
Satu-satu acara mereka ikuti dari pembacaan doa makan dan yang terakhir tentunya membahas tentang permintaan terakhir Wahid, di mana yang hadir tidak tahu bahwa akan membahas ini. Baik Ipek atau pun Clovis juga tidak tahu akan membahas seperti ini memang sepertinya akan terjadi ketegangan pasalnya belum tahu akan membicarakan apa pun suasana di aula itu sudah dingin dan tegang.
"Asslamualaikum semuanya, sebenarnya kami mengundang kalian bukan semata-mata untuk makan bersama dan lain sebagainya, tetapi memang ada maksud yang ingin kami bicarakan dan kami sengaja undang Bapak Lurah dan Ibu Lurah selaku orang tua dari almarhum Wahid sebagai cucu menantu kami." Abah berhenti sejenak dan menarik nafas dalam dan menundukan kepala sebagai salam hormat dengan keluarga besanya.
Begitu pun keluarga Wahid membalas dengan sopan apa yang Abah lakukan.
"Jadi mungkin kalian tidak tahu, bahwa Wahid sebelum meninggal dunia, tepatnya beberapa jam sebelum ajalnya datang, beliau telah berpesan dan pesan itu di rekam oleh perawat yang menjaganya. Bahwa Nak Wahid, ingin apabila ia berpulang istrinya, Ipek. Menikah dengan Clovis, (Abah sejenak menatap ke arah Clovis, dan yang paham pun mengikuti Abah, sehingga tahu bahwa yang di maksud Clovis adalah laki-laki yang duduk disamping Arzen. Itu karena Clovis tersenyum ramah ketika ada yang menatapnya) Pasti banyak yang bertanya Clovis siapa? Kenapa Wahid bisa memberi amanah seperti itu? Di sini nanti Abah akan katakan bahwa Clovis adalah laki-laki yang pernah cucu kami cintai, tetapi itu dulu jauh sebelum kenal dengan Wahid. Setelah kenal Wahid cucu saya mencintai suaminya dengan tulus, tetapi entah alasan apa Abah dan yang lain pun tidak tahu tiba-tiba Wahid membuat keputusan demikian. Abah cuma mau berunding baiknya ini gimana? Abah tidak mau di cap salah memngambil keputusan karena ini jatuhnya kedalam masa depan cucu saya dan juga hubungan dengan alhamhum suaminya. Menurut bapak Lurah selaku orang tua nak Wahid bagai mana?" tanya Absh dengan sopan, sementara baik Ipek maupun Clovis sudah tegang wajahnya saja sudah entah berupa apa.
Kemarin Clovis menertawakan Arzen. Kali ini dia justru lebih parah perasaanya, Arzen yang tahu perasaan Clovis tidak menentu pun mengelus punggungnya, sebagai suport yang bisa ia berikan sebagai teman.
Sebelum Pak Lurah selaku Abinya Wahid menjawab, lebih dulu di putar pesan dari Wahid, yang memang tidak semua di kirim vidio itu karena menjaga perasaanya terlebih Ipek yang masih sensitif. Sejak tadi ajah air matanya masih sesekali jatuh dan itu menandakan bahwa ia masih berduka.
Stelah melihat rekaman Wahid Pak Lurah pun menarik nafas dan mulai menjawab, kesimpulan dari vidio itu.
"Jujur kalo kami, selaku keluarga dari Wahid, karena itu permintaan Wahid, dan sepertinya dia tidak asal meminta kalo tidak mengetahui perasaan keduanya. Pasti Wahid sudah mengamati bahwa Ipek bisa bahagia bersama Clovis. Sekarang tinggal kemvbalikan lagi pada keduanya perasaanya seperti apa, dan keberatan tidak buat Nak Clovis atau pun Neng Ipek. Tapi semuanya setelah masa idah pasti kan Abah?" Pak Lurah Sebagai orang tua Wahid tidak masalah dengan semua permintaan anaknya.
"Kalau kami sebagai keluargaa Ipek yang tahu bagaimana perlakuan Clovis terhadap putri kami tentu tidak setuju. Kami ingin yang terbaik untuk putri kami, Di mana Clovis dulu adalah orang yang sangat membenci putri kami, dan mau menyelakai putri kami, kami tidak mau putri kesayangan kami menderita nantinya karena menjalankan wasiat dari suaminya, terkecuali Clovis bisa menunjukan itikad baik dan kelakuanya tidak seburuk dulu mungkin kami akan menerima, lebih tepatnya rubah dulu kelakuan buruk dia dan baru datang kerumah kami untuk meminang putri kami itu kami rasa lebih baik. Karena sebagai orang tua tentu tidak ingin anaknya di sakiti. Di mana Ipek kami jaga, kami besarkan, kami didik putri kami dengan baik tetapi malah oleh orang asing di sakiti di rendahkan, itu sakit, sakit banget kami sebagai orang tua." Abi dengan suara bergetar mengungkapkan apa yang dulu pernah Abi rasakaan, dengan curhatan ini. Abi berharap bahwa Clovis mau mendengar dan mengerti bagai mana menjadi keluarga Ipek di mana putri kesayanganya dia sakiti.
Clovis yang mendengar uangkapan Abi tentu merasa bersalah pelupuk matanya panas seketika. Dia dulu tidak pernah terfikirkan sekali pun bahwa perbuatanya yang menyiksa Ipek dan merendahkan wanita itu akan membekas sampai ke orang tuanya. Yang baru Clovis tahu ternyata Ipek adalah anak sultan, keluarganya keturunan sultan semua, hartanya di mana-mana tetapi demi mengejar cintanya pada dirinya Ipek rela menyamar menjadi orang miskin, pantas saja sesekali Clovis curiga dari wangi pafum Ipek dulu bukan aruma wangi dari minyak wangi murahan, tetapi wangi dari tubuh Ipek adalah wangi dari minyak wangi berkelas yang hanya orang-orang berduit bisa membelinya, dan kejanggalan lain yang membuat Clovis sedikit tidak percaya bahwa Ipek adalah orang yang miskin.
Berbeda dengan Clovis yang menyesal dengan kelakuanya dulu Ipek justru di pojokan kembali meneteskan air mata entah apa ia bisa kembali menangis, atau kah Ipek yang tidak memiliki perasaan lagi pada Clovis atau Ipek juga sebenarnya ingin tetap menikah dengan Clovis tetapi di tentang oleh keluarganya.
"Kalo begitu Abah pengi bertanya sama yang bersangkutan. Nak Clovis bagai mana perasaan Anda dengan cucu kami, atau kah Anda sanggup kalo selama masa idah cucu kami Anda menunjukan kelayakan Anda sebagai calon suami yang baik, beriman, dan bisa menjadi imam untuk cucu kami?" tanya Abah dengan suara yang berat dan tegas.
Clovis yang memang sudah siap dengan pertanyaan itu ia langsung menjawab.
"Sebelumnya saya, akan meminta maaf buat keluarga Ipek dan juga Ipek sendiri atas perlakuan saya tiga tahun lalu (Clovis menatap Ipek yang menunduk sejak tadi dan keluarga Ipek duduk) Saya sudah menyadari kesalahan saya, saya sudah menyesali kesalahan saya, sehingga perlu Anda semua tahu selama tiga tahun ini saya juga mencari keberadaan Ipek, tetapi baru belakangan ini kami di pertemukan kembali, dan tujuan saya mencari Ipek dulu tentu karena saya sadar Ipek anak yang baik tidak seperti yang saya fikirkan dan saya akan meminta maaf pada dia. Namun karena dulu saya tidak sempat meminta maaf jadi izinkan saya meminta maaf pada Ipek terkusus pada keluarga besarnya juga. Kalau memang keputusan Anda semua adalah seperti tadi saya akan mengambil tantangan Anda, saya akan berusaha belajar dengan agama islam lebih dalam lagi dan saya akan tujukan bahwa saya bisa membahagiakan putri, cucu dan adik Anda semua. Tetapi kalau memang selama masa idah selesau menurut penilaian Anda semua, saya tidak layak menjadi pendamping Ipek. Saya iklaskan Ipek menikah dengan orang lain."Clovis dengan tegas menjawab pertanyaan Abah dan kecemasan Abi. Semua yang hadir cukup puas dengan jawaban Clovis yang cukup percaya diri dan berani mengakui kesalahanya dulu, tetapi bagi Abi tetap sajah ia malah menilai Clovis itu terlalu besar kepala, sehingga Abi tidak akan tinggal diam untuk menerima Clovis begitu saja sebagai menantu laki-laki satu-satunya di keluarganya.
"Kita lihat saja Clovis bagai mana kamu bisa bertahan untuk membuktikan kelayakan kamu sebagai menantu kami, batin Abi dengan senyum sinis di ujung bibirnya, dan pandangan kedua matanya tertuju pada Clovis.