It'S Me

It'S Me
promo



Pagi ini, adalah hari pertama Melly melakukan ospek, sementara Vekran merupakan kakak tingkatnya, yang akan menjadi panitia. Vekran tersenyum melihat Melli dari kejauhan, Saat tantangan menaiki sepeda.


Vekran sedikit khawatir melihat itu semua, Vekran seger mendekat dan melihat Melly dari jarak dekat, Vekran hanya takut terjadi sesuatu pada Melly. Melly yang menyadari hal itu, segera tersenyum ke arah Vekran. Dan vekranpun membalasnya.


Saat Vekran tengah tersenyum beberapa wanita mengira bahwa Vekran tersenyum untuknya. Dan karena Vekran tersenyum untuknya, maka Vekran mungkin tertarik dengannya.


Saat tengah mengayuh sepedanya, Melly tak tahu bahwa rok nya tersangkut di rantai sepeda, hingga membuatnya terjatuh.


Vekran yang melihat Melly terjatuh, segera berlari menghampiri Melly. Membuat beberapa panitia menghentikan aktifitasnya. Vekran segera melihat kondisi Melly, yang roknya sudah tersangkut oleh rantai.


"Kau memang ceroboh." kata Vekran sembari menyentil kening Melly, membuat Melly mengerucutkan bibirnya.


Vekran tersenyum melihat ekspresi Melly, kemudian memeriksa telapak tangan Melly. Vekran melihat ada sedikit goresan di telapak tangan, dan kemudian di lutut Melly.


Vekran segera merobek rok putih Melly, yang baru saja di beli untuk ospek hari ini, namun sia sia karena koyak oleh rantai sepeda.


"Apa masih bisa jalan?" tanya Vekran kepada Melly, membuat Melly mengangguk mengiyakan.


Vekran segera meniup telapak tangan Melly, kemudian memapah Melly yang sedikit pincang. Melly tersenyum, Vekran memang selalu menjaganya dan juga pahlawannya.


Namun berbeda dengan para gadis, banyak di antara nya berdecak kesal, karena sang pangeran kampus, terlihat akrab dengan anak maru.


Vekran membawa Melly ke UKS, sembari memapah Melly. Setelah itu, Vekran segera memanggil salah satu anak panitia lainnya, untuk mengambilkan tas Melly.


"Tolong ambilkan tas milik Melly." kata Vekran kepada salah satu panitian.


"Yang mana Vek?" tanya orang itu.


"Yang seperti punyaku." kata Vekran menunjuk tas miliknya. Orang itu segera berlari menuju ke tempat peserta.


Sementara Vekran, segera mengambil kotak obat, dan mengobati luka milik Melly. Melly meringis menerima obat tersebut.


"Tidak apa apa cuman sebentar, nanti juga baikan." kata Vekran, sesekali meniup trmpat yang perih.


"Kak Vekran hati hati, perih tau." kata Melly hampir menangis, karena perih.


Vekran yang melihat hal itu, segera mengusap kepala Melly. Vekran tahu kalau Melly memang sedikit manja, maka dari itu Vekran yang selalu ingin menjaga Melly.


"Anak cengeng sudah besar, bukan Melly kecil lagi." katanya sembari mengusap kepala Melly.


"Iya kak, kakak di sini kan?" tanya Melly menatap wajah Vekran.


"Tidak... biar kakak antar kamu ke apartemen ya." kata Vekran, membuat Melly merengut.


Vekran hanya menggeleng, dengan hal itu. Vekran segera berdiri dan mengambil tas miliknya dan milik Melly.


"Ayo, di sana saja istirahatnya, kamu ga akan bisa tidur di sini." kata Vekran, sembari tersenyum.


Vekran segera memapah Melly, kemudian membawanya ke mobil. Melly baru menyadari bahwa Vekran begitu populer, karena sepanjang jalan, semua mata terus mengarah ke arah Melly dan juga Vekran.


"Bro mau ke mana?" tanya salah satu panitia opak, saat melihat Vekran tengah membukakan pintu untuk Melly.


Melly segera masuk kemudian Vekran segera menutupnya kembali. Vekran segera menghampiri temannya, sembari dengan pandangan datar.


"Gue mau ngantar Melly sebentar." kata Vekran, kemudian kembali lagi ke mobilnya, dan menancap gas untuk kembali.


Setelah mengantar Melly, Vekran segera bergegas kembali ke kampus. Untung saja mereka hanya melakukan ospek hari ini, jadi tak akan masalah.


"Vek minjam pena dong." kata salah seorang temannya, membuat Vekran segera mencari pena di tasnya, namun ternyata Vekran justru salah membawa tas.


Vekran tersenyum kikuk setelah menyadari bahwa, Melly hanya memiliki pena Doraemon nya.


"Bro..." kata temannya, sembari memandang ke dalam tas yang di pegang Vekran. Temannya terkejut, melihat isi tas itu. Mata teman Vekran, tertuju pada pembalut wanita yang saat ini tengah di pegang oleh Vekran.


"Bro itu tas siapa?" tanya Teman Vekran.


"Punya Melly Jon." jujur Vekran, segera mengusap kepalanya. Vekran kemudian mengambil ponsel miliknya di saku, dan menelfon Melly.


Vekran sedikit menjauh dari teman temannya, kemudian mulai berbicara dengan Melly di sambungan telepon.


"Halo Mel, kamu lagi dapet ya?" tanya Vekran sembari menggenggam tas milik Melly.


"Iya kak, mengapa?" tanya meli dari sebrang sana.


"Tas kita tertukar, kamu masih ada pembalut ga?" tanya Vekran, dengan sedikit wajah memerah.


"I... iya kak, ada." kata Melly terdengar sedikit gugup.


"Ya sudah kakak matikan dahulu ya." kata Vekran, segera mematikan sambungan teleponnya.


Setelah acara ospek berakhir Vekran segera kembali ke apartemen. Vekran tak menemukan Melly di mana pun, membuatnya sedikit khawatir.


Karena Melly tak mengetahui jalan jalan yang ada di Bandung. Vekran takut Melly tersesat, atau yang lainnya.


Vekran berusaha menelfon Melly, namun sepertinya Melly tak mendengarkannya. Vekran segera menghempaskan badannya, karena sedikit lelah hari ini. Berkali kali Vekran melirik ponselnya, berharap Melly menelfon nya kembali.


Sementara Melly saat ini sedang berjalan menuju sebuah halte, Melly ingin pergi ke mall terdekat. Namun Melly ke cafe dahulu, untuk makan. Melly akan membeli bahan makanan untuk di makan bersama. Namun Melly lupa untuk memberitahu Vekran.


Saat Melly sedang menunggu taksi online, untuk segera ke mall. Melly berdiri di pinggir jalan, Melly sedang asyik menunggu, tiba tiba sebuah motor, datang untuk merampok.


Melly dirampok dan terjatuh, tasnya di bawa lari oleh perampok tersebut, sementara lengannya sakit. Untung ponselnya dia letakkan di saku celananya, jadi dia masih bisa menelfon Vekran.


Saat Melly menelfon Vekran, namun Vekran tertidur, di sofa. Saat Melly menelfon untuk ke tiga kalinya Vekranpun mengangkat telepon.


"Halo Mel... kamu di mana? Kamu ga papa kan? Kakak jemput ya." kata Vekran ketika mengangkat telepon Melly.


Melly terisak, merasa bersalah ketika mendengar suara Vekran yang begitu kahwatir kepadanya.


"Kakak Melly di rampok, di depan kafe." kata Melly terisak, sembari menggenggam tangannya yang berdarah.


Dia memberi tahu Vekran bahwa dia dirampok di sepan kafe. Vekran segera bergegas, dan menaiki mobil, untuk menjemput Melly, dan mengantar Melly ke rumah sakit.


Vekran mengambil tisu untuk mengobati luka Melly, tetapi Melly merasa bersalah ketika Vekran menatapnya, menyadari hal tersebut, Vekran segera menancapkan gas ke rumah sakit.


Vekran menghentikan mobilnya di parkiran rumah sakit, Vekran kemudian keluar dari mobilnya, dan meminta Melly untuk menunggunya di mobil saja. Vekran segera membawakan kursi roda untuk Melly, tetapi Melly tidak mau menaikinya.


"Melly ga mau kak, Melly cuman luka luka doang, masih bisa jalan." protes Melly tak mau menaiki kursi roda tersebut.


"Ga Mel, kamu harus naik ini, mau luka kamu semakin parah, terus harus di amputasi." kata Vekran menakut nakuti Melly.


Melly menggeleng, membuat Vekran tersenyum. Vekran segera memapah Melly untuk menaiki kursi roda tersebut.


Vekran mengingatkan Melly tentang akibat dari infeksi, dan membawa Melly ke ruangan dokter. Dokter berpikir mereka adalah sepasang kekasih, karena kulit Vekran yang terlihat lebam, akibat terbentur salah satu kursi roda, saat mengambil kursi roda untuk Melly.