It'S Me

It'S Me
Episode 151



Sementara Armin memilih duduk di samping Arkan, dan menonton pertunjukan yang akan panjang.


"Di biasakan ya, soalnya mereka memang suka bertengkar kalau ketemu." kata Armin. "Ini belum seberapa." kembali Armin melanjutkannya, membuat Arkan tertawa mendengarkan kata kata Armin.


...


Setelah perdebatan panjang, antara Jasson, Ariana dan Maxim, akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan kediaman Hanvei. Ariana mengikuti Arkan untuk menginap di kediaman Candana.


Sebenarnya Ariana berat hati ingin tinggal bersama Arkan, karna Ariana merasa kebebasannya akan terbelenggu.


"Om... kenapa sih harus ke tempat Om Arkan." besok kan kuliah, masa harus tidur di tempat Om Arkan, mana ga bawa mobil lagi.


"Kamu harus saya awasi Ana, takutnya kamu itu keluar sembarangan." jawab Arkan masih fokus mengemudi mobilnya.


"Om, bosan tau, ketemu Om terus di kantor, di rumah,di kampus, pagi, siang, sore, malam, senin, selasa, rabu, kamis, jum'at, sabtu, minggu ketemu Om mulu, bosan Om." kesal Ariana memandang ke arah Arkan yang benar benar mengesalkannya.


"Ana kamu itu harus terbiasa." Jawab Arkan datar.


"Terbiasa apaan Om?" kesal Ariana dengan masih memandang wajah Arkan.


"Terbiasa bekerja bersama dengan saya, apalagi minggu depan kita ada peroyek di Bali." kata Arkan sambil mengelus rambut Ariana, membuat Ariana tersentak dengan sikap Arkan.


Arian sedikit kesal namun juga bahagia dengan sikap Arkan yang lembut padanya, Ariana memilih memalingkan wajahnya yang bersemu merah, atas perlakuan Arkan.


Arkan melirik Ariana sekilas, dan tersenyum samar melihat tingkah Ariana, yang menurutnya sangat menggemaskan.


Tak butuh waktu lama Arian dan Arkan sampai di kediaman Candana. Mereka melangkahkan kakinya menuju tangga. Ini adalah bukan kali pertama Ariana melangkahkan kakinya di kediaman Candana.


"Om kamar Ana tetap yang lama ya." kata Arian sembari menyeret kopernya saat akan menaiki tangga. Arkan segera mengambil alih ketika melihat Ariana menaikkan koper tersebut dengan pelan me tangga pertama.


Dengan santainya Arkana menaiki tangga, dan membawa koper Ariana ke arah kamar yang biasa di tempati Ariana. Kamar Arkan saat ini tepat berada di depan kamar Ariana.


"Makasih Om." kata Arian segera menarik kopernya masuk ke kamar lamanya lagi.


Sementara Arkan segera menuju kamarnya, Arkan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian mengambil baju yang ada di dalam lemari dan memakainya.


Arkan tiba tiba teringat sebuah kertas, yang berada di dalam tas jinjingnya. Arkan segera melangkah kan kakinya untik mengambil kertas tersebut. Arkan tersenyum melihat gambar yang ada di dalam lukisan tersebut, Arkan kembali lagi teringat bagaimana Ia mengambil gambar ini dengan cara diam diam.


Flashback on


Saat di kantor Arkan melihat Ariana sedang melukis seseorang, dan membuat Arkan lenasaran.


Dengan licik Arkan meminta Ariana untuk memphotocopy berkas yang sejujurnya tak perlu di photocopy. Dengan segera Arian menyetujui permintaan Arkan, dan segera saat Arian keluar dari ruangan tersebut, Arkan segera mencari kertas yang di sembunyikan Ariana.


Tok.


Tok.


Tok.


Bunyi ketukan segera membuat Arkan kembali kemejanya, tampa hasil apapun. Arkan kemudian meminta Ariana untuk mengambil Air putih di pantry.


"Om... itu kan ada air putih om." kata Ariana manunjuk ke arah dispenser, yang memang tersedia di dalam ruangan Arkan.


Arkan menggerutu kebodohannya, karna lupa hal tersebut.


"Saya maunya dari pantry Ana." kata Arkan mencoba menutupi kegugupannya.


Ana segera melangkah kan kaki keluar kembali, dan Arkan segera mencari keberadaan gambar tersebut. Begitu lah seterusnya, hingga Arkan meminta Arian tirun untuk di buatkan kopi, yang sebenarnya tidak di inginkan Arkan. Saat Arian turun, Arkan menemukan gambar tersebut, dan alangkah terkejutnya, ketika melihat orang yang berada di dalam lukisan tersebut, ternyata adalah seseorang dengan berpakaian Kerajaan China, dengan rambut panjang. Laki laki yang berada di dalam gambar tersebut, sungguh sangat mirip dirinya. Ariana seolah menggambar dirinya dari bentuk lain.


Tok.


Tok.


Tok.


Bunykmi ketukan kembali membuat Arkan segera duduk di bangkunya dan menyimpan lukisan tersebut di dalam tas nya.


"Masuk." kata Arkan datar, sembari menetralka detak jantungnya, seakan seperti maling yang anan ketahuan, saat beraksi.


Flashback off.


Arkan terus mengembangkan senyumnya, dan melihat ke arah lukisan tersebut. Arkan kemudian membuka ponselnya, dan segera melihat gambar wanita yang tengah serius dengan aktifitas yang di lakukan nya.


...


Hi salam dari It's me, terimakasih sebanyak banyaknya telah mendukung, meramaikan, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.


Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.


Maaf teman teman jaringanku error ini aku harus bersabar, dan bersabar bisa upload.