Beauty Clouds

Beauty Clouds
Mimpi Buruk yang Menjadi Kenyataan



Di kamar, Rio tak henti-hentinya menggoda Ody, dari memberikan ciuman di tangan, di wajah sampai mencuri ciuman di bibirnya. Ody pun berkali-kali menegur Rio, tetapi tak sekali pun teguran Ody diindahkan oleh Rio. Malah justru Rio semakin agresif, semakin ditegur semakin menjadi, itu lah gambaran Rio.


"Tuan Anda bisa diam tidak." sungut Ody, udah mulai jengah dengan tingkah Rio.


"Sepertinya Tidak." ucap Rio meledek Ody.


"Kalo gitu udahan sajah deh, cape juga mijit, tapi yang dipijit pura-pura sakitnya," dengus Ody kesal.


Rio yang melihat Ody kesal, dan memanyunkan bibirnya justru terangsang. Tanpa persetujuan Dari Ody Rio mencium bibir Ody, kali ini bukan ciuman sekilas seperti sebelumnya tetapi ciuman yang memabukan, Rio ******* bibir Ody dengan rakus. Ody hanya diam tidak membalas ******an Rio. Cukup lama Rio bermain di bibir mungil Ody walaupun tanpa balasan tetapi Rio tetap asik menikmati manisnya bibir mungil Ody.


"Kenapa diam ajah?" tanya Rio, ketika ia melepasan pangutannya.


"Lalu aku harus gimana?" tanya Ody bingung, sebelumnya ia berpacaran dengan Doni, mereka tidak pernah melakukan hal seperti itu, bahkan ciuman pipi ajah mereka mencuri-curi takut apabila ada yang melihat dan melaporkan kekeluarganya.


"Dibalas dong, memang nggak pernah melakukanya yah?" tanya Rio dengan terkekeh jail.


"Melakukan dengan siapa? Kan aku berpacaran dengan Mas Doni juga 5 tahun pacaran jarak jauh satu di Jepang satu lagi di korea, dan satu tahun waktu masih sekolah jadi nggak neko-neko pacaranya." jawab Ody jujur.


"Kalo gitu nanti aku ajarin sampe jago, dan kalo perlu nonton vidio edukasi biar makin jago," ujar Rio sembari tersenyum jahil.


"Terserah ajah deh, saya mau tidur tuan, udah malam," ucap Ody sambil menguap menandakan ia sudah benar-benar mengantuk.


"Eh.... mana bisa gitu. Olahraga dulu biar sehat, enak ajah main tidur ajah, udah berontak gini si junior masa mau lepas tanggung jawab." cicit Rio.


"Olahraga apa tuan malam-malam begini?" tanya Ody polos.


"Olahraga diatas ranjang," jawab Rio sekenanya, kini Rio udah berada diatas Ody. Rio mengukung Ody dengan posesif.


"Mulai sekarang aku nggak mau tau, kamu nggak usah panggil aku tuan lagi, aku bukan bosmu lagi, sekarang aku adalah suamimu makanya kamu sekarang panggilnya sayang." ucap Rio sembari mendesah di telinga Ody, dan berhasil membuat bulu kuduk Ody merinding.


"Lalu panggil apa?" tanya Ody polos.


"Sayang!" jawab Rio singkat.


Ody langsung kaget dan melotot, hal itu tak lagi disia-siakan Rio, ia mencium Ody dan kali ini tanganya sudah bermain diatas perut rata Ody membelai lembut perut Ody, dan menyaca calon buah hati mereka.


"Kita ulang lagi malam itu yah?" bisik Rio di telinga Ody.


"Tapi, apa tidak bahaya, bukanya dedenya masih kecil." tanya Ody bingung.


"Kamu lupa, suamimu dokter pasti tau mana yang berbahaya dan mana yang tidak, apalagi suamimu dokter sepesialis anak, nggak mungkin akan menyakiti anaknya sendiri," bujuk Rio, nggak mau menyerah merayu Ody.


"Tapi, aku juga masih takut, nanti sakit lagi kaya waktu pertama kali kamu melakukanya?" ujar Ody berterus terang dengan kecemasanya.


"Kalo ini beda, kalo dulu akau melakukanya karena dibawah pengaruh obat perangsang, sehingga aku melakukanya dengan kasar. Kali ini jelas beda, akan lebih lembut dan lebih menjiwai sehingga tidak akan menyakitimu, karena aku melakuaknya dengan sadar." bujuk Rio, ia juga menjelaskan tragedi waktu lalu ia tengah dibawah pengaruh obat perangsang.


Karena Rio yang terus menerus meminta dan merayu Ody sehingga Ody pun akhirnya pasrah.


"Ya udah, tapi janji yah pelan-pelan sajah, aku takut kalo nanti sakit lagi." pinta Ody.


"Iya janji." jawab Rio girang. Rasanya ia pengin koprol saking senengnya.


Di kampung Ody...


Kondisi Ibu Arum yang semakin hari semakin menurun, malam ini pun kembali drop dan Hendra bersama sodaranya membawa ibu ke rumah sakit terdekat.


Entah lah perasaan Hendra sudah kacau, seminggu ini Hendra tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bayang-bayang kepergian ayahnya yang belum lama ini dan disaksikan langsung oleh Hendra, membuat Hendra memiliki trauma yang sangat tinggi. Ia sangat takut hal itu akan terulang lagi kepada ibunya, maka dari itu setiap Hendra tidur, akan terbangun tiba-tiba dan dalam keadaan ketakutan, seperti mimipi buruk, tetapi juga seperti nyata, kemudian ia dilanjutkan selalu mengecek dan menjaga kondisi ibunya.


Malam ini kecemasan Hendra lagi-lagi datang, ketika melihat ibunya kejang dan langsung tidak sadarkan diri. Badan lemas seperti tak bertulang, tetapi ia dituntut harus kuat. Henda membopong ibunya seorang diri. Biarpun badan ibu sekarang hanya tulang berbalut kulit, tetapi karena Hendra panik dan lemas, sehingga badan ibu terasa berat.


Hendra terkulai lemas setelah membopong ibunya dan sekarang ibu tengah diperiksa di IGD rumah sakit. Hendra duduk lemas di lantai rumah sakit, entah penampilanya seperti apa, takut, sangat takut, ia sangat takut apabila ibunya menyusul ayahnya berpulang kepangkuan sang pencipta.


"Ndra, kamu lebih baik kasih kabar sama kakamu. Gimana pun Ody kakamu, anak dari ibumu. Dia harus tau kondisi ibumu saat ini." ucap sodara Hendra.


Hendra termenung, disatu sisi Hendra juga pengin kakanya tau kondisi ibunya, disisi lain ia sudah berjanji untuk tidak memberitahukan Ody tentang kondisi ibunya.


"Hendra cuma takut Mang, ibu nggak izinin Hendra untuk memberitahukan Mba Ody tentang kondisi ibu," lirih Hendra, dengan suara berat menaha tangisanya.


"Iya Mamang tau, tapi kasian Mbamu, dia juga disana pasti kefikiran. Firasat pasti ada, bisa sajah Ody saat ini juga tengah tidak tenang karena disini ibumu sedang kritis." balas sodara Hendra tak henti-hentinya menasihati Hendra agar menghubungi Ody.


"Memang yang diucapkan Amang ada benarnya juga." batin Hendra. "Kalo gitu biar Hendra hubungi Mba Ody." ucap Hendra pada akhirnya akan mengikuti saran dari Mamangnya.


Namun, baru juga hendra akan mengambil handphone'nya di dalam tas, seorang perawat memberitahu Hendra bahwa Hendra diminta masuk kedalam ruangan.


"Hendra dengan lemas mengikuti kemana suster itu berjalan. Hendra melihat seorang Dokter dibantu perawat tengah merapihkan alat yang barusan dipakai untuk memeriksa ibunya. Hati Hendra sudah bergemuruh menolak apa yang dia liat. Tanpa terasa air matanya jatuh.


"Ibu Anda telat dibawa kesini, sehingga kami telat melakukan penolongan." ucap seorang Doker lain yang menghampiri Hendra.


Bagai dihantam dengan balok besar, lutut Hendra tak lagi bisa menopang tubuhnya. Hendra terkulai lemas di atas lantai rumah sakit, matanya tak lagi bisa membendung air matanya. Ketakutanya kini jadi kenyataan.


Seorang Dokter menghampiri Hendra, ia iba ketika melihat Hendra yang masih mudah datang seorang diri membopong ibunya, dengan lari tersenggal hanya untuk memberikan pertolongan agar ibunya tetap bisa bertahan hidup. Namun, Tuhan berkata lain, ibunya kini tengah berpulang.


"Yang sabar yah, kami sudah mengupayakan segala cara, untuk memberika penanganan terbaik, tetapi ibu Anda sudah tidak dapat kami selamatkan. Ibu Anda sudah berjuang sampai disini, sekarang tugas Anda mengantarkan keperistirahatan terakhir dengan sebaik mungkin. Jangan ditangisi kasian almarhumah." ucap salah satu dokter menguatkan Hendra.


Hendra hanya mengangguk lemah. Kini ia memaksa menguatkan untuk berdiri, membuka kain putih yang menutup wajah ibunya. Wanita kuat, wanita cantik yang sangat sabar yang selalu ada disetiap harinya. Kini Hendra harus ikhlas melepasnya. Hendra mencium wajah ibunya, mencium tangan ibunya yang kini sudah tidak hangat lagi.


"Maafin Hendra Bu, kata Dokter, Hendra telat membawa Ibu ke rumah sakit, sehingga Ibu telat mendapat peetolongan. Maafin Hendra," lirih hendra dengan isakan dan lelehan air mata.


Tak ada kata lain yang bisa Hendra ucapkan selain maaf dan maaf, penyesalan selalu datang diakhir. Andai sajah sejak pertama ibu sakit, Hendra ngotot membawa ibunya ke rumah sakit, mungkin semuanya tidak seperti ini. Meskipun ibunya menolak untuk di rawat di rumah sakit seharusnya Hendra lebih keras lagi memaksa ibu agar mau mengikuti kemauan Hendra, tetapi malah Hendra juga pasrah ketika ibunya menolak untuk di bawa kerumah sakit.


Kini Hendra lupa bahwa ia berniat mengubungi Ody. Hendra tengah meratapi kepergian ibunya, sedangkan sodra Hendra pun belum tau bahwa ibu Hendra sudah tiada. Sodara Hendra berada di luar rumah sakit, sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi didalam rumah sakit.


#Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin.🙏


Tetap dukung othor yah, dan kalo berkenan bantu share ketemen-teman semu, supaya makin banyak yang mampir kekarya othor.🙏


...****************...


#Terimakasih buat yang udah mampir, dan jangan lupa tinggalkan jejak yah.❤


# Mampir juga kekarya Othor yang satunya yah "Jangan Hina Kekuranganku" ceritanya nggak kalah seru loh...❤