
“Aduh An’er aku hanya bercanda, kalau kau tak percaya tanya saja sama Paijo.” Kata pangeran Nan Cheng.
Mendengar kengauran pangeran Nan Cheng membuat Gu Ana tidak mau kalah dalam hal tersebut.
“Aduh Cheng, Paijo lagi ga bisa ditanya sekarang, dia lagi dangdutan sama si Bambang.” Kata Gu Ana dengan mimic wajah serius.
“Hah… kondangan siapa? Cik Jamnah yang tetangga wak Taher?” tanya pangeran Nan Cheng.
“Bukan sunatan cucu Tuk Dalang.” Timpal Gu Jun tak mau kalah.
“Hah… kok aku ga tau? Mereka ga ngundang?” tanya pangeran Nan Cheng.
“Undangan ga sampe? Kami kemarin di undang cuman karna ada Jamal di sana jadi aku ga pergi.” Kata Gu Ana tak kalah ngaur.
…
“Lah Jamal kan masa lalu, sekarang dia bukannya sama Fatimah ya?” tanya pengeran Nan Cheng.
“Hem… walaupun dengan si Fatimah, si Jamal tu kalau ketemu dengan ku bidadri cantik ini, dia tetap ngejar ngejar juga.” Kata Gu Ana tak kalah ngelantur.
“Agh… Jiejie kau punya hutang tidak?” tanya Gu Jun sok menyelidiki.
“Ya ampun kemarin aku cuman minta beliin sandal jepit dari warung mang Oding, itu pun cuman sepuluh
ribu, kalau di sini itu satu koin perak aku rasa dapat sepuluh sendal jepit tapi kiri semua, kanan belum dibuat.” Kata Gu Ana menjelaskan.
“Hm… emang mang Oding masih jualan ya?” tanya pangeran Nan Cheng.
“Emang mang Oding kenapa?” tanya Gu Ana sok penasaran.
“Hm… kalian berdua emang kudet, mang Oding kemarin digusur satpol PP.” kata pangeran Nan Cheng.
“Oalah pantas istrinya Mbak Patiem minta cerai.” Kata Gu Jun.
“Emang istrinya itu mata duitan, kalian kalau nyari istri jangan yang mata duitan, nanti nasipnya kayan Mang Oding.” Kata paneran Nan Cheng seolah memperingati orang orang yang ada di sekitar.
“Mereka beda lah, mereka ga sama kayak mang Oding, mereka pangeran cuy, ya sekali pangeran selamanya akan jadi pangeran.” Kata Gu Ana menjelaskan.
“Ah… iya sih, jadi bagaimana? Udah percayakan sama aku?” tanya pangeran Nan Cheng.
“Tentu saja…” Gu Ana sengaja menggantungkan kata katanya sambil menghadap pangeran Nan Cheng. Sedangkan wajah pangeran Nan Cheng sudah dipenuhi binar harapan. “Tidak.” Kata Gu Ana menyambung kata katanya tadi yang sengaja Gu Ana gantungkan.
Mendengar kata kata Gu Ana, sungguh pangeran Nan Cheng tak percaya apa yang Ia dengarkan.
“Apa… setelah pembicaraan kita yang panjang kali lebar kali tinggi per keliling itu tak cukup untuk membuktikan keseriusanku?” tanya pangeran Nan Cheng kepada Gu Ana.
Mendengar kata kata pangeran Nan Cheng membuat Gu Ana memutar bola matanya dengan malas.
“Hei dengar kan aku wahai pangeran Nan Cheng yang biasa aja, dan tidak terhormat sama sekali, aku ini tidak bodoh. Pertama orang orang yang kita sebutkan diatas tadi hanyalah fiksi belaka, kedua panjang kali lebar kali tinggi per keliling itu sama dengan satu, ketiga memangnya sejak kapan sejarahnya aku mempercayaimu? Tidak pernah kan? Oh ayo lah kau itu manusia bermulut manis, jika aku ceroboh mungkin akan jatuh kedalam perangkap mu.” Kata Gu Ana sambil mengangkat alis kepada pangeran Nan Cheng. “Ah… selama kau disini sudah berapa banyak gadis yang kau kencani?” tanya Gu Ana kepada pangeran Nan Cheng sambil menaik turunkan alisnya.
“An’er siapa saja yang pernah Cheng kencani?” Tanya pangeran Zang Handrong penasaran, sementara yang ada di sana sudah serius menunggu kata kata dari Gu Ana.
“Banyak, dan karna aku tak tahu siapa saja makanya aku bertanya kepada Cheng, aku kan tak mengenal gadis gadis di daerah sini.” Kata Gu Ana sambil cengengesan. “Tapi yang harus kalian tahu…” kata Gu Ana kembali menggantungkan kata katanya, membuat semua orang kembali memandanginya dengan wajah serius. “Cintaku pada pangeran Zang Limo luar biasa.” Kata Gu Ana sambil tertawa lepas melihat ekspresi semua orang.
Lain halny pangeran Zang Limo yang kini wajahnya semerah tomat busuk karna perkataan dari Gu Ana. Jantungnya berdebar tak menentu membuatnya menunduk untuk menyembunyikan senyum di wajahnya.
Sementara yang lain yang merasa dipermainkan Gu Ana memilih pergi meninggalkan Gu Ana dan pengeran Zang Limo di gazebo tersebut.
“Ah… yang lain sudah pergi, sungguh membosankan.” Kata Gu Ana cemberut karana kini Ia tak memiliki teman untuk bercanda, sedangkan pangeran Zang Limo? Jangan kan bercanda, dia terlalu kaku untuk diajak bercanda.
“An’er…” panggil pangeran Zang Limo sambil mengahdap ke arah taman.
Sementara yang dipanggil justru sibuk dengan jalan fikirannya sendiri sehingga panggilan dari pangeran Zang Limo tidak Gu Ana dengarkan.
“An’er…” kembali pangeran Zang Limo memanggil Gu Ana, dengan pandangan tetap mengarah ke taman.
Kembali lagi Gu Ana tak menjawab panggilan pangeran Zang Limo.
“An’er…” panggil pangeran Zang Limo kembali namun kini pangeran Zang Limo kini memandang Gu Ana yang terlihat tengah termenung memikirkan sesuatu.
Saat melihat Gu Ana tengat termenung sehingga tak menghiraukan sekitar, membuat pangeran Zang Limo teringat kembali kata kata tabib Long, bahwa Gu Ana tak boleh terlalu setres, dan memendam semunya sendiri.
“An’er apa yang kau fikirkan?” tanya pangeran Zang Limo sambil menyentuh bahu Gu Ana dengan lebut.
Gu Ana yang tiba tiba di sentuh sontak membuatnya terkejut, sehingga membuyarkan lamunannya dan memandang pangeran Zang Limo dengan tatapan bingung.
“Limo ada apa? Kenapa tiba tiba kau memegang bahuku?” tanya Gu Ana bingung dengan sikap pangeran Zang Limo yang tiba tiba.
“Aku memanggilmu dari tadi namun kau tak menjawab, An’er sebenarnya ada apa denganmu?” tanya pangeran Zang Limo.
Mendengar perkataan pangera Zang Limo membuat Gu Ana terkejut, bagaimana mungkin Ia telah dipanggil sebanya beberpa kali namun tak mendengarnya.
“An’er apa kau tak mempercayaiku?” tanya pangeran Zang Limo kepada Gu Ana.
“Tidak aku mempercayaimu sama seperti aku mempercayai Gege ku, Jun’er danCheng.” Kata Gu Ana menjelaskan kepada pangeran Zang Limo.
Pangeran Zang Limo memandang Gu Ana mencari kebohongan dari mata gadis tersebut, namun tak dapat menemukannya.
“Lalu apa yang kau fikirkan?” tanya pangeran Zang Limo.
“Aku memikirkan Ayahku, aku merindukan ayahku.” Jujur Gu Ana.
Namuan ayah yang Gu Ana maksud adalah Daddy nya buka tuan Gu, Gu Ana memang sudah menganggapnya sebagai ayah kandungnya, namun posisi Daddy nya takkan pernah tergantikan sampai kapan pun.
“Besok kau akan kuantarkan pulan ke kediamanmu.” Kata pangeran Zang Limo sambil memeluk Gu Ana, meski berat mengantar gadis tersebut untuk kembali ke kediamannya namun pangeran Zang Limo sadar bahwa Gu Ana belum menjadi istri sahnya, maka dari itu Ia ingin mempercepat pernikahannya dengan Gu Ana.