It'S Me

It'S Me
cast



Justin segera turun dari mobil warna hitam mengkilat nya, yang baru saja ia parkir kan, di lapangan terbuka khusus parkiran mobil. Justin melangkah kan kaki ke tempat yang ia maksud, ia melirik ke sebelah kiri sebentar. Kemudian melajukan langkahnya. Dengan langkah yang lebar. Justin berhenti sejenak kemudian mengeluarkan tabletnya.


Di koridor lima, sebelah kiri bagian depan, sepasang mata gelap namun terlihat jernih, terus menatap ke arah dirinya dari balik ponselnya. Pakaian wanita itu tidak sepenuhnya berwarna ungu, meski sedikit kontras dengan cat kuku dan lipstiknya yang berwarna merah, dan rambutnya yang hitam. Begitu jelas di kulit putih pucat nya.


Dengan kacamata hitam bertengger di ujung hidung Justin yang mancung, Justin sedikit menurunkan kacamata hitammya, dan membalas pandangan wanita itu. Namun wanita itu tak menghiraukannya, ia justru semakin memandang Justin.


Justin menghela nafasnya dengan kasar, dan kembali mengenakan kacamatanya, kemudian mengalihkan pandangan wanita yang mengamatinya itu. Justin memegang tablet, layar yang baru saja di hidupkan itu menampilkan deretan hasil fluktuasi saham yang naik turun.


Gadis aneh itu masih mengamati dari balik ponselnya. Justin membuka kacamatanya, kemudian mengangkat alis sebelah kirinya, tanda menyadari kehadiran gadis tersebut. Gadis itu menyeringai, lalu melambaikan tangan ke arah Justin.


"Kenapa hal aneh selalu terjadi?" guman Justin, kembali menatap tabletnya.


Kata kata Justin juga mengarahkan ke arah dirinya sendiri yang memang aneh, lebih aneh dari manusia biasa, jika adang mengetahuinya. Dunia nyata terlalu banyak tawaran untuk sebuah godaan yang membuatnya selalu ingin lagi, bak candu yang menagih untuk di penuhi.


Justin segera mengenakan alat pendengar ke telinganya, dan meninggalkan tempat itu, sembari mendengarkan lagu yang tengah naik daun. Ya lagu itu di nyanyikan oleh dirinya, dan groupnya.


Tadinya ia ingin menikmati waktunya, sebagai orang biasa. Namun wanita gotik itu terus mengamatinya, membuatnya tidak nyaman.


Justin segara meninggalkan tempat tersebut dan beranjak menuju mobilnya, yang di pacu segera ke pekuburan. Sebelum mencapai pekuburan Justin membeli seikat bunga kuning, sebelum kemudian kembali memecah jalan menuju pekuburan.


Justin terlihat sangat tampan mengenakan stelan jas hitam, di padu kemeja putih tampa dasi, dengan celana dasar. Justin membawakan seikat bunga kuning, kemudian menjongkokkan badannya yang menjulang tinggi. Justin menyandarkan tangannya di atas batu nisan, tangannya yang lain mengusap dan menelusuri batu yang terukir.


"Apa kabar? bukankah ini sudah lama." Justin memandangi batu nisan tersebut lewat kacamata hitamnya. Matahari baru saja tenggelam, sisa dari cahayanya masih tercetak indah di langit yang hampir gelap sepenuhnya.


"Bagaimana menurutmu? Bukankah aku telah melangkah sangat jauh?" tanya Justin, tersenyum miris.


"Perusahaan sukses besar, dan aku mendapat penghargaan pengusah muda yang sukses dan menginspirasi." kata Justin mengusap batu nisan tersebut.


"Kau tahu? Aku juga telah menjadi superstar besar, dan menjadi salah satu penyanyi dengan barisan penggemar yang sangat banyak, di banding teman temanku yang lain. Aku rasa mereka akan sedikit iri dengan ku." katanya sembari menghembuskan nafas yang terasa sesak di dadanya.


Justin meletakkan sebuket bunga kuning, yang ia bawa. Bunga itu adalah bunga yang sangat di senangi, oleh orang yang tengah ia jenguk saat ini. Segala jenis bunga, asalkan berwarna kuning akan ia menyukainya.


Justin ingat betul saat ia masih kecil, bagaiman wanita yang dulu ia sebut sebagai ibu, suka sekali mengajaknya berjalan jalan di kota Emberal ini. Dulu wanita itu senang sekali membeli segala bunga yang berwarna kuning. Tak jarang ia kan memetik bunga bunga kuning yang ia temui di jalan.


"Kau tahu kalau aku tak melakukan ini, maka aku akan kehilangan seluruhnya, karirku maupun perusahaan ku." kata Justin seolah bercerita kepada ibunya.


Terlalu menyenangkan? Mungkin tidak juga, karna seandainya Justin manusia biasa mungkin tak akan begini, namun ada sesuatu hal yang berada di dalam dirinya meminta dan menuntut untuk dipenuhi.


Di luar, Justin dengan topeng pengusaha muda, dan seorang superstar, dengan berjuta penggemar yang banyak di kagumi oleh orang orang. Banyak wanita yang akan menjerit ketika melihatnya, dan berlomba lomba hanya untuk berfoto atau tanda tangannya, meski harus mengantri lama untuk itu.


Justin menikmatinya, meski akan lebih suka kesendirian. Yang pasti akan membuatnya tenang, dan merasa lebih baik.


Justin menjalani hidup dengan dengan penuh kerja keras, hingga mencapai titik ini. Meski Ia berbeda, dan sungguh aneh, namun siapa yang tidak mau menjadi pengusaha muda yang sukses, dipenuhi pujian? Apalagi bandnya dan dirinya juga merupakan pemenang Grammy tahun ini. Namun di balik pujian terdapat sebuah keinginan yang tak bisa di tolak.


Saat berada di panggung Justin menyukai jeritan histeris para penggemar mereka, Justin merasa itu semua seperti sebuah penunda, sebelum memuaskan sesuatu yang menuntut untuk di puaskan.


Namun kesuksesan nya juga membawa kesulitan tersendiri untuknya, pastinya banyak sekali wartawan yang mengincar berita tentangnya, maupun masalalu nya. Justin di dunia hiburan memang terkenal sangat tertutup, hingga di juluki misterius man.


Saat ini Justin tengah menuju sebuah villa terpencil milik seorang teman, di pulau pribadi temannya. Justin harus menjaga agar pikirannya tetap jernih. Sebuah monster terus meminta untuk di puaskan, dan tak tahan sekali ingin menguasai dirinya.


Justin akan belajar berpuasa, dan belajar mengendalikan keinginannya, yang sedang ia belenggu di dalam dirinya.


Bahkan di beberapa kesempatan Justin nyaris membuka rahasia, tergelap nya di hadapan hal layak umum. Pers mengikuti nya kemana mana, bahkan saat ia ingin ke toilet umum.


Temannya yang mengetahui tentang dirinya, berhasil meyakinkan dirinya untuk pergi berlibur sementara, di pulau pribadinya. Setidaknya untuk beberapa bulan saja.


Maski pun mereka akan tampil beberapa bulan tanpa dirinya. Namun ini demi kebaikan Justin. Mereka sengaja menyogok dokter agar menyatakan, bahwa Justin sedang sakit. Dan akan di liburkan untuk beberapa bulan agar Justin merasa lebih baik.


Tiba tiba, sebuah bunyi terdengar di telinga Justin, bunyi itu sangat familiar untuknya, seperti bunyi sebuah kamera kecil. Justin berbalik dan mengendus, mempertajam indranya. Justin melihat sekitar, dan mengamati setiap pohon, dan pagar beton yang mengelilingi, pekuburan tersebut.


Bunyi itu kembali terdengar, seperti sejauh delapan, hingga sepuluh meter darinya. Seperti nya itu menggunakan kamera resolusi tinggi, atau kamera dengan lensa yang cukup mahal.


Justin kembali mendengus, ia mencium bau pengacau, bau ini mudah di kenali, karena berbau tajam dan apek. Selain itu, Justin hanya mencium bau lembab dari tumbuhan sekitar, dan beberapa bau binatang melata. Ya tak salah lagi, ini bau para paparazi yang sangat di benci Justin.