It'S Me

It'S Me
Episode 53....



Hari ini adalah hari pernikahan putra mahkota Zang Liue, banyak tamu tamu dari berbagai kerajaan telah menghadiri acara tersebut, para gadis gadis menggunakan pakaian terbaik mereka.


“Nona airnya sudah siap.” Kata salah satu pelayan Gu Ana yang diperintahkan mempersiapkan air mandi untuk Gu Ana.


“Baiklah tolong siapkan hanfu yang akan aku pakai.” Kata Gu Ana dengan semangat.


Setelah mengatakan hal tersebut, Gu Ana langsung saja melangkahkan kakinya menuju ruang mandinya, dan segera mambersihkan dirinya. Gu Ana sangat bersemangat hari ini, kanrna akan menghadiri pernikaan pangeran Zang Liue, yang sudah di anggap seperti Gegenya sendiri.


“Ah, segarnya, ayo bantu aku berpakaian.” Kata Gu Ana kepada pelaynnya.


Setelah mendengar perintah dari Gu Ana dua orang pelayannya membantu Gu Ana menggunakan hanfunya.


Setelah menggunakan hanfunya Gu Ana segera merias diri dengan Make Up Barbie ala Korea yang membuat Gu Ana tampak lebih cantik dan dewasa.


Setelah selesai merias diri, Gu Ana kemudian memperhatikan riasan wajahnya, ager terlihat sangat sempurna.


“I’m Barbie girl…” kata Gu Ana sambil bernyanyi.


“Woi… Catrine kaefah tetangga suraifah, lama amat dandannya.” teriak Gu Jun mendobrak pintu Gu Ana.


Melihat Gu Jun yang mendobrak pintunya, membuat Gu Ana mendengus kesal.


“Aduh say, jangan kasar kasar dong, nanti pintu eike yang baru di perbaiki suka.” Kata Gu Ana sambil tersenyum masam, karna kesal.


Saat tengah selesai mengatakan hal itu, Gu Ana melihat Gu Min datang menyusul Gu Jun.


“Ah… Gege mau di sulap jadi oppa oppa korea ga?” tanya Gu Ana menaik turunkan alisnya.


Mendengar kata kata Gu Ana, Gu Min langsung teringat koleganya yang berasal dari Korea, dimana setiap kali mereka akan keluar, Ia harus menunggu koleganya tersebut selama empat jam hanya untuk berdandan.


“Tidak usah aku sudah tampan.” Kata Gu Min bergidik, dan langsung pergi.


Melihat wahaj Gu Min, Gu Ana melangkah meninggalkan meja riasnya, segera menghampiri Gu Juna dan menyusul Gu Min.


“Dia kenapa sih?” tanya Gu Jun heran melihat tingkah Gu Min.


“kelamaan Jomblo mah emang gitu, otak saraf aga rusak.” Kata Gu Ana setengah berbisik dengan Gu Jun yang saat ini beralan di sampingnya.


“Hem… coba cek hatinya jangan jangan banyak sarang laba laba tuh, kelamaan ga ada yang menghuni.” Kata Gu Jun setengah tertawa.


“Hatinya jangan jangan kayak rumah hantu, penghuninya antara ada dan tiada.” Kata Gu Ana sambil tertawa keras.


Mendengar kata kata Gu Ana dan Gu Jun sungguh membuat Gu Min kesal namun mau dikatakan apa lagi, yang dikatakan Gu Ana dan Gu Jun benar adanya.


“Hem… orangnya masih punya kuping.” Kata Gu Min tiba tiba.


Mendengar penuturan Gu Min sontak membuat Gu Ana dan Gu Jun tutup mulut.


“Aduh orangnya dengar, padahal memang sengaja.” Kata Gu Jun sambil tertawa keras.


Mendengar penuturan mereka membuat Gu Min kehilangan kesabaran.


“Kalian…” geram Gu Min segera menarik daun telinga Gu Ana dan Gu Min.


Mendapatkan jewaran di daun telinga mereka membuat Gu Ana dan Gu Jun sontak memegangi telinga mereka masing masing.


“AmpunGege nanti kuping ku melar, ini semua gara gara Jun’er, dia yang memancingku terus menerus, padahalkan aku anak baik baik anti gibah.” Kata Gu Ana dengan memegangi telinganya yang masih memanas akibat jeweran dari Gu Min.


Mendengar penuturan Gu Ana yang menyalahkannya sontak membuat Gu Jun kesal, karna dia merasa jelas jelas bukan dia yang memulainya.


“Ya ampun Jiejie kau menyalahkanku? Kau mengatakan aku yang memancingmu untuk melakukan Gibah? Jelas jelas kau yang ratu gibah di sini.” Kata Gu Jun tak terima dengan ucapan Gu Ana.


“Ha… aku ratu gibah? Kalau aku ratunya maka kau rajanya.” Kata Gu Ana tak terima kata kata Gu Jun yang menyebutnya ratu gibah


“Ya ampun… aku rasa kalau di dunia ini ada fakultas pergibahan maka kau akan menjadi dekannya.” Kata Gu Jun dengan nada mengajak Gu Ana


“Apa apaan kau profesornya.” Gu Ana setengah berteriak tak terima jiak dibilang dekan fakultas Gibag.


“Kalau kau dekannya otomatis Loelebih professor dari aku.” Kata Gu Jun dengan suara lebih tinggi lagi.


“Ya… lebih Gibahan mana aku atau kau? kau harus tau stasiun Tv punya mu itu lebih


banyak gibahnya dari pada acara lainnya. Kalau ga acara gossip sinetron anak


alai.” Kata Gu Ana mengungkap profesi Gu Jun saat di dunianya.


“Masih mending aku, sinetron anak alai, daripada kau sinetron Azab.” Kata Gu Jun tak terima jika stasiun Tv yang Ia bangun dengan susah payah dikatai oleh Gu Ana.


“Ya, makanya aku tau azab dari adek durhaka kayak kamu.” Kesal Gu Ana kepada Gu Jun.


“Ya kau belajar juga azab dari Jiejie yang ga ada akhlak kaya kamu.” Kata Gu Jun membalas Gu Ana.


Gu Min sunggu pusing dengan pertengkaran Gu Ana dan Gu Jun, telinga kanan dan kirinya serasa akan mati rasa dibuatnya, teriakan mereka mampu memekakkan telinga orang lain. Dengan geram Gu Min semakin menarik telinga mereka berdua.


“Aaaa… ampuuun.” Teriak Gu Ana dan Gu Jun serentak.


“Jika kalian berteriak terus aku pastikan telinga kalian akan putus.” Kata Gu Min mengancam.


Mendengar kata kata Gu Min sontak membuat Gu Ana dan Gu Jun terdiam tampa kata.


Tak lama setelah itu mereka sampai di kereta keluarga Gu dimana tuan Gu telah menunggu kedatangan mereka sejak tadi.


Malihat daun tilinga Gu Ana dan Gu Jun ditarik oleh Gu Min membuat tuan Gu mengerutkan keningnya, Ia tahu pasti kedua anaknya itu berbuat onar lagi sehingga putra sulungnya menjewer telinga mereka.


“Ada apa lagi dengan mereka?” tanya tuan Gu mengangkat sebelah alisnya melihat ringisan Gu Ana dan Gu Jun.


“Mereka sangat cerewat, aku rasa gendang telingaku telingaku akan pecah ketika mendengar mereka bertengkar.” Kata Gu Min kepada tuan Gu, sambil melepaskan jewerannya.


Mendengar kata kata Gu Min, tuan Gu hanya menggeleng geleng kepalanya jengah melihat kelakuan Gu Ana dan Gu Jun yang sangat sulit untuk akur jika sedang bersama.


Sedangkan Gu Ana dan Gu Jun, masih diam seribu bahasa sambil menundukkan kepanya sambil memegangi dauntelinga mereka yang telah di jewer Gu Min dengan ganas tampa persaan manusiawi sedikitpun.


“Sudahlah, ayo naik, kita mungkin sudah terlambat.” Kata tuan Gu kepada anak anaknya, sambil membuang nafas kasar.


Setelahcmengatakan hal tersebut kepada anak anaknya, tuan Gu pun menaiki kereta yangcakan mereka tumpangi ke Istana.


Setelahcmelihat tuan Gu naik kereta tersebut Gu Ana pun naik menyusul tuan Gu, kemudiancdisusul Gu Jun dan terakhir Gu Min.