
"Ini nih, kalau ada pelajaran, perdukunan di sekolahnya kabur " kata pangeran Nan Cheng sambil tertawa.
"Emang ada? Pantes aja kalau hari sabtu aku malas masuk." kata Gu Jun tertawa.
...
"Sayang ku kau sangat manja." kata pangeran Bao Ling, terkekeh geli melihat tingkah Gu Ana, yang bermanja manja. Gu Ana terus memeluk pangeran Bao Ling, sambil tersenyum manis tampa memperdulikan, ucapan pangeran Bao Ling.
"Apa kau lelah?" tanya Gu Ana, tiba tiba kepada pangeran Bao Ling, yang tengah memainkan jari menoel noel, hidung Gu Ana.
"Hm... kenapa?" tanya pangeran Bao Ling, melihat memperhatikan wajah Gu Ana.
"Kalau kau lelah, aku akan memijatmu, tapi aku harus mengisi perutku dulu." Kata Gu Ana tersenyum manis. "Ayo keluar, kita Bergabung dengan yang lain." kata Gu Ana, sambil beranjak dari tidurnya, dan menarik lengan pangeran Bao Ling.
Pangeran Bao Ling tersenyum mendengar kata kata Gu Ana, kemudian menyusul Gu Ana, yang tengah menariknya, untuk keluar dari tenda mereka.
"Janji ya kau akan memijatku." kata pangeran Bao Ling, dengan nada manja, sambil memeluk Gu Ana dari belakang. Gu Ana yang mendengar nada manja pangeran Bao Ling, sontak terkekeh geli, karna menurutnya suara itu lebih kepada lucu, dari pada imut.
"Kau lucu dengan suara itu." kekeh Gu Ana, ketika mendengar suara manja pangeran Bao Ling. "Baiklah suami tampan ku." lanjut Gu Ana, sambil membalas pelukan dari pangeran Bao Ling.
"Aku mencintaimu." kata pangeran Bao Ling, entah keberapa kalinya, hari ini pangeran Bao Ling mengatakan hal tersebut. "Ayo, aku rasa cacing mu sedang berdemo di dalam." kata pangeran Bao Ling menggoda Gu Ana.
Gu Ana hanya tersenyum mendengar seluruh perbuatan manis, dari suaminya, pangeran Bao Ling. Hati Gu Ana selalu berdegub kencang kerika mendengar, setiap kata kata cinta yang di keluarkan oleh pangeran Bao Ling. Entah berapa banyak pengorbanan pangeran Bao Ling, yang diberikan untuk Gu Ana, agar bisa bersama dengan Gu Ana.
Gu Ana entah mengapa, tiba tiba menjadi seseorang yang beruntung. mendapatkan cinta yang sebegitu besarnya, padahal sebelumnya, di kehidupan pertama, dan sekarang. Hanya ayahnya, dan sahabatnya yang mencintai nya dengan sangat tulus.
"An'er sayang, kau masih di sini? Ingin aku gendong lagi?" tanya pangeran Bao Ling, mencoel pinggang Gu Ana, sambil tertawa melihat wajah terkejut Gu Ana.
"Ais... memangnya aku apa di colek colek, sabun colek." protes Gu Ana, memukul lengan pangeran Bao Ling. Pangeran Bao Ling sudah mulai terbiasa dengan kata kata Gu Ana, yang aneh. Sehingga pangeran Bao Ling dapat membalas sedikit sedikit, omongan aneh dan ngaur dari bibir Gu Ana.
"Sini aku colek colek An'er ku sayang." balas pangeran Bao Ling, sambil terus mencoel coel Gu Ana, yang terus merasa geli di area, yang di colek.
"Ais... sudahlah, aku sudah tak tahan lagi." kata Gu Ana, sambil tertawa kegelian.
"Tak tahan apa sayang." kata pangeran Bao Ling menggoda Gu Ana, sambil tersenyum misterius. Gu Ana yang faham arti dari senyuman, pangeran Bao Ling, wajahnya memerah. Dengan segera Gu Ana, menjauihi pangeran Bao Ling, meninggalkannya di dalam tenda.
An'er kau sangat menggemaskan, tak sia sia aku menunggumu, selama dua tahun ini. Kata pangeran Bao Ling dalam hati, saat melihat Gu Ana keluar dari tenda mereka.
Gu Jun yang melihat wajah Gu Ana memerah, saat keluar dari tenda, membuatnya menjadi penasaran, dengan apa yang sedang terjadi.
"Hei Jiejie... ada apa lagi dengan wajahmu? Kenapa akhir akhir ini wajahmu suka sekali, menirukan tomat busuk Pak Camat yang tak laku." Goda Gu Jun saat melihat Gu Ana keluar dengan wajah yang memerah.
"Ya iyalah, Ga laku... orang yang beli harus hormat. Buk Inem kan ga suka hormat, dia lebih sula nonton film SahrulKhan." jawab Gu Ana ngasal, karna kesal terus di goda.
"Ga juga, Pak Camat kalau lihat Buk siti, yang pakai kacamata. Langsung jatuh cinta." kata Gu Jun, menimpal Gu Ana. Hingga membuat semua orang tertawa, mendengar kata kata dari Gu Jun.
"Ya wajar lah, orang dia Oprasi plastik. Dulu kan tidak secantik itu." kata Gu Ana, menjabarkan, dan menggambarkan mimik seolah tidak suka.
"Wah aku rasa kau hanya cemburu, melihat Buk Siti lebih cantik." kata Gu Jun seolah memanas manasi.
"Aduh, ses Solikin, seandainya Buk Siti jarang ke salon Ses Wanto, mungkin ga akan semulus itu." kata Gu Ana sambil menunjuk pangeran Nan Cheng, yang tengah mengamati pembicaraan mereka, menunggu kapan akan masuk ke dalam pembicaraan, yang tidak jelas itu.
"Ais... menurut ku ya chin, benar kata Jeng Ana, dia itu tidak terlalu cantik dulunya." kata pangeran Nan Cheng, sambil memainkan rambut Gu Ana, sesekali menjambak rambut panjang Gu Ana.
"Ya Ses... kalau ga suka eke, tolong jangan tarik rambut eke yang panjang dan badai ini." kata Gu Ana, mengibaskan rambutnya hingga mengenai wajah Gu Jun. Dengan kesal Gu Jun segera melempar kembali, rambut Gu Ana ke arah api unggun, hingga membuat rambut Gu Ana, terbakar di ujung nya.
"Aaa... rambutku, Ayaaah. Jun'er membakar rambutku dengan sengaja." teriak Gu Ana, hingga membuat yang lain terkekeh, dengan tingkah laku Gu Ana, yang menggemaskan.
"Hahaha mau lagi tidak, itu ada obor." tawar pangeran Nan Cheng, membuat Gu Ana berlari menuju ke arah pangeran Bao Ling, tuan Gu, dan Gu Min meminta perlindungan.
"Pergi sana dasar burik." ejek Gu Ana menjulurkan ludahnya, membuat yang lain tertawa. Hingga Gu Ana menggerbikkan bibirnya sambil menggebungkan pipinya. Melihat tingkah Gu Ana, Pangeran Bao Ling dan Gu Min menajdi geram. Dengan segera Pangeran Bao Ling, mengangkat Gu Ana ke dalam pangkuannya, dan segera mencubit pipi Kiri Gu Ana, sedangkan pipi kananya sudah di kuasai oleh Gu Min.
"Ayahhh..." teriak Gu Ana, meminta tolong kepada tuan Gu.
...
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanyak banyaknya telah mendukung, meramaikan, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Maaf teman teman jaringanku error ini aku harus bersabar, dan bersabar bisa upload.