
Seorang pria dengan pakaian rapinya mulai memberikan beberapa berkas untuk tuannya di dalam ruang kerjanya. Sang tuan segera membuka dan memeriksa beberapa berkas itu. Lembar demi lembar mulai dibuka dan dibacanya dengan pelan dan hati-hati.
"Jadi saat ini dia sedang sekolah di SMU Keio di Yokohama? Usianya juga sepantaran dengan Yuru-putraku." gumam pria paruh baya itu masih memeriksa berkas itu.
"Benar, Tuan. Pemuda bernama Xie Jun Ze memiliki usia yang sama dengan mendiang tuan muda Yan Yuru. Dan tuan, saya juga mendapatkan sebuah informasi dari sebuah rumah sakit besar di prefektur Tokyo. Jika pemuda bernama Xie ajun Ze pernah mengalami sebuah kecelakaan hingga membuatnya amnesia." jelas sang asisten lagi.
"Amnesia?" gumam pria paruh baya itu mengerutkan keningnya.
"Benar, Tuan."
"Atur waktu dengannya!! Aku ingin bertemu secara langsung dengannya!!" titah pria paruh baya itu tanpa berpikir panjang lagi, karena dia merasa sangat curiga jika Xie Jun Ze adalah putranya.
"Baik, Tuan!"
...🍁🍁🍁...
Hari demi hari berlalu. Saat di sekolahan Xie Jun Ze, Xu Kai dan Anzu juga sudah terbiasa untuk selalu bersama. Meskipun masih harus ada drama perebutan Xie Jun Ze diantara Xu Kai dan Anzu.
Namun kali ini bukannya merasa kikuk lagi, Xie Jun Ze malah dengan sengaja merangkul kedua temannya agar mereka bertiga bisa pergi bersama-sama, tanpa mempedulikan kicauan dari orang-orang.
Saat berada di kantin sekolah, lagi-lagi mereka harus melihat pemandangan saat Aress sang preman sekolah sedang memperlakukan seorang siswa berkacamata dengan buruk.
Aress sang preman sekolah meminta si anak culun berkacamata itu untuk membawakan nampan berisi makanan milik Aress menuju mejanya.
Namun disaat siswa berkacamata itu berjalan melewati Aress, dia malah dengan sengaja menjegal kaki siswa berkacamata dan malah membuat siswa berkacamata itu terjatuh. Dan nampan berisi makanan itu terjatuh berserakan di atas lantai begitu saja.
"Bodoh!! Kamu buta ya?! Bukankah kamu sudah memakai kacamata?! Cckk ... membuat selera makanku hilang saja!" gerutu Aress mulai terlihat kesal, padahal dia sendiri yang sengaja melakukan semua itu untuk menindas siswa berkacamata itu.
"Ma-maafkan aku, Aress ... ak-aku ti-tidak sengaja ..." ucap Ethan, si pria berkacamata minus dengan penampilan cupu itu.
"Hei, Kutu buku!! Gara-gara kau aku tidak selera makan lagi! Sekarang makanlah semua makanan yang telah tumpah ini!!"
Aress menarik sisi pakaian belakang Ethan dan memaksanya untuk duduk bersimpuh dan memakan makanannya yang terjatuh di atas lantai layaknya seekor anjing yang sedang memakan makanannya.
Ethan terdiam beberapa saat dan akhirnya berniat untuk mematuhi perintah Aress sebagai bosnya saat ini, sedangkan dirinya adalah ibarat seperti piaraannya saja dan dia harus selalu mematuhi perintah dari sang tuan.
Hampir semua mata memandang ke arah mereka dengan tatapan iba, ngeri, merasa kasihan kepada Ethan. Namun juga ada yang menatapnya dengan penuh intimidasi dan murka. Namun tetap saja tak ada satupun yang berani untuk menghentikan dan melawan Aress sang preman sekolah.
Tanpa pikir panjang lagi, Xie Jun Ze mulai menghampiri mereka dan segera menarik tangan kiri Ethan dan membuat Ethan berdiri kembali sebelum Ethan memakan makanan yang telah tumpah di atas lantai itu.
"Jj-Jun Ze ..." ucap Ethan lirih dan masih syok seakan tak mempercayainya, jika Xie Jun Ze masih saja berniat untuk menolongnya, padahal saat ini Xie Jun Ze adalah seorang idol besar.
Dan tentu saja hal ini membuat Ethan semakin curiga. Dia curiga jika Xie Jun Ze hanya gila pujian saja, dan semua ini dilakukan Xie Jun Ze sebagai pencitraan saja.
"Jangan ikut campur!" Ethan menepis tangan Xie Jun Ze dengan sangat kasar dan mulai jongkok kembali untuk melanjutkan menyantap semua makanan yang telah tumpah itu.
Hal itu membuat Aress tertawa menggelegar dengan kedua tangan yang dibukanya. Dia merasa puas karena kacungnya lebih memilih dirinya dan dengan sangat patuh melakukan segala perintahnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Ethan?! Apa kamu bodoh?! Mengapa kamu mau melakukan semua ini?! Mengapa kamu mendengarkan dan menuruti segala kemauan dan perintah dari dia?! Bangunlah dan hiduplah dengan layak sebagai dirimu sendiri!! Kamu layak untuk hidup seperti teman-temanmu yang lainnya!!"
Tandas Xie Jun Ze membuat Ethan berhenti sebelum dia melakukan hal itu, tepatnya saat dia hampir saja memakan makanan di lantai itu.
Belum sempat Ethan maupun Xie Jun Ze mengucapkan sesuatu lagi, tiba-tiha saja Aress berusaha untuk menyerang Xie Jun Ze dari sisi samping.
Namun pergerakan dari Aress bisa dibaca dengan baik oleh Xie Jun Ze, Xie Jun Ze segera meraih salah satu.tangan Aress lalu membanting tubuh Aress ke depan dan mendarat di salah satu meja panjang lara siswa lainnya yang sedang menikmati makan siangnya.
BRAK ...
Tubuh Aress menimpa beberapa nampan makanan milik para siswa dan siswi dan membuat mereka semua terkejut bukan main dan terperanjat.
"Brengsekkk!! Hajar dia!!" titah Aress kepada teman-teman satu servernya.
Aress terlihat sangat marah dan mulai bangun kembali dan ingin membalas Xie Jun Ze. Pakaiannya kini kotor karena terkena makanan itu.
Sementara teman-teman satu server Aress mulai melepaskan kemeja sekolahnya dan hanya mengenakan pakaian you can see pria. Tubuh mereka begitu atletis, kekar dan besar, tidak seperti murid SMU saja. Dan mereka mulai mendekati Xie Jun Ze untuk mengepungnya.
Xu Kai yang merasa khawatir terhadap sahabatnya, kini segera menyusulnya untuk membantunya. Hingga akhirnya, kini dia sudah berdiri saling membelakangi. Sementara Aress dan teman-temannya yang berjumlah 5 orang sudah mengepung Xie Jun Ze dan Xu Kai.
Anzu mulai mengkhawatirkan mereka, hingga akhirnya Anzu berniat untuk menghubungi manager dari Xie Jun Ze dan Xu Kai. Namun saking terburu-burunya, Anzu malah salah menghubungi seseorang.
Dan dengan begitu percaya dirinya Anzu segera memintanya untuk segera datang ke sekolahannya saat ini juga, sebelum Anzu mendengarkan sapaan dari seseorang yang sedang dihubunginya saat ini.
"Kak!! Cepat datang ke sekolahanku saat ini juga! Ada sesuatu yang sedang terjadi ... kakak.harus segera datang ya! Okay! Bye!!" ucap Anzu terburu-buru dan segera mengakiri panggilan itu lalu menyimpan kembali ponselnya tanpa melihat layar ponsel itu.