
“Sudahlah, ayo naik, kita mungkin sudah terlambat.” Kata tuan Gu kepada anak anaknya, sambil membuang nafas kasar.
Setelah mengatakan hal tersebut kepada anak anaknya, tuan Gu pun menaiki kereta yang akan mereka tumpangi ke Istana.
Setelah melihat tuan Gu naik kereta tersebut Gu Ana pun naik menyusul tuan Gu, kemudian disusul Gu Jun dan terakhir Gu Min.
Dalam perjalanan mereka diliputi oleh keheningan, tidak ada yang berbicara sedikitpun.
“Gege kau masih marah pada kami?” tanya Gu Ana manja kepada Gu Min.
Mendengar pertanyaan Gu Ana, Gu Min hanya melirik mereka Gu Ana da Gu Jun secara bergantian, lalu membuang nafas kasarnya.
“Ingat nanti disana jangan berbuat seperti tadi lagi ya, ingat kalian bukan anak kecil lagi, aku hanya khawatir dengan sikap kalian.” Kata Gu Min akhirnya.
“Jadi kau tak marah dengan kami? Gege aku sanyang Gege.” Kata Gu Ana menghamburkan pelukannya kepada Gu Min, sambil memonyongkan bibirnya bersiap untuk mencium Gu Min.
“Aaaa… hentikan itu, aku tak mau bedakmu menempel di badanku.” Teriak Gu Min menolah ciuman Gu Ana.
“Ah, Gege aku ini menggunakan Make Up waterproof loh, jadi Ga luntur oleh huajan dan badai.” Kata Gu Ana cemberut karna tak bisa mecium Gu Min.
Melihat Gu Ana mengerucutkan bibirnya, sunggu sangat imut, sehingga membuat Gu Min mencubit pelan pipi Gu Ana
“Baiklah tapi nanti saja setelah acara selsai, setelah kita semua kembali ke kediaman.” Kata Gu Min mencubit pipi Gu Ana.
“Ah… Gege jangan di cubit nanti rusak.” Kata Gu Ana cemberut kepada Gu Min.
Setelah melapas cubitan pelan dari Gu Min, Gu Ana langsung saja mengambil cermin setianya yang selalu ikut kemanapun Gu Ana pergi, lalu melihat wajanga ke dalam cermin, sambil mendekatkan diri dengan obor yang ada di dalam kereta mereka.
“Aduh Jiejie, apa sebegitu pentingnya?” tanya Gu Jun akhirnya membuaka suara yang sejak tadi diam membisu.
“Tentu aku harus mempertahankan penggemarku sekarang yang semakin berkurang karna bertunangan dengan pangeran Zang Limo.” kata Gu Ana sedikit cemberut.
“Ah… iya dia itu bucin tingkat dewa kan? Bisa bisa dia cemburu dengan para penggemarmu.” Kata Gu Jun memulai pergibahan antar mereka.
Mendapatkan pancingan dari Gu Jun membuat Gu Ana termakan umpan, akhirnya pucuk dicinta ulangpun tiba, mereka memulai pergibahan, yang dimana yang mereka gibahi adalah tunangan Gu Ana sendiri.
“Ah… iya gila bucin tingkat dewa, parah bet.” Kata Gu Ana menimpal omongan Gu Jun.
“Ah… iya kan, mas…” kata kata Gu Jun terhenti ketika mendengar bahwa mereka telah sampai di Istana.
“Nanti aja kita lanjutnya, masih sayang kepala nih.” Kata Gu Ana sambil memegangi lehernya.
Sementara Gu Jun mendengar kata kata Gu Ana mengangguk mengerti dan menyetujui untuk menunda gossip hot mereka.
Sedangkan tuan Gu dan Gu Min geleng geleng dibuat tak percaya melihat kelakuan mereka yang tiada tara uniknya.
Kini mereka berjalan menuju aula pesta, dimana di dalamnya sudah terdapat banyak tamu undangan. Saat mereka memasuki aula pesta, semua mata tertuju kepada mereka dengan pandangan memuja.
Bagaiman tidak keluarga tersebut terkenal dengan wajah mereka yang berparas di atas rata rata, mereka memiliki wajah yang sempurna, sikap yang berwibawa, dan senyuman yang menawan.
Seluruh mata kaum hawa terpaku melihat Gu Min dan Gu Jun karna ketampanan Gu Min dengan wajah datar, dan imutan Gu Jun dengan senyuman manisnya.
Sementara kaum adam terpaku kepada Gu Ana dengan polesan bedak dan perona sontak membuat Gu Ana menjadi sorotan. Bagaimana tidak wajahnya yang imut kini menjadi sangat cantik, bak boneka porselen yang dipahat sempurna, ditambah gaya berjalannya bak model yang tengah Catwolk di atas panggung, di tambah dengan senyuman manis yang selalu menggantung di bibirnya yang seksi.
Mereka akhirnya memilih duduk di kursi yang telah di persiapkan untuk tamu, meski seluruh mata masih mengekori mereka.
“Ehem…” deheman raja membuyarkan mengembalikan fokus mereka untuk kembali ke acara yang sebenarnya.
“Ya iya lah, kita itu ibarat primadona disini.” Kata Gu Jun tak mau kalah.
“Ehem… jaga sikap.” Kata Gu Min yang masih setia dengan wajah datarnya.
Saat mereka tengah berbincang bincang tiba tiba pangeran Nan Cheng mendekati mereka, dan menyapa mereka.
“Halo bro…” kata pangeran Nan Cheng dengan salam mamen khas abad 21, kepada Gu Min, Gu Ana, dan Gu Jun.
“Eh sist udah sembuh otak nya?” tanya pangerna Nan Cheng memulai pertempuran dengan Gu Ana.
Mendengar perkataan pangeran Nan Cheng sontak membuat Gu Ana mendengus kesal.
“Eh, suprapto kalau ini ga lagi di acara, udah aku gibang pala mu.” Kata Gu Ana geram kepada pangeran Nan Cheng, yang dari abad 21 hingga mereka terdampar di sini masih suka memulai keributan di antara mereka.
Sedangkan tersangka utamanya hanya cengengesan di depan mereka, sambil menjulurkan lidanya.
Melihat kedekatan antara Gu Ana dan pangeran Nan Cheng membuat pangeran Zang Limo kesal dengan hal itu, kemudian mengambil inisiatif untuk mendekat dengan mereka.
“Hai Limo, kau takut An’er mu ku ambil ya?” kata pangeran Nan Cheng dengan entengnya. “Tenang dia bukan seleraku.” Sambil melirik Gu Ana.
Gu Ana yang sudah tak tahan lagi melihat tingkah pangeran Nan Cheng, membuat Gu Ana memukul kepala pangeran Nan Cheng dengan kesal.
Lain hal yang mendapat pukulan tambah senang karna berhasil memancing amarah Gu Ana, sementara melihat hal tersebut sontak membuat mereka bingung, bagaiman tidak pangeran Nan Cheng justru tertawa setelah kepalanya di pukul oleh Gu Ana.
“An’er sudahlah.” Kata pangeran Zang Limo memegang pundak Gu Ana, yang saat itu masih diliputi oleh rasa kesal akibat perbuatan pangeran Nan Cheng.
Sementara pangern Zade dan pangeran Zang Handrong melihat perkumpulan mereka memilih ikut bergabung dengan mereka. Sedangkan Jendral Li Zong, Xu Jiali, dan Xu Jiang juga menyusul untuk bergabung dengan mereka.
Di tempat lain keempat mata telah memperhatikan mereka sejak tadi dengan tatapan memuja dan tak suka atas kedekatan Gu Ana dengan banyak laki laki, siapa lagi kalau bukan Raja Bei Qing dan putra mahkota Bei Xuang.
Gu Min jengah mendengarkan candaan teman temannya itu, kemudian memilih meninggalkan mereka sebentar dan memilih keluar dari aula sebentar, untuk menenangkan fikiran, karna jujur saja Ia tak suka keramaian.
Saat tengah berjalan di depan aula Gu Min bertemu dengan wanita yang bertabrakan dengannya di pasar lalu memaki makinya di muka umum.
“Ah… nona ini lagi.” Guman Gu Min sambil mendekati wanita tersebut. “Gu Min.” ujar Gu Min nenjulurkan tangan kepada wanita tersebut.
“Ah… Ruang Qin.” Kata Ruang Qin sambil tersenyum. “Maaf untuk kejadian yang dipasar.” Katanya lagi.
“Hem, semua yang berlalu hanya masalalu.” Kata Gu Min memandang pemandanga yang ada di luar.
Mereka akhirnya berbincang bincang di depan aula, hingga akhirnya tak menyadari kehadiran Gu Ana.
“Ayo… mau apa? Lagi pacaran ya.” Goda Gu Ana sambil menai turunkan alisnya.
Mendengar perkataan Gu Ana sontak membuat wajah Ruang Qin bersemu merah, sedangkan Gu Min hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Gu Ana.
“Sudahlan bergabung sana dengan yang lain.” Usir Gu Min karna tidak enak dengan Ruang Qin.
“Idih, ketimbang digangguin aja ga mau, ya tau deh yang lagi pacaran, lagian aku gamau jadi obat nyamuk ya.” Kata Gu Ana melirik Ruang Qin tersenyum.
“Ah… calon kakak ipar, besok aku bermain di kediamanmu ya.” Kata Gu Ana mengedipkan sebelah matanya sambil berlari meninggalkan Gu Min dan Ruang Qin.
“Maaf nona, Meimei ku memang begitu, toling jangan dimasukkan kedalam hati.” Kata Gu Min merasa tidak enak dengn Ruang Qin.
Sedangkan Ruang Qin hanya menjawab dengan senyuman, sementara pipinya sudah semerah tomat.