.


"Sudahlah, Daddy Kakak, Ana lapar." keluh Ariana jengah melihat pertengkaran mereka, yang sungguh tidak penting. "Lebih baik ambilkan makan, atau belikan makanan untukku, Ana sangat lapar." jujur Ariana mengusap perutnya, yang sudah mulai berbunyi.


"Ok, tunggu kakak pergi dulu." kata Rayen segera keluar dari ruang rawat Ariana.


"Sabar ya sayang, Rayen sedang mengambilkan mekanan untuk kamu." kata Erick sembari mengusap kepala Ariana.


"Daddy sebenarnya berapa lama Ana tidak sadarkan diri?" tanya Ariana penasaran.


"Tiga bulan sayang." kata Erick mengelus puncak kepala Ariana. Mendengar kata tiga bulan dari Erick, membuat Ariana menganga tak percaya, betapa cepatnya Ariana di dunia mimpinya, hingga mampu menembus hampir tiga tahun.


...


Hi salam dari It's me, terimakasih sebanyak banyaknya telah mendukung, meramaikan, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like co mment, and favorite novel ini ya.


Maaf teman teman jaringanku error ini aku harus bersabar, dan bersabar bisa upload.