
Mendengar hal tersebut\, sontak membuat pangeran Nan Cheng tertawa keras dibuatnya. Sungguh sangat memalukan. Pangeran Nan Cheng memang berasa di dunia modern dengan waku yang lama\, dan juga terbiasa melihat orang lain ber****an\, bahkan pernah melakukannya. Namun kali ini berbeda\, mereka telah di peroki berkali kali di depan Raja dan Ratu di negri ini. Ini sama saja ber****an di dalam lift yang ada persidennya.
Setelah mereka melakukan penghormatan pangeran Zang Jade, pangeran Zang Limo, dan Gu Ana segera berjalan bersamaan. Kini Gu Ana telah bersiap siap menuju ruangan tertutup untuk mengganti hanfunya dengan hanfu yang telah Gu Ana bawa.
Setelah Gu Ana menggantinya, Gu Ana keluar dari ruangan tersebut, dengan mengenakan hanfu berwarna kuning terang bercampur dengan perpaduan merah jambu membuat orang orang melongo tak percaya.
"An'er kau akan mengenaka baju tersebut?" tanya pangeran Zang Jade
“Tidak masalah kan?” kata Gu Ana dengan santainya, berjalan melewati pangeran Zang Jade dan pangeran Zang Limo yang masih melongo tak percaya.
“Nah Gege Jade ayo kita mulai.” Ajak Gu Ana kepada pangeran Zang Jade, dengan mempersiapkan ancang ancang.
…
Gu Ana mulai saling menyerang dengan pangeran Zang Jade, dengan sebuah pedang. Gu Ana dan pangeran Zang Jade salingserang menyerang dengan tempo yang awalnya tidak terlalu cepat, namun lama kelamaan semakin cepat. Mereka semakin lama semakin cepat, dan dentingan pedang antara pangeran Zang Jade dan Gu Ana, semakin sering dan nyaring bunyinya.
Para pelayan dan perajurit yang mendengar pertarungan tersebut, mulai berkerumun untuk melihat pertarungan yang selalu berakhir dengan seimbang tersebut. Mereka semakin serang dengan tempo yang lebih cepat, sehingga banyak memancing perhatian yang tertuju pada mereka.
Tiba tiba kaki panjang pangeran Zang Jade, berhasil memukul perut Gu Ana, sehingga membuat Gu Ana sedikit mengundurkan badannya kebelakang. Dan memuntahkan sedikit darah di sisi bibir Gu Ana. Bukannya merasa kesakitan namun Gu Ana semakin bersemangat ditandai dengan seringai yang terpampang di wajah imutnya. Gu Ana dan pangeran Zang Jade semakin menyerang dengan berutal. Kali ini Gu Ana berhasil memukul tengkuk pangeran Zang Jade hingga membuatnya memuntahkan sedikit darah. Pangeran Zang Jade kemudian mengusap bekas darah yang keluar dari mulutnya.
Xu Jiang dan pangeran Nan Cheng yang melihat pertarungan mereka, tiba tiba tersenyum misterius. Xu Jiang dan pangeran Nan Cheng saling memandang, hingga akhirnya ikut turun ke lapangan senagai musuh dari Gu Ana dan pangeran Zang Jade. Melihat hal tersebut pangeran Zang Jade dan Gu Ana tiba tiba saja berada di baris yang sama, mereka saling tersenyum, dan seringai satu sama lain. Kemudian menyerang lawan mereka denga berutal sambil terus bekerja sama. Masing masing di antara mereka tidak ada yang ingin kalah.
Kini Gu Ana beradu pedang dengan Xu Jiang masing masing senyum memancar di antara mereka.
“Apa kau yakin mampu melawan seorang jendral Senior imut dan licik sepertiku?” kata Gu Ana menyombongkan dirinya saat pedang mereka.
Keudian mereka kembali saling menyerang satu sama lain, tetap dengan menujukkan seringai di antara wajah mereka masing masing.
“Jika kita bermain tentang kata licik bukankah kita sama sama licik?” tanya Xu Jiang tanpa membalas kata kata Gu Ana.
Saat melihat pangeran Zang Jade berhasil menendang perut pangeran Nan Cheng, pangeran Zang Jade segera mundur, melihat hal tersebut tiba tiba Gu Ana berlari ke arahnya, seolah pangeran Zang Jade mengerti akan maksud Gu Ana. Pangeran Zang Jade langsung saja membentuk kuda kuda, sementara Gu Ana menjadikan kuda kuda pangeran Zang Jade sebagai pijakan untuk loncat dan memutar badannya seperti salto. Untuk menyerang pangeran Nan Cheng yang sedang lengah. Namun gerakan Gu Ana terbaca oleh Xu Jiang dan menghadang pedang Gu Ana, Hingga menjadikan pedang mereka beradu, dan Gu Ana berhasil mendarat dengan mudahnya sambil masuk ke dalam lingkar lengan Xu Jiang dan membanting pedang masuk ke dalam lingkar lengan Xu Jiang, dan membanting pedang Xu Jiang ke arah belakang Gu Ana sehingga tak terjangkau oleh Xu Jiang.
Melihat hal tersebut, pangeran Nan Cheng berusaha menyerang Gu Ana, namun semua sudah terlambat, karena pangeran Zang Jade kini berada di belakang pangeran Nan Cheng, dengan mengacungkan pedang kea rah leher pangan Nan Cheng.
Saat Gu Ana menjadikan kuda kuda pangeran Zang Jade sebagai pijakan, Gu Ana segera loncar dan memutar badannya membentuk sebuah salto, sedangkan pangeran Zang Jade segera beputar untuk mengantisispasi kegagalan Gu Ana. Sementara Xu Jiang yang telah masuk ke dalam pernangkat Gu Ana segera menangkis serangan dari Gu Ana, sementara pangeran Zang Jade segera berlari kea rah belakang pangeran Nan Cheng.
Saat Gu Ana berhasil menghempas pedang Xu Jiang, pangeran Zang Jade langsung saja mengarahkan pedangnya menuju leher pangeran Nan Cheng untuk memberikan kode bahwa mereka telah kalah dalam permainan kali ini.
Flashback off.
“Pengalaman memang tak pernah membohongi hasil.” Puji Xu Jiang kepada pangeran Zang Jade dan juga Gu Ana yang saat ini tengah terduduk di lapangan.
Mendengar pujian dari Xu Jiang pangeran Zang Jade dan Gu Ana hanya tersenyum, dengan nafas yang masih ter engah engah.
Sementara di pinggir lapangan para dayang dan perajurit sudah mengerumuni lapangan tersebut untuk melihat pertarungan mereka yang benar banar sengit.
“Ah… mereka memang pasangan dewa dan dewi perang, kalian tahu aku melihat dengan kepala dan mataku sendiri bagaimana kerja sama mereka saat berperang di perbatasan.” Kata seorang perajurit yang memuji permainan pedang pangeran Zang Jade dan Gu Ana.
“Ah… iya dulu aku mengira bahwa mereka memiliki hubungan tertentu.” Timpal perajurit lainnya.
“Iya benar sekali, bahkan aku sudah mampu membayangkan sehebat apa anak mereka nantinya, jika orang tua mereka adalah dewa dan dewi perang.” Tompal perajurit lainnya.
“Ehem…” deheman pangeran Zang Limo membuyarkan topik pembicaraan mereka, saat mengtahui pangeran Zang Limo, tunangan sah dari Gu Ana saat ini tengah berdiri di antara mereka. “Apa kalian tidak punya pekerjaan selain menjodoh jodohkan tunanganku dan Gege ku?” tanya pangeran Zang Limo mengeluarkan aura mengintimidasi kepada beberapa perajurit yang tengah membicarakan tunangannya.
“Tidak, tidak yang mulia, hamba tidak berani.” Kata para perajurit itu dengan sangat ketakutan.
“Bagus kalau begitu.” Kata pangeran Zang Limo kepada para perajurit lainnya.
…
Jangan lupa like and comment, tolong tinggalkan jejak ya biar author tambah semangat, dan punya masukan agar bisa memperbaiki kesalahan yang author buat, sip… ok.
Mohon maaf author cuman bisa up sedikit karena author tengah sibuk saat ini, dikarenakan harus berkutat dan bergelut dengan para tugas yang dengan tidak tahu dirinya semakin bertambah, terimakasih semoga kalian mengerti.