
“Jadi apa yang An’er inginkan untuk menghukum Handrong?” tanya pangeran Zang Handrong sambil mencubit pipi Gu Ana dengan pelan.
Gu Ana melihat pangeran Zang Handrong dengan seksama. Lalu kemudian mengalihkan pandangannya ke pangeran Zang Jade.
“Aku beum memiliki ide.” kata Gu Ana dengan wajah sendu. “Ah…” tiba tiba wajah Gu Ana yang berubah dari sendu dan sedih beralih kepada wajah yang berbinar. Melihat hal tersebut memubuat orang melongo, tentang perubahan ekspresi Gu Ana yang bisa secepat kilat. “Nanti malam aku akan membuka rumah hantu untuk pertama kali, jadi mau tidak kita pergi bersama sama nanti malam.” Kata Gu Ana sambil tersenyum manis dengan mereka semua, sementara wajahnya dipenuhi dengan binar harapan, sehingga membuat membuat mereka secara serempak mengangguk.
Melihat semua orang mengangguk secara serentak membuat Gu Ana sangat bersemangat.
“Gege Gege ku yang tampan, tampa ampun, kalau begitu kita semua akan berkumpul Mall ok?” kata Gu Ana dengan penuh semangat.
Sementara mereka yang baru saja sadar telah menganggukkan kepala atas ajakan Gu Ana tak dapat menolak lagi.
…
Saat malam tiba mereka semua berkumpul di depan Mall, dan bersiap masuk ke dalam mall, karna rumah hantu tersebut ada di dalam mall tersebut. Setelah memasuki lantai satu mereka masuk kedala ruang bawah tanah, tempat permainan rumah hantu di mulai. Ruang bawah tanah terdiri dari dua jalan keluar, satu untuk jalan masuk, dan yang satunya lagi sebagai jalan keluar.
Kini mereka semua telah mengantri menuju jalan masuk ruanga tersebut, saat mereka masuk mereka memutuskan untuk tetap bersama karna walaupun Gu Min, Gu Ana dan Gu Jun sering ketempat ini ketika siang hari, maka suasana malam puan akan jauh lebih berbeda.
Gu Min memilih untuk menggendong Gu Jun, atas permintaan Gu Jun dikarenakan kaki Gu Jun yang jauh lebih pendek dibandingkan yang lain. Sementara Gu Ana hanya memilih berdiam saja, tak memegang Gu Min sama sekali, namun hanya memilih diam tampa mekatakan apapun.
Melihat hal tersebut pangeran Zang Limo mengira bahwa Gu Ana takut dan memilih menghampirinya. Pangeran Zang Limo menggenggam tangan Gu Ana.
“Jangan takut ada aku di sini.” Kata pangera Zang Limo menggenggam tangan Gu Ana sambil tersenyum.
Melihat hal tersebut Gu Ana sontak kaget dibuatnya. Namun Gu Ana mengerti maksud pangeran pangeran dan memilih untuk tersenyum.
“Terimakasih aku akan mengandalkanmu.” Kata Gu Ana kepada pangeran Zang Limo, sontak membuat pangeran Zang Limo berbangga diri.
Mendengar hal itu pangeran Nan Cheng tertawa kecil, dan segera mendekati mereka.
“Ah… jangan ada udang di balik batu ya.” Kata pangeran Nan Cheng mengingatkan salah satu di antara pangeran Zang Limo dan Gu Ana.
Sementara pangeran Zang Jade mendekati pangeran Zang Limo dan juga Gu Ana.
“Limo kau jangan macam macam.” Kata pangeran Zang Jade memperingatkan pangeran Zang Limo.
Pangeran Zang Handrong tertawa saat melihat sikap pangeran Zang Jade yang terlalu protektif kepada pangeran Zang Limo dan Gu Ana.
“Aduh Gege, tidak apa apa sekali menyelam minum air, setidaknya kalau An’er ketakutan kan ada Limo yang akan menenangkannya.” Kata pangeran Zang Handrong menggoda pangeran Zang Limo.
Pangeran Nan Cheng yang mendengarkan hal tersebut sontak dibuat tersenyum senyum.
“Cheng… aku rasa An’er tak akan apa apa jika masuk ke dalam.” Bisik Gu Min kepada pangeran Nan Cheng, yang masih mampu didengar Gu Jun yang saat ini berada dalam gendongan Gu Min.
“Kita lihat saja nanti.” Kata pangeran Nan Cheng sambil tersenyum senyum. “Ah jika kita terus di sini kita tak akan dapat keluar lebih cepat, ayo kita segera mencari jalan keluar.” Kata pangeran Nan Cheng.
Setelah menempuh waktu 30 menit akhirnya mereka semua keluar dengan nafas yang ter engah engah, karna di dalam mereka terus saja dikejutkan dengan sesuatu yang sangat menyeramkan. Lain halnya Gu Ana yang terlihat biasa saja dan cenderung tersenyum mengejek ke arah mereka.
Pangeran Zang Jade, pangeran Zang Handrong, dan pangeran Zang Limo heran melihat Gu Ana dengan wajah datar, dan terkesan biasa saja saat di dalam.
“Limo, tolong lepaskan tanganmu, aku rasa genggamanmu akan meremukkan tanganku.” Kata Gu Ana sambil tersenyum kepada pangeran Zang Limo.
Menyadari hal tersebut sontak membuat pangeran Zang Limo malu, karna terlalu takut pangeran Zang Limo menggenggam tangan Gu Ana dengan erat. Padahal awalnya pangeran Zang Limo lah yang menawarkan akan menjaga Gu Ana, tapi kini justru pangeran Zang Limo yang tampak pucat, karna dikejutkan sekaligus takut.
“Ayo makan, aku sudah kelaparan.” Kata Gu Ana sambil memegang perutnya, sementara yang lain hanya mengikuti langkah kaki Gu Ana.
Sesampainya mereka di rumah makan yang ada di mall itu, Gu Ana memesan rungan VIV untuk mereka makan bersama. Setelah mereka memesan makanan mereka mengobrol untuk menghilangkan rasa tegang mereka.
“An’er kenapa kau tampak biasa saja?” tanya pangeran Zang Handrong penasaran.
Mendengar pertanyaan pangeran Zang Handrong membuat Gu Ana sedikit memicingkan matanya heran dengan dengan pertanyaan pangeran Zang Handrong.
“Karna mereka tak menyeramkan sama sekali.” Kata Gu Ana dengan santainya.
Mendengar kata kata Gu Ana, membuat mereka semua melongo tak percaya dengan yang dikatakan Gu Ana. Bagaimana tidak bahkan mungkin mereka akan sulit tidur ketika mengingat wajah menyeramkan mereka.
“Apa? Apa kau bercanda? Kami bahkan rasanya akan kehilangan nafas saat melihat mereka.” Kata pangeran Zang Jade jujur, dan di angguki oleh yang lainnya.
Mendengar hal tersebut membuat Gu Ana tersenyum, lalu menganggukka kepanya tanda memaklumi ketakutan mereka.
“An’er kenapa kau merasa kau mengatakan mereka tidak terlalu menyeramkan? Apa kau pernah melihat tang lebih menyeramkan?” tanya pangeran Zang Limo kepada Gu Ana.
Mendengar pertanyaan dari pangeran Zang Limo, membuat Gu Ana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Gu Ana bingung harus bagaimana mengatakannya.
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan puntu terdengar dari luar, sontak mengejutkan semua orang yang ada di dalam.
“Maaf tuan tuan dan nona muda, makanan telah siap.” Kata pelayan tersebut dan di susul beberapa pelayan yang mengantarkan makanan untuk mereka.
“Ah… terimakasih kakak kakak cantik.” Kata Gu Ana sambil tersenyum kepada para pelayan.
Mendengar hal tersebut mereka mengangguk dan pamit undur diri.
“Itu sudah kewajiban kami nona, kalau begitu kami pamit undur diri.” Kata pelayan tersebut, kemudian keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintunya.