
Clovis dan Abi masih bingung dengan apa yang terjadi, terutama Abi, kenapa bisa ia ada di kamar putrinya. Laki-laki yang sebentar lagi menyandang menjadi kakek itu pun heran, beliau sudah sangat yakin kalo tadi berjalan menuju kamar Maher, bukan kamar Ipek, tetapi kenapa bisa dia mandi di kamar mandi Ipek. Apa iya dia berjaan sembari tertidur Dan Clovis pun heran apakan Abi dan dia semalam tidur bersama, tetapi perasaan Clovis, tubuh yang semalaman ia rangkul tubuh Ipek bukan tubuh mertuanya.
"Abi... Abang... kalian sedang apa?" pekik Ipek kaget, kenapa Abi dan suaminya, ada di kamar mandi dan keduanya sedang memakai handuk, itu berati mereka....
Yah, fikiran Ipek menjurus pada perbuatan yang tidak seharuasnya di lakukan oleh pasangan sesama jenis. Wajah Ipek terlihat sekali marah dan telunjuknya pun tanpa sadar diacung-acungkan pada Abi dan juga suaminya, seolah Ipek tengah memarahi dua orang itu. Hal itu syoknya, sehingga apa yang dia lakukan seolah tidak menyadarinya.
"Sayang, dengar Abang dulu, tadi Abang pikir yang mandi di kamar mandi kita itu kamu, jadi Abang mau tagih janji kamu yang semalam, taunya ternyata yang mandi malah Abi, tapi Abang berani sumpah, Abang tidak ngapa-ngapain dengan Abi kok," ujar Clovis dengan wajah ketakutan dan merasa tidak enak, takutnya nanti malah di kira main macam-macam dengan mertua laki-lakinya.
"Iya nih sayang, Abi juga enggak tau kalo ini kamar mandi kamu, tadi Abi mau numpang mandi di kamar mandi kakak kamu, Maher, tapi kenapa kamar kamu pundah ke kamar Maher," elak Abi, laki-laki paruh baya itu rasanya kurang mantap kalau tidak menyalahkan yang lain. Buktinya sudah jelas dia yang melamun dan tidak sadar berjalan ke kamar Ipek tetapi malah menyalahkan kamar Ipek yang seolah pindah ke kamar Maher.
"Bukan kamar Ipek yang pindah ke kamar Maher, Abi. Tapi Abi ajah kayaknya yang pengin dekat-dekat dengan mantu Abi itu," sela umi yang dari tadi mencari suaminya ternyata justru sedang kepergok berdua-duaan di kamar mandi dengan Clovis mana keduanya telanjang, siapa saja yang melihatnya mengira bahwa menantu dan mertua itu pun tengah melakukan hal-hal yang diluar pikiran mereka.
"Udah Abi ayo buruan lanjut mandi di kamar mandi kita ajah, udah mau subuh ini sebentar lagi. Pagi-pagi bikin heboh ajah nih Abi dan Clovis ini," dengus Umi tetapi tanganya menjulur agar Abi mengikutinya. Abi pun berjalan mengikuti istrinya, untung umi datang tepat waktu kalo tidak bisa-bisa Ipek salah paham. Anaknya tadi saja matanya sudah merah seolah mau menangis.
Abi dan Umi sudah keluar dari kamar putri dan menantunya itu sedangkan Clovis yang masih di hinggapi rasa bersalah pun memeluk Ipek. "Sayang, kamu percaya kan kalo Abang itu enggak ngapa-ngapin. Abang itu tadi salah paham. Abang pikir yang ada di kamar mandi itu kamu, Baby. Karena Abang pikir masih ada waktu untuk menabur benih jadi Abang buru-buru masuk kamar mandi dan ternyata yang ada di kamar mandi bukan kamu tetapi Abi," ucap Clovis wajahnya bahkan memerah ketika mengingat adegan tadi.
"Demi Tuhan, dan demi rosulnya sayang, Abang tidak ngapa-ngapain begitu tahu bahwa yang di kamar mandi itu Abi, Abang langsung balik bandan dan mengambil handuk untuk menutupi adik abang, yang nakal ini. Pagi-pagi sudah bangun ajah mana minta jatah lagi," oceh Clovis, tetapi dalam hatinya ingin Ipek paham dengan apa yang ia katakan. Mungkin aja istrinya akan berkata ayo mumpung masih pagi, olah raga di rumah dulu sebelum joging di komplek.
"Ya udah lain kali hati hati yah kalo mau ngapa-ngapain lihat-lihat dulu, untung itu Abi. Coba kalo kalo yang mandi itu cewek cantik nan bohay, apa Abang bisa tahan, nanti malah berbuat Zina kan bahaya," ujar Ipek menasihati suaminya. Apalagi suaminya mantan casanova sehingga harus hati-hati menjaganya. Biar tidak tergoda oleh pesona perempuan penggoda di luaran sana. Namun Ipek tidak tahu bahwa suaminya itu juga sudah berjanji pada dirinya dan pada Tuhanya bahwa ia hanya mau menikah satu kali dan itu dengan Ipek.
"Tidak mungkin sayang, biarpun ada cewek cantik nan bohai Abang tidak akan mau menduakan kamu. Di hati abang sekarang hanya ada Ipek seorang. Sudah kapok Abang dihukum sama cintanya Neng Ipek." jawab Clovis sembari menatap wajah Ipek yang nanpak lebih cantik dan berseri-seri. "Eh tapi ngomong-ngomong, tadi ke kamar umi ngapain sih? Gara-gara Ipek tinggalin Abang sendirian jadi deh salah paham kan," ucap Clovis sembari terus pepeluk Ipek dari belakang, sungguh pagi ini seolah sangat tidak ikhlas apabila harus melepasĀ Ipek tetapi mau bagai mana lagi, kewajibanya sebagai seorang muslim lebih utaman.
"Abang mandi dulu ajah, terus sholat Subuh, setelah itu nanti Ipek akan kasih kabar yang sangat bahagia, pokoknya tidak pernah sebelumnya Abang merwsakan ini semua," ujar Ipek sembari mencoba melepas pelukan Clovis dan mendorong tubuh kemar suaminya ke kamar mandi. Clovis pun pasrah saja, tok memang waktu buat sholat berjamaah sebentar lagi dari pada telat, mending menjalankan kewajiban dengan Tuhan dulu. Setelah itu menagih janji istrinya tentunya.
Setelah Clovis berpamitan untuk sholat berjamaah Ipek pun mulai membungkus tes pek yang tadi ia gunakan bahkan jumlahnya ada lima, tetapi umi meminta satu untuk memberikan kejutan juga pada Abi.
Ipek juga mengingat pesan Umi kalo nanti pagi di minta mendatangi dokter kandungan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan. Agar memastikan sekai lagi, apakan ia benar-benar hamil atau belum. Mengandalkan tes pek saja tentu takut salah. Tidak jarang bendan pipih itu juga salah memberikan hasil yang akurat.
Ipek tersenyum membayangkan wajah bahagia suaminya. "Kira-kira Abang nanti gimana reaksinya yah? Apa Abang sudah siap belum dengan kabar kalo Ipek hamil?" batin Ipek, tetapi sejauh mereka menih sepertinya Clovis lebih siap dengan kehadiran buah hati. Buktinya setiap selesai menanam benih Clovia mencium perut datar Ipek dan memanjatkan doa untuk dilancarkan rezeki atas hadirnya buah hati. Malah kayaknya yang belum siap lebih ke Ipek, Clovis sudah sangat menginginkan menimang malaikat kecilnya.