
Setelah insiden ciuman tersebut pangeran Zang Limo terdiam cukup lama, sambil memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Pangeran Zang Limo sendiri masih shok dengan apa yang diperbuatnya, jantungnya berdegup kencang, jangan lupakan wajahnya yang bersemu merah. Karna salah tingkah dengan perbuatannya sendiri, akhirnya pangeran Zang Limo memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut.
Melihat wajah dan salah tingkah pangeran Zang Limo membuat Gu Ana semakin yakin ini ciuman pertamanya, setelah pangeran Zang Limo bersiap-siap untuk berdiri Gu Ana tau pangeran Zang Limo akan keluar.
“Kalau ga salah rumus AADC, biarin dia keluar, nah kalau dia ngadap ke belakang lagi berarti dia minta dikejar.” Guman Gu Ana sambil memperhatikan gerak gerik pangeran Zang Limo.
Benar saja sebelum pangeran Zang Limo melangkahkan kaki keluar, pangeran Zang Limo menghadap Gu Ana sebentar sebelum berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
“Tu kan… minta kejar, aduh siapa yang nyosor duluan siapa yang dikejar, siapa yang Cinta siapa yang Rangga… hadeh Paijo-paijo.” Guman Gu Ana sambil mengejar pangeran Zang Limo.
“Paijo… eh, Pangeran.” Panggil Gu Ana.
“Ada apa?” Tanya pangeran Zang Limo datar.
“Tunggu, mau kemana?” Tanya Gu Ana.
“Bukan uruanmu.” jawab pangeran Zang Limo dengan datar.
“Setelah kau melakukannya kau pergi begitu saja? Heh, dasar pria yang tak tanggung jawab.” Ucap Gu Ana dengan wajah sedihnya.
“Bukan itu maksudku…” jawaban Pangeran Zanh Limo terhenti.
“Sudah lah, kau mau pergi kan? Pergi lah, aku akan mencoba mengerti, aku akan kembali sekarang.” kata Gu Ana dengan nada sedih, jangan lupakan mata yang berkaca-kaca.
Saat Gu Ana akan melangkah, seperti dugaan pangeran Zang Limo mencekal tangannya.
“Ada apa?” tanya Gu Ana ketus.
“Mau ke danau? Di sana kita bisa memancing.” kata pangeran Zang Limo mencoba membujuk.
“Untuk apa?” tanya Gu Ana masih dengan nada ketus.
“Untuk membahas sesuatu, ah sudahlah ayo kita segera pergi.” kata pangeran Zang Limo sambil menarik tangan Gu Ana.
“Tapi pangeran kita tak punya tandu.” ucap Gu Ana sambil mengerucutkan bibirnya.
“Untuk apa kau memilik pelayan? Minta mereka untuk mempersiapkan tandu.” Ucap pangeran Zang Limo.
“Kalian dengarkan? Siapkan tandu untuk kami. Oh ya dan beberapa alat pancing untuk kami.” Perintah Gu Ana kepada para pelayan.
Tak butuh waktu lama tandu dan alat pancing untuk merekapun telah disiapkan oleh para pelayan. Mereka kini masuk kedalam tandu yang bisa dikatakan sederhana, pangera Zang Limo memerintahkan kusir untuk mengarahkan kereta tandu mereka ke danau. Beberapa pelayan mengikuti mereka untuk mempersiapkan segala hal kebutuhan mereka jika sampai disana.
Sesampainya di danau Gu Ana takjub dengan keindahan alam yang sangat alami, tampa adanya gangguan dari para turis-turis seperti di dunianya.
Tiba-tiba Gu Ana teringat Daddy dan kakaknya, mereka biasanya suka berkunjung ke danau Danau Annacy di Paris. Hidup di sini memang sangat indah dan menyenangkan, namun Gu Ana lebih merindukan kebersamaannya dengan Daddy dan juga kakaknya.
Pangeran Zang Limo merasa bingung dengan Gu Ana, baru saja Gu Ana terlihat sangat bahagia, namun tiba-tiba terlihat sangat murung. Pangeran Zang Limo mencoba mendekati Gu Ana, dengan tujuan untuk menenangkannya.
“An’er? Ada apa? Kenapa kau terlihat murung?” tanya pangeran Zang Limo khawatir
“Ah tidak aku hanya teringat keluarga ku, seandainya Ayah, Gege, dan Jun’er ikut ke sini pasti akan lebih menyenangkan.” Ucap Gu Ana berbohong.
Tak mungkin Gu Ana mengatakan yang sebenarnya kepada mereka, Gu Ana mungkin saja dianggap aneh dan mengada-ngada oleh semua orang.
“Pangeran ayo kita memancing.” ajak Gu Ana mengalihkan pembicaraan.
“Ah… ayo, tapi kau benar-benar tidak apa-apa kan?” tanya pangeran Zang Limo memastikan.
“Tentu saja, aku sehat jasmani dan rohani. Lihat saja…” kata Gu Ana dengan berpose ala atlit binaragawan professional.
“Pangera ayo… ayo kita berlomba memancing siapa yang kalah dia yang memanggang ikannya, bagaimana?” tawar Gu Ana dengan penuh semangat, melupakan kesedihannya.
“Baiklah.” kata pangeran Zang Limo tak kalah semangat.