
"Terus ngapain kamu dari tadi mainin hp mulu?" selidik Arkan melihat Ariana.
"Maxim minta Share location, mereka bingung jalan ke rumah ini." jelas Ariana membuka kembali ponselnya, dan memperlihatkan isi chatan nya dengan Maxim. "Udah jelas kan Om... kalau kak Rayen di sisni habis Om di ejekin." kata Ariana sambil cekikikan geli melihat wajah Arkan.
...
Arkan hanya tersenyum mendengar kata kata Ariana. Malu, sudah tentu karna curiga dengan apa yang tidak perlu di curigai. Senang, tentu karna kecurigaannya tak terbukti. Arkan segera merengkuh Ariana ke dalam pangkuannya, dan mengecup puncak kepala Ariana.
Sementara di tempat lain Maxim, Bima, dan Adli masih berkutat dengan GPRS menuju kediaman Candana.
"Masih lama ya, perasaan dari tadi mutar mutar mulu deh." keluh Adli kepada Maxim dengan wajah kesal.
"Sabar ini jalannya sudah benar Bambang." jawab Maxim kesal dengan keluhan Adli yang sejak tadi menyembur di bibir tebal nya.
"Bambang Bambang, nama bapak gue ga usah di bawa sewe." kata Bima kesal, karna nama bapaknya terus di bawa bawa Maxim setiap kali kesal.
"Ya mana saya tau, saya cakwei." kata Maxim santai, kemudian menepikan mobilnya di salah satu pagar beton, kokoh, dan terlihat mewah. "Dari GPRS nya ini tempatnya." kata Maxim kembali melirik ponselnya.
"Wih pagar aja sebagus ini, apa kabar rumahnya." kata Adli memuji, karna jujur saja pagarnya mungkin tak seberapa dari rumah ini, memang di bandingkan kedua temannya ini, Ia memang bukan apa apa, meski keluarganya bisa di bilang cukup terpandang.
"Ya baik lah O'on." sahut Bima, terkekeh melihat tingkah sahabatnya. Bima memang takjub, namun tak terlalu memperlihatkannya.
Saat tengah akan mencoba menelfon ponsel Arian, sebuah mobil tengah berhenti dan membunyikan klakson kepada mereka. Maxim segera keluar dari mobil, dan berjalan ke arah sumber suara, dengan kening berkerut.
"Kalian sedang apa?" tanya seorang lelaki yang terlihat cukup tua namun berperawakan gagah, terlihat dari cara bicaranya, meski saat ini tengah mengenakan tongkat, untuk membantunya berjalan.
"Ah kenalkan saya Maxim, saya sedang mencari alamat kek." kata Maxim menjulurkan tangannya, mengenakkan namanya sendiri. Membuat orang tua tersebut tersenyum.
"Ah ya, kamu mau bertemu Ariana?" tanya Farid menebak kedatangan pemuda, yang tampak gagah dengan kaos oblong biru tua. Kontras dengan kulitnya yang putih, seperti orang eropa.
"Ah iya kek." kata Maxim membenarkan ucapan Farid.
"Ya sudah ikut saya saja, Ana mungkin sedang menunggu kalian di dalam." kata Farid kembali ke mobilnya, dan meminta seorang penjaga membuka pagar, untuk mereka.
"Om... bukan gitu om, kok sudah banget sih di ajarin, makanya Om sekali kali main Toktok, jangan main dengan berkas melulu." kesal Ariana, yang jengah melihat Arkan yang masih tak kunjung mengerti, dengan gerakan gerakan yang Ariana tunjukkan.
Suara Ariana menggema hingga ke ruang tamu, terdengar jelas omelan Ariana, seolang tengah mengomeli seorang mahasiswa yang masih susah mencerna ajarannya.
"Susah Ana..." kesal Arkan, saat mencontohkan seluruh gerakan dari Ariana.
Maxim, Bima, dan Adli menganga tak percaya siapa yang tengah di omeli Ariana. Ya Arkan yang selama ini mereka kenal sebagai dosen galak, bin Jude's, melengkapi sikapnya yang dingin kepada semua orang. Kini tengah di marahi seorang Ariana karna tak mampu mencerna pengajaran dari nya.
Menyadari telah menjadi pusat perhatian, Arkan sungguh sangat malu, jika bukan permintaan dari Ariana, mungkin Arkan akan mengubur hidup hidup orang yang memerintahkannya.
"Teman kamu sudah datang, jangan meminta saya untuk ikut dengan Toktok kamu itu." kesal Arkan, berlalu pergi dari ruangan tersebut.
"Makanya Om, gaul dikit, jangan mainannya dengan berkas aja." kesal Ariana. "Gaul Om, gaul. Percuma wajah tampan, tapi ga gaul." lanjut Ariana mengomeli Arkan, layaknya mengomeli bawahannya sendiri. "Ayo kek, kita goyang yang kayak kemarin aja, di Toktok." kata Ariana mengajak Farid, langsung di angguki oleh Farid.
"Ishhh berdua doang? kami ga di ajak ya?" tanya Adli merasa terabaikan.
"Ayo bang ganteng ikut kami." ajak Ariana menarik tangan Adli dan Bimo, membuat Maxim kesal dengan sikap Ariana, yang mengabaikannya.
"Eh kutil kerbau, gue di sini kaga lo ajak ya." protes Maxim membuat Ariana membalikkan badannya dengan kesal.
"Pantat panci somai diam ya, bukannya lo cuman ya yang bisa ngatain orang, gue juga." kesal Ariana. "Cantik cantik gini lo bilang kutil kerbau, kerbaunya aja ga ada apa apanya dengan gue." protes Ariana.
"Jadi lo ngaku mirip kerbau ya sekarang." kata Maxim mengejek Ariana sambil terkekeh.
...
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanya banyaknya telah mendukung, e, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.
Maaf teman teman jaringanku error ini aku harus bersabar, dan bersabar bisa upload.