
Zawa yang sangat kaget dengan ucapan suaminya itu, tentu tindak menyangka bahwa keluarga Ipek ternyata seperti memiliki sifat yang suka menghakimi seseorang dari dari masa lalunya.
"Terus kedepanya gimana sayang?" tanya Zawa kembali berbisik agar Clovis tidak kembali mendengar. Namun itu sangat tidak mungkin jarak mereka yang sangat dekat pasti sangat kedengaran satu sama lain.
"Entah, untuk malam ini Clovis nginap di rumah ini nggak apa-apa kan, kasihan dia enggak ada teman untuk curhat. Mungkin dengan bersama aku dia bisa sedikit mau menyampaikan unek-uneknya. Dan hatinya sedikit lega dan juga dia nggak merasa sendirian. Kita gantian saling bantu, dulu dia juga sering bantu kita kok. Kamu enggak masalah kan kalo Clovis malam ini tidur di sini?" tanya Arzen dengan berhati-hati, takut Zawa tidak mengizinkan, kasihan juga Clovis harus sendirian menghadapi kesedihan ini. Biarpun terlihat tenang dan tentu seolah tidak terjadi apa-apa tetapi Clovis juga manusia biasa di dalam hatinya pasti ada kesedihan.
"Iya sayang tidak apa-apa, kamu temanin Clovis ajah. Sepertinya dia juga butuh teman untuk curhat," ucap Zawa tidak ada keberatan sama sekali dengan rencana Arzen yang mau menemani Clovis malam ini untuk bertukar kesedihan.
Setelah Zawa tahu permasalahan Clovis ia pun malam ini berusaha tidur tanpa di peluk suaminya. Dan itu sangat-sangat sulit, butuh waktu lama Zawa untuk bisa tertidur dengan nyenyak, dan setelah melewati banyak kegelisahan, balik kanan dan balik kiri seperti tukang sate yang sedang membalik dagangan satenya. Akhirnya Zawa bisa tidur juga dengan damai.
Sementara Arzen dan Clovis di lantai bawah. "Vis, loe udah tidur?" tanya Arzen begitu Zawa sudah naik ke lantai atas.
"Hemmmzzz... loe udah selesai gibahin gue?" tanya Clovis dengan mata masih tertutup.
"Zawa pengin tahu hasil dari pertemuan kita jadi gue terpaksa cerita hasilnya, jujur. Enggak enak kan kalo gue ngobohongin dia dengan jawaban yang sebalikya. Gue hanya pengin dia tahu dan mungkin dia bisa kasih solusi juga," bela Arzen. Agar semua tidak salah sangka.
"Hemzz... tidak masalah kok, cepat atau lambat semuanya juga akan tahu. Dan gue kayaknya mau balik lagi ke Singapura deh Zen. Kerjaan di sini bisa di serahin sama orang kepercayaan gue kan," ucap Clovis sembari bangun duduk dari rebahanya.
"Hah... kenapa loe mesti balik ke Singapura, lagian kalo di sini kan juga loe bisa tetap sama kita-kita bisa saling bercerita nggak usah lah harus balik ke negara loe di sana." Arzen takutnya Clovis bersifat seperti dulu lagi mana di negara Clovis tinggal dia masih tergolong bebas banget untuk menjalani kehidupanya.
"Entah pengin kumpul sama kelaurga ajah, di saat ada masalah seperti ini keluarga aku rasa nomor satu untuk mengadu," ucap Clovis entah memang itu hanya akal-akalanya dia sajah agar bisa kabur dengan semua yang Clovis alami atau memang karena ia ingin memperbaiki hubungan dengan keluarganya sesuai yang dia ucapkan.
"Kalo loe sudah bilang begitu rasanya gue nggak bisa ngomong apa-apa Vis. Tapi kalo boleh saran sih loe tetap tinggal di sini karena kan Ipek juga belum tentu jadi nikah sama laki-laki itu. Selama janur kuning belum melengkung kamu boleh pepet dari sepertiga malam kamu. Siapa tahu dengan kamu melakukan sholat malam dan meminta Ipek sama Allah langsung kamu bisa meluluhkan hati Abi. Semuanya tidak ada yang tidak mungkin Clovis. Kamu jangan berputus asa ada cari cara terakhir yang bisa kamu lakukan," bujuk Arzen agar Clovis tidak menyerah.
"Caraya meminta di sepertiga malam bagai mana Zen. Bisa kamu ajarin aku," lirih Clovis, tidak ada salahnya kan dia meminta setiap apa yang dibisa dan apa yang bisa dia lakukan. Sungguh Arzen pun dengan senang hati akan memgajarkan apa yang bisa ia ajarkan. Siapa tahu saja, Clovis memang ada jodonya dengan Ipek.
****
Di tempat yang berbeda Ipek sejak tadi menangis tidak ada henti baru kali ini ia merasakan sesedih ini. Baru kali ini Ipek merasakan benci terhadap Abinya. Sampai-sampai ia berfikir untuk kabur walaupun resikonya ia pasti akan membuat keluarganya malu tetapi ia sangat-sangat tidak tahu apa yang akan menjadi jalan hidupnya.
Ipek merasa Abinya sudah benar-benar berbeda, Abi itu kali ini bukan Abi yang dulu di mana dulu Abi selalu ngertiin apa kemauan Ipek. Tidak sekali pun Abi pernah membiarkan Ipek bersedih. Tetapi kali ini Abi malah membiarkan Ipek merasakan sedih secara terus menerus.
"Abi, kenapa Umi sekarang lihat Abi itu keras sekali sama Ipek? Umi jujur kehilangan siapa Abi sebenarnya, Abi apa nggak takut kalo putri kita nanti berontak dan kabur?" tanya Umi sebenarnya Umi juga sudah setiap saat menasihati Abi tetapi Umi juga merasa Abi itu sekarang berbeda. Tidak seperti Abi yang dulu.
Di mana Abi dulu ketika mengambil keputusan selalu bertanya lebih dulu pada Umi, tetapi sekarang justru Umi menasihati berkali-kali dengan keputusanya tetapi ia tidak pernah mau mendengar nasihat Umi. Abi tetap dengan pendirianya sendiri yaitu menolak Clovis dan menjodohkan Ipek dengan laki-laki lain.
"Abi hanya ingin yang terbaik untuk anak kita Umi. Apa Umi mau melepaskan anak kita dengan laki-laki berengs*k itu. Abi tidak mau anak kita menderita nantinya ketika menikah dengan laki-laki itu." Abi selalu mengeluarkan jurus itu di mana jurus kebahagiaan Ipek menjadi jurus andalanya.
"Abi selalu menjawab kebahagiaan Ipek, padahal Umi lihat kebahgiaan anak kita ketika bisa bersatu dengan laki-laki yang di cintainya. Abi itu terlalu egois. Awas ajah Bi, kalo menyesal dan lihat anak kita tidak bahagia. Kita sebagai orang tua yang menyesal," ucap Umi sebari pergi dari kamar mereka.
Umi memilih menemani putrinya, tidur bersama putrinya, saling curhat saling cerita. Agar tahu bagai mana suara isi hati putrinya.
"Sayang, buka pintunya yah," ucap Umi, yang entah mengapa pintu kamar anaknya tumben-tumbenan di kunci.
"Kenapa Mi?" tanya Ipek dengan suara serak, sangat ketahuan bahwa putrinya sejak tadi menangis.
"Umi ingin tidur sama kamu sayang, Umi sedang kesal dengan Abi, bolehkan Umi tidur di kamar kamu," ucap Umi dengan nada memohon.
Ipek pun dengan malas membukakan pintu kamarnya. Meskipun ia sudah tahu bahwa Uminya mungkin saja tengah usaha menasihati dirinya agar mengikuti apa kemauan Abi.