It'S Me

It'S Me
Episode 67



“Bagaiman rasanya?” tanya pangeran Nan Cheng penasaran sambil menahan tawa karna ekspresi dari Gu Ana.


“Rasanya seperti kita akan menjadi Ironmen, waw… nano nano hancur, ini kalau di Masterchaf sudah di maki maki dengan chef Arnold dan chaf Juna.” Kata Gu Ana mengeluarkan semua uneg unegnya.


Sementara pangeran Nan Cheng dan Gu Jun sontak tertawa mendengarkan kata kata Gu Ana. Mereka bisa membayangkan sehancur apa masakannya.



“Pangeran makananmu ini hancur dari segala sisi, kalau kau mau belajar memasak lebih baik tidak usah.” Kata Gu Ana memberi saran yang menusuk untuk di dengar.


Sementara pangeran Zang Limo yang mendengarkan hal tersebut hanya menatap sendu terhadap makanannya. Gu Ana yang menyadari hal tersebut sontak merasa bersalah dengan kata katanya sendiri.


“Ah begini saja sebagai rasa terima kasih ku karna kekasih tercintaku ini telah berusaha payah membuatkanku makanan, sekarang biar aku saja yang memasak untuk kita semua.” Kata Gu Ana menekan kan kata kekasih tercinta.


Mendengar kata kata Gu Ana sontak membuat pangeran Zang Limo kini tersenyum, karna walau bagaiman pun rasa makanan yang pangeran Zang Limo buat Gu Ana tetap menghargainya.


“Baiklah kaluan tunggu disini.” Kata Gu Ana kepada yang lainnya.


Gu Jun dan pangeran Nan Cheng melihat Gu Ana akan memasak menjadi bersemangat dibuatnya.


Setelah Gu Ana keluar dari kamarnya, Gu Ana memijat pelipisnya, bagaiman mungkin Ia melakukan taruhan memasak dengan pangeran Zang Limo, padahal pangeran Zang Limo jelas berbeda dengan Gu Min. Walaupun masakan Gu Min tidak seenak masakannya namun untuk orang biasa itu sudah lumayan.


Sesampainya Gu Ana di dapur, Gu Ana terkejut melihat dapur yang berantakan seperti kapal pecah.


“Ternyata bukan hanya makanannya yang hancur, tapi dapur pun dibuat hancur seperti kapal pecah.” Kata Gu Ana sambil memijit pelipisnya.


“Bersihkan semua dan siapkan alat masak yang baru untukku.” Kata Gu Ana kepada para koki istana.


Mendengar hal itu membuat para koki melongo tak percaya, tadi pangeran Zang Limo, kini tunangannya nona Gu Ana yang akan memasak, mereka khawatir akan berakhir dengan hal yang sama jug.


Melihat kekhawatiran para koki membuat Gu Ana menghela nafas kasar, Gu Ana mengerti akan kekhawatiran mereka, karana pangeran Zang Limo baru saja menghancurkan dapur demi masakan yang tak dapat dikonsumsi oleh manusia, dan tak lulus SNI (Standar Nasional Istana).


“Tenang saja aku jamin aku bisa memasak, bahkan Yang Mulia Raja pun mengetahuinya.” Kata Gu Ana sengaja menyebut Raja Zang Zuan dalam hal ini agar mereka semua percaya.


Sesuai dengan prediksi Gu Ana bahwa mereka akan percaya Jika Gu Ana menyebutkan raja Zang Zuan dalam hal ini.


“Baiklah siapkan daging sapi untuk ku, lalu potong kotak kotak, setelah itu siapkan minyak makan untukku, lalu siapkan kelapa parut, setelah itu siapkan kacang tanah, dan beberapa bumbu masak untukku, ah dan beberapa sayuran, buah buahan tepung dan susu.” Perintah Gu Ana kepada para koki.


Kini giliran menumis sayur sayuran kemudian dengan cara yang biasa, kemudian membuat pie buah sebagai hidangan pencuci mulut.


Setelah satu jam kini masakan yang dibuat oleh Gu Ana selesai, Gu Ana segera memerintahkan para pelayan untuk membawa makanan tersebut menuju Gazebo belakang istana, dan memerintahkan beberapa dayang menuju ruangannya untuk memanggil para pangeran serta Gu Jun. Sebagian dayang Gu Ana minta untuk memanggil pangeran Zang Jade, putra mahkota Zang Liue dan putri mahkota Chu Yuan untuk makan siang bersama.


Setelah mereka semua terkumpul di gazebo tamanan belakang istana yang memang cukup besar merka mulai duduk dan melihat semua hidangan yang Gu Ana siapkan untuk mereka. Meskipun baru pertama kali melihat makanan tersebut namun mereka tak ragu untuk memakannya.


Melihat wajah mereka yang makan dengan lahap Gu Ana tersenyum puas akan hal itu.


“Bagaimana rasanya? Ah… kita masih ada hidangan penutup.” Kata Gu Ana, “Pelayan bawakan hidangan penutupnya.” Sambung Gu Ana.


Mereka tak menjawab pertanyaan Gu Ana, mereka justru lebih antusias menunggu makanan penutupnya berupa Pie buah.


“An’er kau sunggu pintar memasak, aku rasa masakanmu lebih enak dari pada yang sering koki istana masak.” Kata pangeran Zang Handrong memuji Gu Ana.


“Kalian fikir kenapa aku suka berteman dengannya, ya karna ini, An’er koki yang sangat handal, ini belum apa apa, aku dan Jun’er sudah memakan semua masakan dari An’er dan itu sungguh enak.” Kata pangeran Nan Cheng memuji kehebatan Gu Ana dalam memasak.


Mendengar pangeran Nan Cheng telah mencicipi seluruh jenis masakannya pangeran Zang Limo sedikit cemburu dibuatnya, meski mereka adalah sahabat dan telah saling mengenal lebih lama pangeran Zang Limo tetap tidak suka dengan itu. Kemudian pangeran Zang Limo memandang Gu Ana yang sedikit kesal mendengar kata kata dari pangeran Nan Cheng.


“An…” baru saja pangeran Zang Limo ingin berbicara namun kata katanya telah dipotong oleh Gu Ana yang perotes dengan dasar pertemanan pangeran Nan Cheng.


“Ya... kau Cheng, berani sekali kau berteman dengan ku hanya karna makanan? Aku tak akan pernah memasak lagi untukmu kalau begitu.” Kata Gu Ana dengan ekspresi kesal yang dibuat buat.


“Aduh An’er aku hanya bercanda, kalau kau tak percaya tanya saja sama Paijo.” Kata pangeran Nan Cheng.


Mendengar kengauran pangeran Nan Cheng membuat Gu Ana tidak mau kalah dalam hal tersebut.


“Aduh Cheng, Paijo lagi ga bisa ditanya sekarang, dia lagi dangdutan sama si Bambang.” Kata Gu Ana dengan mimik wajah serius.


“Hah… kondangan siapa? Cik Jamnah yang tetangga wak Taher?” tanya pangeran Nan Cheng.


“Bukan sunatan cucu Tuk Dalang.” Timpal Gu Jun tak mau kalah.


“Hah… kok aku ga tau? Mereka ga ngundang?” tanya pangeran Nan Cheng.


“Undangan ga sampe? Kami kemarin di undang cuman karna ada Jamal di sana jadi aku ga pergi.” Kata Gu Ana tak kalah ngaur.