It'S Me

It'S Me
Episode 265



Sudah dua puluh menit, Ariana berada di meja operasi, membuat Arkan sangat khawatir. Sementara yang lain baru saja bisa datang, karena terjebak macet, dan razia.


Erick dan Rayen, tak kalah paniknya. Ariana adalah wanita satu satunya, yang saat ini mereka punya. Rayen merebahkan kepalanya di paha Erick, seperti anak kecil yang tengah cemas. Erick pun hanya diam termenung, sembari mengusap kepala Rayen.


Farid yang melihat hal itu, segera menggenggam pundak sahabatnya. agar tetap tenang, sementara Rayen terus menenggelamkan kepalanya di paha Erick. Rayen takut hal yang sama terjadi pada Ariana. Saat di mana ibunya dulu meninggal karena operasi sesar, saat melahirkan Ariana.


Itulah kenapa Rayen benar benar sayang kepada adiknya, karena baginya adiknya merupakan pengganti ibunya, sekaligus saudara nya satu satunya. Wajah Rayen saat ini tak cemas kalah cemas dengan Arkan, yang mengkhawatirkan anak sekaligus ibunya.


"Daddy semua akan berjalan lancar kan?" tanya Rayen memejamkan matanya.


Saat melihat Rayen begitu sedihnya, Farhat dan Farid sangat mengerti, membuat Farid segera mengusap kepala Rayen.


Sementara Farhat saat ini tengah menenangkan Arkan, yang sejak tadi mondar mandir, menunggu dokter keluar dan suara tangisan bayi.


Setelah tiga puluh menit berikutnya, sebuah suara tangisan bayi menggema, membuat orang orang sedikit bernafas lega. Namun Arkan saat ini tetap gelisah, Arkan sangat takut kehilangan Ariana. Membuatnya tetap gelisah, dan mencoba tetap berfikiran positif.


Tiba tiba dokter keluar, membuat semua orang memandang ke arahnya.


"Dok bagaiman keadaan istri saya?" tanya Arkan menanyakan keadaan Ariana.


"Istri dan anak anda baik baik saja." kata dokter tersebut. "Silahkan bapak masuk dulu, untuk mengazani putra bapak." kata dokter tersebut.


Mendengar penuturan dokter tersebut, membuat yang lain mampu bernafas lega. Sementara Rayen segera menegakkan kepalanya, dengan derai air mata di pipinya. Seandainya saja Arkan tadi tidak mengaku sebagai suaminya, mungkin saja dokter itu menyangka Rayen lah suaminya.


"Dad... Ana selamat." kata Rayen memeluk Erick dengan erat, membuat Erick segera mengusap kepala rayen. Erick mengerti apa yang di khawatirkan Rayen.


Sementara Arkan segera masuk ke dalam ruang operasi, Arkan segera mendekati Ariana yang saat ini masih tertidur, akibat operasi. Arkan memang meminta agar Ariana di bius total, Arkan sangat khawatir, karena ia tak dapat mendampingi Ariana.


"Sayang terimakasih untuk jagoannya." kata Arkan mengecup puncak kepala Ariana, kemudian beralih ke inkubator bayi.


Arkan segera mengazani bayinya yang sudah di mandikan oleh suster, dan di masukkan ke dalam inkubator. Setelah selesai mengazani putra nya. Arkan kembali beralih untuk memandang Ariana.


Suster akhirnya meminta Arkan untuk segera keluar, kemudian membawa Ariana ke ruang rawat inap. Arkan segera menyusul Ariana, dengan tangis haru, yang sejak tadi tak dapat di hentikan ya.


"Selamat ya Om, sudah menjadi laki keluarga yang sempurna." kata Andre Membuat Arkan mengangguk.


"Iya Om selamat, oh ya terimakasih tips nya benar benar membantu." kata Gilang mencoba menghibur Arkan, agar tidak terlihat frustasi.


"Iya saya hebatkan." kata Arkan membuat Gilang dan Andre menggelengkan kepalany.


Niatnya ingin menghibur, tapi justru Arkan besar kepala, dan menyombongkan dirinya sendiri.


Sementara Rayen jangan di tanya lagi, Ia benar benar terlihat sumbringah, dengan mata yang sembab tak menghilangkan kadar ketampanannya.


"Selamat Ar, akhirnya jadi Daddy juga Lo." kata Rayen membuat Arkan tersenyum, kepada kakak iparnya. "Makasih sudah jaga Ana, dan ponakan gue." kata Rayen membuat Arkan segera menepuk pundak Reyen.


"Yang harusnya berterimakasih itu saya." kata Arkan. "Terimakasih karena sudah percaya dengan saya, untuk menikahi, dan menyayangi adik kamu." kata Arkan, menepuk pundak sahabatnya.


"Iya sama sama." kata Rayen tertawa. "Udah punya nama?" tanya Rayen, membuat Aska mengangguk.


"Vekran Candana." kata Arkan tersenyum, membuat Rayen ikut tersenyum.


"Entar gue harus punya anak banyak, dan laki lakinya juga harus banyak." kata Rayen membaut Arkan sedikit bingung. "Biar Keluarga Hanvei banyakan kayak keluarga Candana." kekeh Rayen membuat Arkan menggeleng.


"Iya gue aamiin." kata Arkan sembari mengadakan tangannya.