Beauty Clouds

Beauty Clouds
Joging



Setelah melewati drama malas untuk joging akhirnya Ipek mau juga mengikuti suaminya untuk lari pagi. Clovis karena sudah biasa joging sehingga udara dingin di pagi hari sudah biasa dan justru dia langsung mengambil pemanasan ketika sudah keluar dari hotel. Sedangkan Ipek justru tanganya di lipat di depan dada dan bermalas-malasan. Ia tidak mau mengambil pemanasan karena memang Ipek tidak mau untuk joging, ia akan duduk saja dan melihat suaminya berolahraga. "Pemanasan dulu sayang biar kamu tidak kram nantinya," ucap Clovis sembari menyontohkan dirinya yang tengah melakukan pemanasan.


"Enggak ah Bang, ini itu dingin banget. Ipek temenin Abang olahraga ajah yah, beneran deh ini dingin banget," jawab Ipek dengan bergidik menahan rasa dinginya. Sedangkan Clovis kembali terkekeh. Terlebih ketika ia melihat jam di tanganya yang menunjukan sudah pukul setengah enam pagi, jam segitu itu sudah siang biasanya Clovis akan mulai joging sekitar jam lima pagi sampai jam tujuh pagi. Sedangkan sekarang ia telat dan hal itu karena harus merayu istrinya agar mau berolahraga pagi, tetapi sepertinya Ipek tetap dengan pendirianya ia malas berolahraga dan justru melipat tanganya dengan sangat rapih agar kulit-kulutnya tidak terkena segarnya udara pagi.


"Baik lah kalo nyoyah tidak mau berolahraga. Biar suami kamu saja yang berolahraga yah," ucap Clovis bersiap untuk lari pagi dan Ipek akan mengikuti suaminya yang sedang lari pagi, sedangkan Ipek mengekor dengan berjalan santai di belakangnya. Clovis lari keliling taman sampai keringatnya membanjiri tubuhnya tidak hanya lari Clovis juga melakukan push up, plank dan gerakan olahraga lainya. Sementara Ipek duduk di bangku taman dengan damai dan memainkan ponselnya. Sesekali Ipek juga merekam kegiatan suaminya. Ia benar-benar tidak melakukan olahraga sekali pun. Hanya jalan dari hotel ke taman saja dan itu pun sudah luar biasa perjuanganya. Ipek yang tidak biasa berolahraga sangat malas untuk mengikuti jejak suaminya itu. Lebih baik tidur di rumah dari pada bercape-cape olahraga itu.


Namun Ipek sangat suka ketika melihat Clovis berolahraga, terlebih keringatnya sampai bercucuran dan perut kotak-kotaknya membentuk di baju yang sudah mulai basah. "Aduh suami aku s*ksi banget sih. Jadi pengin buru-buru pulang ke hotel kalo lihat yang kaya ginian terus," gerutu Ipek, sembari terus memperhatikan Clovis yang sedang berolahraga.


Clovis menghampiri Ipek dan berniat ingin minum. "Kenapa Bang?" tanya Ipek yang melihat Clovis datang menghampiri dirinya. "Pengin minum Beb, haus," ucap Clovis sembari memegangi tenggorokanya menandakan bahwa dirinya haus.


Ipek pun segera membukakan air mineral yang memang sebelumnya mereka sudah membelinya. Clovis duduk dan meminum air meneral yang sudah dibukakan oleh Ipek. Padahal hanya minum air meneral tetapi di mata Ipek Clovis semakin tampan dan berkarisma. Ipek pun mengelap keringat yang ada di wajah tampan suaminya itu.


Clovis tersenyum dengan menggoda ketika Ipek mengahadap kearah dirinya dan mengelap keringat yang keluar dari tubuhnya dengan handuk kecil yang selalu Clovis bawa ketiga berolahraga itu.


"Bang padahal baru kemarin yah kita nikah tapi rasanya Abang bikin jatuh cinta terus-terusan. Ini Ipek yang terlalu lebay atau memang karisma Abang yang bikin Ipek terhipnotis oleh Abang sih. Untung Abang olahraganya di tempat umum jadi Ipek bisa nahan coba kalo di tempat tertutup pasti Ipek minta... (Ipek tidak melanjutkan kata-katanya karena ia keburu sadar dengan apa yang ia katakan barusan tidak seharusnya di katakan oleh dirinya. Padahal tidak apa-apa Pek kalo ingin duluan. Zawa malah selalu minta duluan dan suami justru senang apabila istrinya berinisiatif meminta duluan hehehe....)


"Minta apa hayo, hah... Mau minta apa kalo di ruangan tertutup?" tanya Clovis dengan senyum mengembang di wajahnya, yah Clovis tentu tahu apa maksud Ipek meminta... Walaupun Ipek tidak melanjutkanya tetapi Clovis tahu ke mana arah pembicaraan istrinya itu.


Ipek tidak menjawab ucapan Clovis, justru ia menutup wajahnya karena malu. Ia keceplosan karena melihat betapa per'kasanya suaminya dalam berolahraga sehingga bicaranya tidak terkontrol.


"Ah, maaf Abang tadi Ipek keceplosan dan tidak lagi-lagi deh Ipek ngomong kaya gitu," jawab Ipek masih dengan wajah merah merona yang justru menggoda Clovis. Sungguh Clovis juga kalo tidak ingat Ipek di ga'uli masih pera'wan pasti dia akan seret pulang ke hotel dan menghukum istrinya sampai tidak bisa berjalan. Sayang Clovis terlalu sayang sana Ipek sehingga tidak mau melukai dan menyakiti istrinya yang ia harus dapatkanya dengan bersusah payah.


Di mana rintangan untuk mendapatkan istri seperti Ipek sangat berat. Tidak hanya itu Clovis pun mendapatkan yang belum pernah di dapatkanya seumur hidupnya walaupun dia sudah puluhan meniduri wanita dari yang putih sampai yang berkulut sawo matang semuanya tidak ada yang pera'wan. Baru Ipek yang masih perawan dan hal itu Clovis sangat merasa di haragai oleh istrinya itu.


"Tidak apa-apa Ipek sayang, kalo kamu mau, dan meminta duluan itu pahalanya besar kok, dan Abang juga suka kalo Ipek berinisiatif meminta duluan. Pasti Abang akan kasih asalkan kamu memintanya di tempat yang pas. Kayak di kamar, hotel atau kalo lagi hanymoon, kalo di tempat umum kaya gini minta ya Abang nggak akan kasih," kekeh Clovis dengan membelai wajah Istrinya yang biarpun tidak menggunakan make up tetapi tampak cantik dan memikat.


Ipek tersenyum dengan malu-malu. "Kalo gitu, kalo nanti Ipek pengin. Ipek boleh meminta duluan sama Abang?" tanya Ipek dengan malu-malu. Ini adalah kali pertama Ipek berbicara yang sedikit menjurus ke hal-hal yang tabu. Dia dulu dengan Wahid tidak pernah membicarakan hal semacam itu. Kalo berkomunikasi ya sekedar bercerita kerjaan dan Ipek pun sama akan bercerita tentang hafalan surat dan lain sebagainya. Baru dengan Clovis ia sedikit terbuka dengan hal-hal yang terbuka semacam itu sehingga Ipek masih merasakan malu, tetapi Clovis suka melihat wajah malu-malu istrinya itu. Terlebih kalo pipinya Ipek sudah berubah menjadi merah merona, rasanya ingin menciumnya saat ini juga.


Clovis menahan senyum sepanjang berbicara dengan Ipek. " Boleh, boleh banget kalo Ipek mau meminta duluan. Malah Abang sangat senang kalo Ipek berinisiatif meminta duluan untuk berhubungan suami istri. Bukan hanya Abang senang tetapi juga pahalanya berlipat-lipat ganda," jawab Clovis, sengaja di tambahkan pahala yang lebih banyak hal itu biar Ipek mau meminta duluan. Kan untung kalo istri meminta duluan.


"Baik lah kalo gitu, nanti Ipek mau minta duluan yah," balas Ipek kali ini sudah tidak semerah tadi wajahnya. Clovis pun setelah beristirahat dan keringat yang tadi membanjiri wajahnya sudah kering karena di bersihkan oleh Ipek.


Clovis kembali lari pagi berputa-putar taman satu kali permainan lagi sampai nanti mereka akan mencari jajanan sesuai janjinya tadi pada Ipek di kamar hotel.


Ipek pun kembali duduk dengan tenang, memainkan ponselnya dan sesekali membidik gambar Clovis yang tengah berolahraga dan juga merekam kegiatan suaminya pagi ini. Biar nanti kalo Clovis kerja Ipek kalo kangen bisa memutar vidio yang ia rekam barusan. Ponsel Ipek pun sudah banyak menyimpan gambar suaminya dari foto maupun vidio. Padahal Ipek baru satu hari menjadi istri gimana kalo satu tahun. Ponselnya benar-benar penuh dengan rekaman suaminya yang tengah berolahraga.