It'S Me

It'S Me
Sepenggal cerita Vekran.



Seorang pria dengan badan tinggi, dan tegap. Kini tengah bersiap siap, sepertinya ia akan berangkat ke suatu tempat. Pria itu menggeret kopernya hitammya, dan membawanya ke luar dari ruangan tersebut. Dengan berbalut kaus hitam di padu dengan jaket levis biru tua. Laki laki tersebut terlihat gagah, di tambah dengan sepatu kat dan celana levis biru, menambah ketampanannya. Pria itu turun dengan mengangkat kopernya, turun dari tangga.


"Selamat pagi mom, dad, kek." kata pria itu menyapa seluruh penghuni rumah yang sedang duduk di meja makan.


"Pagi semua..." terdengar suara nyaring seorang wanita yang begitu ceria.


"Dek hati hati, kamu ini kebiasaan." kata pria itu kepada seorang wanita.


Wanita itu baru saja turun dari tangga, yang tadi di lalui oleh lelaki itu.


"Vekran, Hanan ayo duduk." kata seorang wanita, yang tadi di panggil mom oleh lelaki tadi.


Ya nama laki laki itu adalah Vekran Candana, anak pertama dari pasangan Ariana Hanvei dan Arkan Candana. Sementara adiknya Hanan Candana kini baru dua belas tahun. Vekran dan Hanan berbeda delapan tahun, yang artinya umur Vekran saat ini berkisar dua puluh tahun.


Vekran dan Hanan segera bergabung dengan yang lainnya, untuk sarapan pagi. Vekran telah menggeret kopernya, agar tidak perlu susah payah lagi untuk naik ke atas.


Tak lama kemudian semua telah selesai dengan sarapannya, Vekran segera menelfon seseorang. Vekran takut kalau teman pergi ke Bandung nya, belum bangun hingga saat ini.


Di sebuah kamar bercorak, biru putih, dengan beberapa stiker Doraemon terpampang di beberap dinding, seorang wanita terbangun oleh bunyi teleponnya yang entah sudah keberapa kalinya. Dia berniat mengangkatnya namun enggan untuk membuka matanya, saat mengangkat telfon tersebut, dia malah tak sengaja menjatuhkan ponselnya ke samping bantal, wanita itu mencoba mengambil ponselnya, namun ia menggesernya hingga kembali terjatuh di kolong kasur.


Wanita itu segera turun dari kasurnya, dengan malas, dan mencari ponselnya di kolong kasurnya, dengan cara mengulurkan tangannya ke dalam kolom tempat tidur. Saat berhasil mencapai ponselnya, tangannya menyentuh sesuatu seperti sebuah kertas.


Saat berhasil mengeluarkan ponselnya, kertas itu ikut keluar. Wanita itu berteriak kegirangan.


"Aaa... ga papa deh ponsel jatuh yang penting nemu duit seratus ribu, lumayan." katanya sembari melompat kegirangan, ketika membuka lembaran seratus ribu, yang terlipat. Sepertinya kantuk pun hilang, dengan wanita itu menemukan duit seratus ribu.


Saat asyki berbahagia dengan penemuan uang seratus ribu nya, Wanita itu melupakan ponselnya, yang tergeletak di lantai.


Kring.


Saat wanita itu mangengkat telfonnya, terdengarlah suara pria dari ujung telfon sana.


"Halo Melly kamu baru bangun ya?" tanya Vekran yang berasal dari ujung telfon sana.


Melly hanya mengernyit bingung dengan pertanyaan Vekran, karena Vekran tahu betul kalau dia memang jam segini biasanya masih tidur, jika sedang liburan.


"Ah iya kak, kenapa?" tanya Melly tampa merasa bersalah.


"Jangan bilang kalau kamu lupa, hari ini itu kita berangkat ke Bandung, ingat kamu sudah mau kuliah." kata Vekran kesal.


Meli yang mendengar hal itu menepuk jidatnya, karena baru mengingat bahwa hari ini ia akan ke Bandung bersama Vekran.


"Ah iya kak, Melly mandi dulu." kata Melly segera mematikan sambungan telfonnya. Melly segera masuk ke kamar mandi, dan bergegas untuk mandi.


Sementara di tempat lain, Vekran yang sejak tadi bersiap. Hanya menggelengkan kepalanya karena kelakuan Melly, yang sangat suka sekali bangun kesiangan jika sedang liburan.


Vekran segera pamit kepada kedua orang tuanya Ariana dan Arkan, Hanan dan Farid. Namun saat hendak berpamitan kepada Farid, Vekran di goda oleh kakeknya, yang kini hanya bisa terduduk di kursi roda.


"Jaga anak orang ya, jangan kamu apa apain, masih kecil kamu." kekeh Farid, membuat yang lain ikut terkekeh, terkecuali Hanan yang masih tak mengerti maksud dari kakeknya.


"Emang kakak mau ngebully kakak Melly ya di sana." kata Hanan bingung. Membuat semua semakin menepuk kepala.


"Engga mungkin sayang, jangan dengerin kata kata kakek, kakek cuman bercanda." kata Vekran mengusap kepala adiknya.


Mau tahu lanjutannya? Kyuk baca di adalah kekasihku.